Muhammad Amin Alumni Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Pembaruan Pendidikan Agama Di Era Globalisasi

3 min read

kompasiana.com

Pendidikan agama (khususnya Islam) tidak harus sama seperti era terdahulu apalagi era klasik-skolastik dan salaf yang mana ketika itu dunia pergaulan, ekonomi, budaya, media, informasi dan teknologi belum berkembang pesat seperti saat ini.

Memang kemajuan sains dan teknologi membawa kenyamanan dan kemudahan hidup bagi umat manusia tetapi ia juga ditengarai sebagai akibat dari melebarnya ketimpangan perekonomian antara negara-negara kaya dan negara-negara miskin. Alat transportasi yang juga semakin cepat dan canggih berdampak pada hilangnya jarak antara satu wilayah dan wilayah lainnya.

Akibatnya pergesakan kultur dan budaya antara satu dan lainnya tidak dapat terhindarkan dan bahkan hampir-hampir tidak lagi mengenal batas-batas geografis oleh karenanya dunia saat ini disebut sebagai desa global (global village). Perkembangan sosial media dewasa ini terasa sangat pesat seperti facebook, twitter, youtube, instagram, WA, tik tok dan lain sebagainya. Kemajuan informasi dan teknologi itu bisa saja membuat generasi milenial memperoleh pengetahuan lebih cepat dan lebih banyak daripada guru yang biasanya masih menggunakan cara-cara konvensional.

Manusia yang hidup di era ilmu pengetahuan dan teknologi seperti sekarang ini tak terkecuali umat Islam, harus sepenuhnya menyadari bahwa dia hidup di ruang dan waktu yang tidak lagi sama seperti 50 atau 100 tahun yang lalu. Dulu belum pernah terbayangkan bahwa seseorang yang berjauhan secara geografis dapat bertatap muka secara langsung melalui Video Call, belum juga terlintas dalam benak seseorang untuk melakukan transaksi menggunakan uang digital.

Belanja online, kursus/belajar online, transportasi online, industri kecantikan yang semakin menuntut, endorse di sosial media yang begitu gencar. Semua itu sebelumnya belum pernah terpikirkan dan belum seganas  dan mendikte seperti saat ini.

Baca Juga  Islam dan Teologi Pembebasan, Spirit dalam Perjuangan Agraria

Dulu siapa yang dapat membayangkan jika seseorang dapat memesan dan membayar makanan hanya menggunakan suatu aplikasi melalui smartphone. Mundur lebih jauh lagi, dulu siapa yang bisa mengira bahwa seseorang dapat menghabiskan sarapan di Jakarta, makan siang di Tokyo dan dinner di Beijing. Itu semua belum seramai dan sedahsyat ini bahkan boleh jadi belum juga terlintas dalam benak seseorang.

Pertanyaan kritis-apresiatif yang kemudian harus muncul ke permukaan adalah apakah pendidikan agama (Islam) maupun tenaga pengajar masih harus sama dengan cara 50-100 tahun yang lalu ketika dunia internet dan teknologi belum berkembang dan masyarakat belum semajemuk seperti sekarang ini? Apa yang memang dapat diteruskan dan diwariskan kepada generasi milenial? Dan apa pula yang sudah tidak relevan untuk diteruskan dan diwariskan pada generasi milenial?

Menyadari tantangan dunia yang semakin modern para pendidik (orang tua, tokoh panutan, kiai, mubaligh, pendeta, biksu, pastur, pimpinan ormas, guru, dosen dan seterusnya) harus berusaha keras untuk menjadikan dan membentuk pribadi generasi milenial dan masyarakat pada umumnya agar tidak mudah berubah lantaran terkontaminasi oleh virus modernitas yang semakin mencekam.

Pendidikan Agama Bagi Generasi Milenial

Pada era klasik dahulu seseorang bisa menahan diri dari pengaruh luar dengan cara menyendiri (uzlah). Kita tentu masih ingat bahwa nabi Muhammad pernah menyendiri ke gua hira untuk memikirkan dan menghindari bangsa arab jahiliyah ketika itu yang menderita penyakit sosial seperti primordialisme, senang berperang, membunuh bayi perempuan, dan lain sebagainya.

Namun, di era modern seperti saat ini beruzlah dalam pengertian salaf-skolastik tidak memungkinkan lagi. Pendidikan agama pada era modernitas harus memasuki wilayah moralitas publik, dikarenakan sumber kejahatan moral bukan lagi bersumber dari satu individu-individu melainkan berpindah ke jaringan struktur kelompok yang lebih kompleks.

Baca Juga  Sumbangsih Aksara Jawi: Lingua Franca di Asia Tenggara

Dalam perspektif kehidupan sosial-kemasyarakatan globalisasi memang memiliki nilai-nilai yang cukup mengkhawatirkan bagi keutuhan masyarakat majemuk dan plural. Ketika beberapa tahun belakangan ramai isu perdagangan bebas dalam kawasan Asean yakni Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) maka akan terjadi persaingan yang kompetitif antara bangsa-bangsa khususnya di wilayah Asia Tenggara.

Bangsa yang lebih maju dan siap untuk mengahadapi MEA akan bertahan dan survive sedangkan negara-negara miskin akan menjadi “mangsa” dan pasar yang strategis bagi negara-negara tetangga yang lebih maju. Semangat mengalahkan orang, bangsa, suku, etnis dan agama lain akan semakin mengeras. Dalam konteks tersebut bukan tidak mungkin “hukum rimba” akan kembali berlaku.

Nilai-nilai kebaikan universal yang menekankan kesejahteraan, kesederhanaan, toleransi, dan siap berkorban untuk orang lain secara perlahan-lahan akan menghilang sebagai gantinya orang (kelompok orang) akan lebih mementingkan dan mengutamakan nilai-nilai dan pola perjuangan yang bersifat kubu-kubuan dan blok-blokan yang di dalamnya tidak menutup kemungkinan akan terselip kepentingan-kepentingan.

Jika semua itu terjadi, maka pertentangan, pertikaian, perkelahian dan konflik tidak dapat dihindarkan dan akan bermunculan silih berganti demi mengejar dan mempertahankan kepentingan kelompok, suku, ras, agama, bangsa dan negaranya masing-masing. Kehidupan masyarakat menjadi kaku, rigid dan intoleran.

Menurut guru besar UIN Sunan Kalijaga, Prof. Dr. M Amin Abdullah dalam menghadapi situasi konfilk seperti itu generasi milenial bangsa Indonesia harus disiapkan dan diberi bekal sedini mungkin. Paradigma pendidikan yang hanya mementingkan aspek pengembangan kognitif (to know), pemberian keterampilan (to do), dan perbaikan moral individual (to be) sudah tidak cukup lagi untuk mengahadapi permasalahan yang lebih kompleks sekarang ini.

Ketiga paradigma pendidikan tersebut tidak dapat lagi memenuhi tuntutan era globalisasi dan modernisasi oleh karenananya perlu ditambahkan dalam masyarakat dan dalam diri generasi milenial upaya untuk mengedepankan nilai-nilai yang mendukung kehidupan damai antar umat dan kelompok manusia yaitu nilai untuk hidup berdampingan bersama (to live together).

Di samping itu perlu pula ditanamkan kepada keduanya nilai-nilai inklusifisme atau merangkul orang atau kelompok lain ke dalam pangkuan dan keluarga sendiri karena semua permasalahan yang ada di era globalisasi dan modernisasi tidak dapat dijelaskan, diselesaikan dan diantisipasi melalui pengajaran agama yang hanya mementingkan keselamatan individual secara eksklusif semata.

Muhammad Amin Alumni Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta