Muhammad Bakhru Thohir Penggerak Komuitas Gusdurian Jogja

Bagaimana Sebenarnya hubungan Agama Dan Sains yang Saling Mendukung?

3 min read

Source: hoaxes.id

Meskipun tidak seharusnya terjadi, tapi pada kenyataannya agama dan sains seringkali dipertentangkan. Sejarah perkembangan manusia juga telah mencatat kisah saling serang antara kalangan agama dan sains. Bahkan, pernah terjadi darah manusia tumpah karena perselisihan antara agama dan sains. Seolah-olah memang dua hal ini sulit untuk disatukan.

Perselisihan ini karena karakter dasar yang dimiliki agama besifat dogmatis atau tetap semantara sains bersifat tentatif atau selalu berubah-ubah setiap waktu. Tidak ada ideologi dalam sains kecuali percaya pada metode sains itu sendiri, sementara agama memiliki banyak sekte dalam setiap bidangnya.

Kepercayaan pada kebenaran agama bersifat tetap, kebenaran yang dimiliki hanya disesuaikan dengan lokasi dan waktu di mana agama itu tumbuh. Misalnya soal salat, sampai kapanpun dalil tentang salat akan tetap dan selamanya, juga hukumnya adalah wajib. Tidak ada suatu apapun yang bisa membuat hukum dasar salat berubah, hanya kondisi dan waktu yang akan membuat hukum salat termodifikasi, misalnya saat ada Corona seperti saat ini. Kewajiban salat akan tetap wajib, hanya saja pelaksanaannya yang diubah menjadi sendiri-sendiri.

Sementara kepercayaan pada kebenaran sains tidak bisa dipegang selamanya. Sains selalu terbuka pada peluang-peluang revisi kapan pun. Taruhlah kepercayaan manusia pada gravitasi. Dulu, saat Newton pertama kali mencetuskan gravitasi ia menyebut bahwa gravitasi adalah sebuah gaya, selain itu Newton juga masih mempercayai bahwa materi dan ruang adalah suatu yang berbeda.

Namun, dalil itu bisa berubah bahkan benar-benar tidak terpakai ketika muncul penemuan-penemuan baru seperti yang terjadi pada awal abad 20 dalam kerja yang dilakukan Einstein. Apa yang dilakukan Einstein kemudian menyempurnakan bahkan menolak apa yang selama ini dipercaya dalam koridor ilmu gravitasi.

Baca Juga  The Show Must Go On

Einstein menyebut bahwa medan gravitasi bukanlah menyebar melalui ruang, tetapi gravitasi adalah ruang itu sendiri. Sehingga, mulai saat itu, ruang dan materi bukanlah sesuatu yang berbeda, karena ruang adalah salah satu komponen material. Apa yang kita percayai saat ini tentang kebenaran sains, suatu saat bisa jadi benar-benar tak berguna karena memang begitulah cara sains berkembang.

Dari sana muncullah jenis komunikasi konflik antara agama dan sains. Apa saja yang dilakukan sains tidak bisa dibenarkan oleh agama, begitu juga sebaliknya. Jenis komunikasi pertama dari agama dan sains adalah konflik.

Contoh paling populer pada jenis komunikasi ini adalah tentang awal penciptaan manusia. Sains telah meneliti awal mula manusia dengan beragam spekulasi dan bukti-buktinya, namun di sisi agama, ia telah mutlak mempercayai bahwa permulaan kehidupan manusia adalah semenjak penciptaan Adam. Akan selalu ada irisan-irisan tak senada di antara keduanya.

Kemudian komunikasi selanjutnya yang terjadi antara agama dan sains adalah independen. Pada tahap ini agama dan sains bersepakat untuk tidak ikut campur dalam urusan satu dengan yang lain. Ketika ada sesuatu yang berbeda antara agama dan sains, biarlah itu menjadi diskursus yang terjadi di kamar masing-masing.

Namun, seperti yang disebutkan di muka, sebenarnya hubungan agama dan sains tidak sepatutnya hanya beraroma konflik, ada beberapa model komunikasi yang bisa dilakukan dengan lebih konstruktif dan kita sebagai orang beriman punya modal untuk melangkah lebih jauh.

