Fatimah al-Fihri: Perempuan Pelopor Universitas Tertua di Dunia

Dalam sejarah peradaban Islam, banyak tokoh perempuan yang memberikan kontribusi besar, namun jarang dikenal luas. Salah satunya adalah Fatimah al-Fihri, seorang perempuan dari abad ke-9 yang tercatat sebagai pendiri universitas tertua di dunia yang masih beroperasi hingga kini, yaitu Universitas al-Qarawiyyin di Fez, Maroko. Di tengah keterbatasan peran perempuan pada zamannya, Fatimah menunjukkan bahwa ilmu, ketekunan, dan keimanan dapat menjadi fondasi perubahan besar yang menginspirasi dunia hingga hari ini.

Siapa Itu Fatimah al-Fihri?

Fatimah binti Muhammad al-Fihri merupakan perempuan kelahiran Kairouan, Tunisia, pada awal abad ke-9 Masehi. Kota kelahirannya saat itu dikenal sebagai pusat ilmu dan budaya di dunia Islam. Ia lahir dari keluarga yang kaya dan taat beragama. Ayahnya, Muhammad al-Fihri, adalah seorang saudagar sukses yang kemudian membawa keluarganya menetap di kota Fez, Maroko. Pada masa itu, Fez berkembang pesat sebagai pusat perdagangan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan di bawah kekuasaan Dinasti Idrisiyah (Merah Souad, 2017).

Fatimah dan saudarinya, Maryam al-Fihri, hidup dalam kenyamanan finansial dan memperoleh pendidikan yang baik, terutama dalam bidang agama, bahasa Arab, dan ilmu-ilmu dasar. Hal ini mencerminkan budaya Islam pada masa itu yang menekankan pentingnya pendidikan, baik bagi laki-laki maupun perempuan.

Namun, tak lama setelah menetap di Fez, Fatimah kehilangan hampir seluruh anggota keluarganya. Ayah, suami, dan saudaranya wafat dalam waktu yang berdekatan. Sebagai ahli waris tunggal, Fatimah menerima harta yang melimpah. Alih-alih menggunakannya untuk kepentingan pribadi, ia memilih untuk mengabdikan kekayaannya demi kepentingan umum.

Kontribusi bagi Dunia Islam dan Barat

Fatimah al-Fihri mendirikan Universitas al-Qarawiyyin di Fez pada tahun 859 Masehi. Universitas ini awalnya berupa masjid besar yang juga menjadi tempat belajar ilmu agama. Fatimah menggunakan seluruh hartanya untuk membangun tempat ini dan bahkan berpuasa sepanjang masa pembangunan sebagai bentuk ibadah dan pengorbanan. Dalam buku Sejarah Peradaban Islam dari Masa Klasik Hingga Modern, disebutkan bahwa tempat ini secara resmi menjadi universitas pada tahun 1963 Masehi (Siti Maryam, 2003).

Nama “al-Qarawiyyin” diambil dari kota asalnya, Kairouan, sebagai bentuk penghormatan. Seiring waktu, tempat ini berkembang menjadi pusat pendidikan tinggi yang mengajarkan berbagai ilmu, seperti hukum Islam, matematika, astronomi, kedokteran, bahasa Arab, dan logika.

Menurut Eamonn Gearon (2016), universitas ini menjadi salah satu yang pertama di dunia yang memberikan ijazah resmi, dan pengaruhnya sangat besar, bahkan hingga ke Eropa pada masa Renaisans. Banyak tokoh besar belajar di sana, termasuk Ibn Khaldun, Ibn al-‘Arabi, dan Maimonides. Bahasa Arab di universitas ini menjadi jembatan antara ilmu dari Yunani, Islam, dan Barat. Hingga kini, Universitas al-Qarawiyyin masih aktif dan diakui sebagai universitas tertua di dunia oleh UNESCO dan Guinness World Records.

Perempuan dalam Dunia Ilmu

Yang luar biasa dari kisah Fatimah adalah bagaimana ia menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran vital dalam pengembangan pendidikan dan ilmu pengetahuan di dunia Islam klasik. Pada masa ketika Eropa masih terjebak dalam Abad Kegelapan, perempuan Muslim seperti Fatimah sudah menjadi pelopor lembaga pendidikan tinggi.

Kisah Fatimah juga menegaskan bahwa Islam, bertentangan dengan banyak asumsi modern, tidak menutup ruang bagi perempuan untuk menjadi tokoh masyarakat. Fatimah menunjukkan bahwa selama seseorang memiliki kapasitas dan tekad, maka ia dapat memberi kontribusi besar. Oleh karena itu, keberanian dan kebijaksanaan Fatimah al-Fihri menjadi teladan bahwa perempuan tidak hanya dapat berperan, tetapi juga menjadi penggerak utama perubahan sosial.

Fatimah al-Fihri wafat sekitar tahun 880 Masehi, tetapi namanya tetap dikenang sebagai simbol kekuatan, ketekunan, dan dedikasi terhadap ilmu dan masyarakat. Ia adalah bukti bahwa visi besar dan niat yang tulus dapat meninggalkan warisan yang melampaui zaman.

2

Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an dan Sains (STIQSI)

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.