Muallifah Mahasiswi IAIN Madura, pengurus PC IPPNU Sampang.

Soekarno, Feminisme dan Kecerdasan Perempuan yang Diremehkan

2 min read

gambar:okezone

Dari sekian banyak pemikiran Soekarno, salah satu ide feminis yang bisa kita jumpai darinya adalah sebuah tulisan berjudul “Sarinah”. Melalui tulisan ini, kita dapat membaca bahwa Soekarno merupakan sosok feminis sejati yang antusias memperjuangkan Perempuan. Soekarno mengawali kalimat dengan penolakan atas labelling masyarakat terhadap kecerdasan perempuan.

“Janganlah kaum laki-laki lupa, bahwa sifat-sifat yang kita dapatkan sekarang pada kaum perempuan itu, dan membuat kaum perempuan dinamakan ‘kaum lemah’, ‘kaum bodoh’, ‘kaum singkat pikiran’, ‘kaum nrimo’ dan lain-lain, bukanlah sifat-sifat yang karena kodrat terlekat pada perempuan, tetapi adalah buah sebagian besar hasilnya pengurungan dan perbudakan kaum perempuan yang turun temurun dan beratus-ratus tahun.”

Pada masa itu, pun hingga saat ini, masyarakat cenderung percaya bahwa kecerdasan perempuan selalu ada di bawah laki-laki. Soekarno menjelasakan bahwa anggapan masyarakat tentang tugas perempuan yang hanya berkutat dalam tugas menanak atau menyiapkan makan keluarga adalah ekspresi ketakutan kaum laki-laki, agar mereka tidak tersaingi oleh kaum perempuan.

Melalui tulisannya, Soekarno membuat perbandingan berat otak antara laki-laki dan perempuan. Katanya, “Kalau dihitung dalam perbandingan berat tubuh, maka ternyatalah (demikian dihitung) bahwa otak perempuan adalah rata-rata 23,6 gram per kg tubuh, tetapi otak laki-lakihnya 21,6 gram per kg tubuh.” Menurutnya, kecerdasan perempuan tidak bisa dilihat sekedar dari kepercayaan masyarakat, sebab perempuan memiliki kemampuan berpikir kritis serta kesempatan belajar dan berpendidikan yang sama.

Menurut Charles Fourrier, tinggi rendahnya tingkat kemajuan suatu masyarakat ditentukan oleh tinggi-rendahnya kedudukan perempuan dalam masyarakat tersebut. Laki-laki dan perempuan ibarat dua sayap sesekor burung; jika dua sayap itu sama-sama kuat, maka burung itu bisa terbang hingga puncak, setinggi-tingginya.

Baca Juga  Perempuan dan Kerja-kerja Domestik dalam Pusaran COVID-19: Akankah Terjadi Perubahan Menuju Kesetaraan?

Dalam tulisannya, Seokarno meyakini bahwa interaksi antara laki-laki dan perempuan tidak terbatas pada hubungan seks, hubungan domestik yang mewajibkan perempuan lebih dominan dari pada laki-laki. Soekarno menggambarkan tokoh Sarinah sebagai perempuan Marhaen sebagai perempuan pejuang yang tidak hanya berperan di sektor publik, melainkan perempuan yang masih harus memasak, mencuci, dan menyiapkan susu anak. Dalam hal ini Soekarno memberikan perhatian lebih terhadap para perempuan yang memiliki peran ganda (double burden).

Soekarno menjelaskan, sepulang kerja, laki-laki bisa menjadi tanpa beban, sementara Sarinah masih harus mengurusi berbagai keperluan rumah, bahkan sehabis bekerja menjadi kuli. Soekarno kagum dengan perempuan seperti Ratu Sima, seorang Puteri kerajaan Kalingga yang terkenal adil dalam menjalankan pemerintahan.

Di dalam buku Tionghoa Kuno, Nippon selalu disebutkan sebagai Negeri Kaum Perempuan, di mana pada abad ke-10 dan 11 kaum perempuanlah yang membuat hukum-hukum negara. Ahli-ahli syair menyebut para perempuan itu sebagai “semen masyarakat”. Pada masa itu, perempuan Nippon tak pernah menekukan lututnya di bawah laki-laki. Di zaman Heian, anak laki-laki dan perempuan mendapat warisan yang sama besarnya.

Perempuan seharusnya menjadi ujung tombak kemajuan negara, sebab dari tangannya lahir generasi-generasi yang cerdas. Kebebasan perempuan dalam mengenyam pendidikan, otonomi atas peran publik akan menjadi kekuatan negara. Negara demokrasi takkan pernah ada tanpa disertai peran perempuan di dalamnya.

Soekarno juga melihat ada persoalan relasi laki-perempuan, bahkan dalam masyarakat yang beragama. Dalam beberapa tradisi, perempuan menjadi barang dagangan; persundalan. Kedudukan perempuan yang seharusnya dilindungi dari ekses-ekses patriarkhi malah dilupakan orang.

Ajaran Islam yang memberdayakan perempuan tertimbun oleh tradisi-tradisi kuno. Ajaran itu dilupakan oleh sebagian masyarakat, hingga menyebabkan kedudukan perempuan tak ubahnya seperti budak. Kemerdekaan perempuan tidak lagi menjadi prioritas kehidupan. Atas nama agama, seringkali muncul perilaku ketidakadilan antar sesama. Padahal, esensi ajaran Islam adalah kemanusiaan, kemerdekaan tanpa penindasan, dan relasi yang berkeadilan antara satu dengan yang lain, antara laki-laki dan perempuan.

Baca Juga  Cinta Khadijah kepada Rasul Tak Hanya Sweet, tapi Juga Heroik

Firman Allah dijadikan alat-alat untuk menundukkan perempuan di bawah lutut laki-laki. Padahal, kata Soekarno, Islam sangat memuliakan perempuan. Ia berpendapat bahwa perempuan dan laki-laki jelas tidak bisa disamaratakan, sebab keduanya unggul dalam bidang tertentu dan lemah dalam bidang tertentu. Namun, Soekarno menekankan pentingnya nilai-nilai kemanusiaan yang sesuai ajaran Islam ditegakkan—bahwa agama sangat memuliakan manusia, bukan sebaliknya. [AS]

Muallifah Mahasiswi IAIN Madura, pengurus PC IPPNU Sampang.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *