Kekuasaan dan Ketidakpastian dalam Musik Akhir Zaman

ilustrasi Kekuasaan dan Ketidakpastian dalam Musik Akhir Zaman

Judul Buku: Musik Akhir Zaman
Penulis:
 Kiki Sulistyo
Penerbit: Indonesia Tera
Tahun Terbit: 2024
Cetakan: Cetakan pertama
Tebal: 183 halaman
ISBN: 978-979-775-333-7
Kategori Buku: Kumpulan cerpen (cerita pendek)

Buku Musik Akhir Zaman merupakan kumpulan cerpen terbaru dari Kiki Sulistyo, sastrawan Indonesia yang sudah melintas berbagai genre dan penghargaan. Berbeda dengan beberapa buku cerpen sebelumnya, kumpulan ini lahir dari proses yang panjang dan kolaboratif dengan penerbit, sehingga cerpennya disusun ulang bersama editor sebelum terbit pada awal 2024.

Sebagai kumpulan cerpen, buku ini tidak berjalan sebagai narasi tunggal atau plot tradisional yang mudah ditangkap. Alih-alih itu, setiap cerpen menghadirkan fragmen pengalaman, simbol, dan imaji yang memaksa pembaca untuk terus berpikir dan mengaitkan ungkapan-ungkapan tekstual yang tampaknya terpisah.

Pendekatan semacam ini sering membuat pembaca merasa diseret masuk ke dalam medan ketidakpastian naratif, sebuah strategi yang bukan sekadar gaya, tetapi juga tuntutan pikir terhadap realitas yang dibicarakan.

Tema dominan yang muncul dari banyak cerpen adalah trauma dan kekuasaan, bagaimana pengalaman individual berkaitan erat dengan struktur sosial dan sejarah yang melampaui personalitas tokoh.

Beberapa cerita menggunakan figur-figur dan nama-nama yang sarat memori sejarah atau budaya pop, dari nama-nama tokoh terkenal hingga simbol-simbol perlawanan dan kekerasan, yang kemudian bekerja bukan sebagai rujukan literal, tetapi sebagai bentangan makna untuk menghadirkan rasa zaman yang “akhir”.

Pemilihan judul Musik Akhir Zaman sendiri mengisyaratkan suasana final atau klimaks dalam kehidupan manusia, sebuah penghujung yang mengundang refleksi tentang hubungan antara kematian, suara, dan makna.

Dalam suatu era di mana narasi populer cenderung memuja alur linear, kejelasan makna, dan resolusi yang memuaskan, Musik Akhir Zaman muncul sebagai sebuah penantangan terhadap kebiasaan tersebut.

Kumpulan cerpen ini bukan hanya sekadar kumpulan cerita pendek biasa, melainkan juga semacam medan refleksi tentang trauma, kekuasaan, dan jejak sejarah yang tak kunjung usai dalam pengalaman manusia modern.

Dalam banyak hal, karya ini mewakili sebuah kesadaran bahwa akhir zaman tidak selalu berwujud apokaliptik literal, tetapi lebih sering hadir sebagai serangkaian getaran batin yang terus menggema dalam relasi individu dengan dunianya.

Pertama kali membuka buku ini, pembaca dapat merasakan bahwa penulis tidak berniat menyuguhkan narasi yang mudah dicerna. Teknik penceritaan yang dipilih Kiki Sulistyo sering kali bersifat non-linier, penuh simbol, dan terkadang sengaja membingungkan, bukan untuk mengaburkan pesan, tetapi untuk memaksa pembaca aktif mengaitkan pengalaman pembacaan dengan kehidupan nyata.

Teknik ini tidak tanpa konsekuensi, suasana yang dibangun sering kali mengundang rasa “tidak nyaman”, tetapi ketidaknyamanan itulah yang menjadi bahan bakar untuk berpikir lebih jauh.

