Lutfi Maulida Saat ini aktif di Komunitas Puan Menulis dan Komunitas Santri Gus Dur Yogyakarta.

Kelas Pranikah, Upaya Penyusupan Paham Ekstrem dan Bagaimana Solusinya

3 min read

Beberapa waktu lalu saya bertemu dan berbagi cerita bersama salah seorang teman. Ia bercerita mengenai beberapa hal yang ia lakukan untuk mempersiapkan pernikahannya. Satu hal menarik yang ia keluhkan adalah mengenai bujukan (calon) kakak iparnya untuk mengikuti sebuah kelas pranikah.

Kala itu saya menanggapi dengan santai bahwa ide itu tidak terlalu buruk. Mengingat bahwa berkeluarga itu membutuhkan banyak pengetahuan dan harus dipersiapkan sematang mungkin. Salah satu upaya mempersiapkan diri membangun rumah tangga adalah dengan mengikuti kelas pranikah.

Demi menghindari konflik dengan (calon) kakak iparnya, teman saya akhirnya mendaftarkan diri dan telah mengikuti kelas pranikah tersebut sebanyak lima kali. Durasi kelas diadakan selama lima minggu dengan frekuensi pertemuan sebanyak tiga kali setiap minggu. Bukannya merasa tercerahkan, teman saya mengaku merasa tidak nyaman mengikuti kelas tersebut.

Usut punya usut, ternyata kelas pranikah yang direkomendasikan oleh (calon) kakak ipar teman saya itu banyak mengajarkan paham-paham ekstrem dan cenderung menyubordinasikan peran perempuan dalam rumah tangga. Kajian-kajian yang disampaikan ustaz dalam kelas kebanyakan adalah doktrinasi kepada para calon pengantin perempuan untuk menjadi istri yang taat sepenuhnya kepada suami. Mulai dari jago melayani suami di atas ranjang dan jago mengurus pekerjaan rumah termasuk membuat masakan yang enak.

Setidaknya itu beberapa hal yang dirasa teman saya sangat mengganggu. Teman saya memperlihatkan salah satu video ceramah ustaznya. Sang ustaz tengah membahas tentang kewajiban istri untuk senantiasa taat kepada suami. Di ujung video, sang ustaz berkata bahwa seorang istri itu harus taat dan mengikuti ke mana pun suaminya pergi serta apapun yang suami inginkan. Pokoknya istri itu harus ngekor saja.

Apalagi jika sang suami nantinya mengajak istri untuk menjadi ‘pengantin’ lagi. Dan pengantin yang dimaksud sang ustaz ternyata adalah menjadi jihadis dan pengantin bom bunuh diri. Lalu dengan entengnya, setelah melontarkan statemen tersebut sang ustaz mengatakan bahwa itu hanyalah candaan.

Baca Juga  Obituarium Sayyidah Khadijah: Keabadian Cinta dan Tonggak Perjuangan Perempuan

Itu hanyalah secuil cerita mengenai bagaimana kelompok-kelompok ekstremis-radikal berupaya menjangkau kalangan muda-mudi yang hendak menikah untuk menanamkan bibit-bibit paham ekstremisme. Mereka membuka kelas-kelas pranikah yang terkesan modern, anak muda banget dan tentunya Islami. Meski narasi-narasi yang disampaikan di dalamnya tidak jauh dari bibit paham ekstremis.

Mengapa saya mengatakannya sebagai upaya penanaman bibit-bibit paham ekstremisme?

Karena materi yang disampaikan dalam kelas pranikah tersebut sekilas terlihat tidak perlu dikhawatirkan. Tetapi sebenarnya bisa berdampak besar di kemudian hari. Seperti contoh dari cerita teman saya yang mengikuti kelas pranikah dan didoktrin untuk taat sepenuhnya kepada suami, tanpa diajarkan untuk menimbang sendiri mengenai value tindakan suami.

Perlu digarisbawahi bahwa menyuruh seorang istri untuk taat dan patuh apapun tindakan dan perintah suami, itu berbeda dengan menyuruh istri untuk taat pada suaminya selama suami masih dalam koridor kemaslahatan. Apalagi jika dasar argumen yang digunakan adalah penafsiran ayat Al-Qur’an, maka hal tersebut sama artinya dengan menyemaikan bibit pemahaman agama yang ekstrem.

Situasi ini tentu berbahaya mengingat bahwa target kelas pranikah adalah muda-mudi yang hendak membangun rumah tangga, membangun keluarga. Sementara keluarga adalah unit sosial terkecil dalam sistem sosial di mana generasi bangsa pertama kali tumbuh dan berkembang.

Sebagai unit sosial terkecil, peran orang tua (suami istri) tentu besar sekali terhadap pemahaman keberagamaan anak. Jika sejak awal (calon) orang tua muda sudah dijejali pemahaman yang ekstrem dan ekslusif di kelas-kelas pranikah, hal tersebut bisa berpengaruh terhadap pola pengasuhan dan pendidikan para orang tua tersebut di kemudian hari.