Sebagai seorang yang beriman kita tentu percaya bahwa hulu dan muara dari setiap pengetahuan adalah Allah swt. Apa yang sains amati melalui pengamatan indrawi dan mendapatkan data empiris adalah sama asalnya dengan agama yang pengetahuannya bersumber dari ilham, yang membedakan hanyalah cara atau mungkin metode dalam mencari dan memperoleh data.

Baca Juga  Mencari Guru Ideal di Indonesia

Sikap rendah hati dan percaya bahwa semua pengetahuan apapun jenis dan cara mendapatkannya adalah berasal dari Allah akan mengantarkan kita pada pola komunikasi yang selanjutnya, yakni dialog.

Komunikasi dialog antara agama dan sains terjadi ketika ego kebenaran antara satu pihak dengan yang lain mulai dikontrol. Sehingga akan memunculkan sebuah pembicaraan timbal balik dan saling melengkapi antara agama dan sains.

Komunikasi dialog yang terjadi antara agama dan sains pada kenyataannya memang bisa kita temui pada banyak hal. Surat pembuka Alquran bisa menjadi pembuka yang baik. Pada ayat kedua surat Al-fatihah terdapat kata yang bermakna Allah adalah Tuhan semesta alam.

Dalam menjelaskan tentang alam semesta, tentu mereka yang memiliki teropong luar angkasa lebih punya pengalaman menakjubkan daripada orang yang kesehariannya hanya melihat dengan mata telanjang. Artinya, dalam mengejawantah Tuhan semesta alam, kacamata sains punya modal yang penting dalam semakin memantapkan iman seorang beriman dalam memahami kata Tuhan semesta alam.

Sains tidak hanya berkata bahwa alam ini besar, tetapi bahkan mengetahui batas terjauh alam semesta yang mungkin tidak masuk akal, dan orang beriman akan semakin mantap bahwa kuasa Tuhan masih jauh lebih besar dari luasnya jagat raya yang dapat diamati.

Dengan sains kita juga bisa semakin memahami sifat Allah yakni abadi, sementara sifat makhluk adalah fana atau sementara. Kefanaan manusia bisa diamati dengan hanya melihat telapak tangan. Mata telanjang kita akan menerima informasi bahwa tangan kita terlihat tetap dan tidak berubah, meskipun tidak selamanya.

Namun, lain persoalan ketika kacamata sains yang digunakan, karena dengannya kita akan melihat jutaan bahkan milyaran sel maupun atom telah menyusun tangan kita yang mana sel selalu berganti dan atom selalu bergerak. Sel penyusun tubuh kita setiap detik selalu berganti antara yang mati dan yang tumbuh. Bahkan ketika kita fokus pada atom, kita akan segera sadar bahwa sebenarnya tubuh kita terdiri dari banyak ruang kosong seperti yang tampak pada wujud atom yang dipercaya saat ini.

Baca Juga  Mendesain Kurikulum Anti-radikal di Pesantren

Dahulu, atom dipercaya seperti lego yang menyusun tubuh manusia dengan bentuk seperti bola-bola penuh, namun perkembangan sains mengatakan bahwa bentuk atom adalah gugusan inti dikelilingi elektron dengan banyak ruang kosong. Hal yang semakin memantapkan bahwa kita adalah setumpuk atom dengan banyak ruang kosong yang tidak memiliki daya kecuali atas rahmat dari Tuhan.

Tambahan pengetahuan seperti ini yang saya kira bisa lebih membuat orang beriman yang melek sains akan lebih rendah hati dan mengerti kebesaran Tuhan. Bahwa, ternyata dalam diri kita tidak pernah ada yang tetap, semuanya bergerak, berubah dan berganti.

Sehingga pada muaranya komunikasi terakhir yang bisa ditempuh antara agama dan sains adalah integrasi. Ketika kerendahan hati yang digunakan oleh kedua belah pihak karena telah sama-sama menyadari bahwa hulu dan hilir pengetahuan adalah Tuhan, lalu kemudian bekerja sama dan saling melengkapi sampai akhirnya menarik benang merah dalam sebuah diskursus, disitulah integrasi antara agama dan sains bisa tercapai.

Bukankah seperti itu citra kejayaan intelektual islam yang dulu pernah menerangi dunia? Waallahu a’lam… (AA).

Muhammad Bakhru Thohir Penggerak Komuitas Gusdurian Jogja