Tema yang berulang dalam cerpen-cerpen ini adalah kekerasan sebagai instrumen kekuasaan serta dampaknya terhadap ingatan kolektif. Nama-nama seperti Harto, Ramos Horta, Van Ham, Anton Chekhov, sampai tokoh-tokoh yang terinspirasi dari fenomena sejarah dan budaya populer muncul tak hanya sebagai hiasan semata, tetapi sebagai representasi dari dunia yang diliputi oleh luka dan memori yang tidak selesai.

Narasi-narasi ini bergerak di antara realisme dan metafiksi, dan melalui persimpangan tersebut, pembaca dihadapkan pada pertanyaan tentang apa artinya menjadi manusia yang hidup di bawah bayang-bayang kekuasaan. Salah satu cerpen yang memberi gambaran tajam tentang hal ini adalah “Musik Akhir Zaman” sendiri, yang menjadi judul dan penutup buku.

Dalam cerpen tersebut, simbol terompet hari kiamat, yang berasal dari tradisi keagamaan, ditafsir ulang. Alih-alih sekadar sebagai pengumum akhir dunia, terompet menjadi metafora tentang bagaimana tindakan manusia, khususnya kekerasan terhadap makhluk hidup, dapat memiliki implikasi luas bagi lingkungan dan eksistensi bersama.

Cerita ini bukan saja menggugah karena simbolismenya, tetapi juga karena ia menghubungkan kisah individual dengan narasi kolektif tentang tanggung jawab moral manusia terhadap ciptaan lain.

Kumpulan cerpen ini juga menunjukkan kecermatan penulis dalam merangkai ketidakpastian. Ada cerita yang berakhir tanpa jawaban tegas, alur yang berpindah-pindah sudut pandang, hingga penggunaan elemen-elemen surreal yang bercampur dengan realitas sehari-hari.

Strategi naratif semacam ini sama sekali bukan sekadar permainan gaya, tetapi mengindikasikan sebuah keyakinan bahwa pengalaman hidup tidak selalu linier, tidak selalu masuk akal, dan sering kali menuntut pembacaan ulang agar maknanya sepenuhnya terungkap.

Lebih jauh lagi, melalui karya ini, Kiki Sulistyo seolah menyampaikan bahwa apa yang sering kita sebut sebagai “akhir zaman” mungkin bukanlah suatu titik kosmik yang jauh di angkasa, melainkan sebuah kondisi antropologis; ketika manusia merasa asing terhadap dirinya sendiri dan lingkungannya, ketika trauma kolektif mengikis ruang-ruang sosial kita, dan ketika kekuasaan dipraktikkan tanpa pertanggungjawaban moral.

Cerpen-cerpen dalam buku ini adalah lukisan-lukisan kecil mengenai fenomena-fenomena tersebut; masing-masing otentik sekaligus ambigu, dan oleh karena itu menuntut pembaca untuk berpikir, bukan sekadar membaca.

Namun kekuatan terbesar Musik Akhir Zaman justru bukan pada keterbacaan atau kejelasan pesan, melainkan pada kemampuannya memicu pertanyaan. Dalam era di mana kita sering mencari jawaban instan, baik dalam literatur populer maupun dalam kehidupan sosial, buku ini berdiri sebagai pengingat bahwa beberapa pertanyaan paling penting tentang kekuasaan, trauma, dan kemanusiaan justru muncul dari ketidakpastian itu sendiri.

Membaca kumpulan cerpen ini bukan sekadar pengalaman naratif, tetapi pengalaman intelektual dan etis. Ia menantang pembaca untuk menimbang kembali pemahaman tentang dunia yang semakin kompleks, di mana batas antara realitas dan simbol semakin kabur, dan di mana sejarah kolektif terus memberi jejak terhadap cara kita melihat masa kini.

Dalam hal ini, Musik Akhir Zaman bukan sembarang buku cerpen; ia adalah cermin yang memantulkan kembali gejolak zaman kita sendiri, dalam irama yang kadang sunyi, kadang gaduh, tetapi selalu mengajak kita untuk berfikir lebih jauh. [AA]

13

Pengajar Sastra di Sekolah Progresif Bumi Shalawat, Sidoarjo, Jawa Timur

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.