Calon pengantin mengikuti kelas pranikah karena ingin mencari tahu, mempelajari hal-hal yang belum mereka ketahui mengenai rumah tangga dan keluarga. Jika pemahaman dan pengetahuan yang mereka dapatkan dari kelas-kelas pranikah tersebut adalah paham-paham ekstremis, sementara mereka tidak punya kapasitas untuk meng-counter pemahaman ekstrem tersebut, maka yang terjadi selanjutnya adalah para orang tua muda itu kemungkinan besar akan mewariskan pemahaman ekstremnya kepada putra-putrinya kelak.

Baca Juga  Feminisme Pancasila: Menelusuri Kiprah Ibu Sinta Nuriyah (Bag-2)

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh INFID dan Jaringan GUSDURian Indonesia pada tahun 2016 menyimpulkan bahwa bagi anak muda, orang tua adalah agen yang paling dipercaya dalam hal nilai-nilai kehidupan dan keagamaan. Peran orang tua dalam penanaman nilai kepada anak diyakini berpengaruh besar pada tingkat ketangguhan anak di tengah paparan nilai-nilai ekstremisme dan eksklusivisme agama.

Jenjang kemaslahatan berawal dari individu muslim dan muslimah. Kemudian berlanjut dalam keluarga yang sakinah, dapat membentuk masyarakat yang ideal (khaira ummah). Yang kemudian dapat mengantarkan menuju cita-cita kemaslahatan umat yang lebih besar yakni baldatun thoyyibah (negara makmur) sebagai anugerah semesta (rahmatan lil ‘alamin).

Tidak terbayangkan jika di masa depan nanti, jika kelas-kelas pranikah semacam itu masih laku dan menjamur. Berapa banyak calon pengantin, calon orang tua yang akan terpapar paham ekstrem di masa depan? Berapa banyak calon anak yang bisa jadi ikut terpapar ekstremisme dari orang tuanya?

Jenjang kemaslahatan berawal dari individu muslim dan muslimah. Kemudian berlanjut dalam keluarga yang sakinah, dapat membentuk masyarakat yang ideal (khaira ummah). Yang kemudian dapat mengantarkan menuju cita-cita kemaslahatan umat yang lebih besar yakni baldatun thoyyibah (negara makmur) sebagai anugerah semesta (rahmatan lil ‘alamin).

Tentu hal ini perlu menjadi perhatian khusus bagi kita bersama, khususnya bagi pemerintah ataupun otoritas terkait pencegahan dan penanggulangan ekstremisme serta radikalisme. Saatnya upaya pencegahan penyebaran paham esktrem di sektor keluarga muda serta anak muda yang dalam masa pranikah juga mendapat porsi perhatian yang lebih besar.

Salah satu upaya membendung ekstremisme dan radikalisme adalah melalui pendidikan dan pengasuhan dalam keluarga. Guna mewujudkan hal tersebut maka dibutuhkan peningkatan kapasitas orang tua yang memadahi dalam pengasuhan anak remaja yang secara khusus fokus pada pencegahan radikalisme, ekstremisme maupun eksklusivisme beragama.

Baca Juga  Antara Jilbab dan Kemaslahatan Perempuan

Regulasi terkait kelas pranikah yang mengajarkan nilai-nilai beragama secara moderat dan membangun keluarga berdasarkan prinsip keluarga maslahah perlu digaungkan lebih nyaring. Jangan sampai calon pengantin yang bersemangat menimba ilmu agama dan berkeluarga malah menjadi mangsa empuk kelompok-kelompok ekstrem dan radikal.

Para calon pengantin, calon orang tua, perlu diberikan pemahaman yang baik dan benar mengenai nilai-nilai keluarga maslahah. Pencegahan ekstremisme dan radikalisme harus disertakan dalam materi setiap kelas pranikah.

Dari sisi calon pengantin pun dapat lebih berhati-hati dan waspada dalam memilih kelas pranikah maupun ustaz atau mentor yang memberikan materi. Pastikan bahwa kelas yang hendak diikuti bersih dari kepentingan ekstremis. Jangan sungkan untuk bertanya kepada Lembaga atau tokoh masyarakat terpercaya yang sekiranya dapat membantu mencarikan kelas pranikah yang lebih moderat.

Menuju cita-cita yang besar tentu diawali dari langkah-langkah kecil. Langkah kecil calon pengantin untuk memilih kelas pranikah yang moderat, akan mendukung langkah selanjutnya yang lebih besar. Wallahu a’lam. (mmsm)

Lutfi Maulida Saat ini aktif di Komunitas Puan Menulis dan Komunitas Santri Gus Dur Yogyakarta.