

Dalam tayangan di Trans 7, Xpose Uncensored, terdapat sebuah segmen yang mengangkat isu mengenai kehidupan mewah seorang kiai yang diduga memperoleh kekayaan dari amplop yang diberikan oleh santri. Tayangan ini memicu kontroversi dan berbagai reaksi negatif dari masyarakat, terutama di kalangan penggiat pendidikan pesantren.
Menurut data yang diperoleh dari survei yang dilakukan oleh lembaga penelitian sosial, sekitar 65% responden merasa bahwa tayangan tersebut memberikan pandangan yang keliru mengenai kehidupan di pesantren (Lembaga Penelitian Sosial, 2022).
Kehidupan figur kiai yang digambarkan dalam tayangan tersebut sering kali dihubungkan dengan stereotip negatif bahwa para pemimpin pesantren hanya mengejar materi. Namun, penting untuk dicatat bahwa banyak kiai yang menjalani hidup sederhana dan fokus pada pengajaran serta pembinaan akhlak santri. Misalnya, Kiai Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, dikenal sebagai sosok yang sangat sederhana dan mengutamakan pendidikan serta pengajaran agama di pesantren Tebuireng (Asy’ari, 2000).
Dalam konteks ini, stigma buruk yang muncul dari tayangan tersebut tidak hanya merugikan individu kiai, tetapi juga menciptakan persepsi negatif terhadap seluruh sistem pendidikan pesantren. Hal ini berpotensi mengurangi minat masyarakat untuk mengirimkan anak-anak mereka ke pesantren, padahal pendidikan di pesantren memiliki banyak manfaat, termasuk pembentukan karakter dan pemahaman agama yang mendalam.
Lebih jauh lagi, tayangan ini juga mengabaikan fakta bahwa banyak pesantren yang beroperasi dengan biaya yang sangat minim dan bergantung pada sumbangan dari masyarakat. Menurut data dari Kementerian Agama, lebih dari 70% pesantren di Indonesia adalah pesantren kecil yang tidak memiliki sumber pendapatan tetap (Kementerian Agama, 2021). Oleh karena itu, penting untuk memahami konteks sosial dan ekonomi di balik kehidupan para kiai dan santri.
Tayangan Trans 7 ini, meskipun mungkin dimaksudkan untuk menarik perhatian publik, telah berkontribusi pada stigma negatif yang lebih luas terhadap tradisi dan budaya pesantren. Dalam dunia yang semakin terhubung, penting bagi media untuk bertanggung jawab dalam menyampaikan informasi dan tidak memperkuat stereotip yang merugikan.
Tayangan yang disiarkan oleh Trans 7 menunjukkan pandangan yang sangat sempit dan tidak akurat mengenai tradisi dan budaya pesantren. Dalam banyak hal, tayangan ini mencerminkan kurangnya pemahaman mendalam tentang nilai-nilai yang dijunjung tinggi dalam lingkungan pesantren. Misalnya, salah satu nilai utama dalam pendidikan pesantren adalah penghormatan kepada ilmu dan guru, yang diajarkan secara turun temurun dari generasi ke generasi.
Pesantren sebagai Lembaga Pembentuk Akhlak dan Budaya
Dalam kitab “Ta’limul Muta’allim” karya Syekh Az-Zarnuji, dijelaskan bahwa seorang santri harus memiliki adab yang baik terhadap guru dan ilmu yang diajarkan. Adab ini mencakup sikap tawadhu’ (rendah hati) dan menghargai proses belajar. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan di pesantren tidak hanya berfokus pada aspek akademis, tetapi juga pada pembentukan karakter dan moral santri (Az-Zarnuji, 1999).
Clifford Geertz, dalam karyanya “Agama Jawa”, juga menekankan pentingnya budaya dan tradisi dalam pendidikan pesantren. Ia berargumen bahwa pesantren berfungsi sebagai pusat pembelajaran yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga membentuk identitas budaya masyarakat. Dengan demikian, pandangan yang diangkat oleh Trans 7 yang berfokus pada sisi materialistik dari kehidupan kiai sangat tidak representatif dan menyesatkan.
Sebagai contoh, banyak pesantren yang menjalankan program-program sosial dan pendidikan yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Misalnya, pesantren-pesantren di Jawa Tengah sering kali terlibat dalam kegiatan pengabdian masyarakat, seperti penyuluhan tentang kesehatan dan pendidikan (Lembaga Penelitian Sosial, 2022). Hal ini menunjukkan bahwa pesantren memiliki peran yang lebih luas dalam masyarakat, yang tidak dapat dipahami hanya melalui lensa materialisme.
Kesalahan dalam penilaian ini bisa berakibat fatal, karena dapat mengikis kepercayaan masyarakat terhadap pesantren sebagai lembaga pendidikan yang berharga. Oleh karena itu, penting untuk meluruskan pemahaman yang keliru ini dan memberikan gambaran yang lebih akurat tentang tradisi dan budaya pesantren.
Budaya pesantren di Indonesia memiliki pijakan yang kuat dalam penghormatan kepada ilmu dan guru. Dalam tradisi pesantren, guru dianggap sebagai sosok yang sangat dihormati dan memiliki peran sentral dalam pembentukan karakter dan pengetahuan santri. Hal ini sejalan dengan prinsip-prinsip yang diajarkan dalam berbagai kitab klasik, termasuk “Adabul Alim wa Muta’allim” oleh Hasyim Asy’ari yang menyatakan bahwa santri harus memperlakukan guru mereka dengan penuh rasa hormat dan pengabdian (Asy’ari, 1998).
Penghormatan ini bukan hanya bersifat simbolis, tetapi juga diimplementasikan dalam praktik sehari-hari. Santri diajarkan untuk tidak hanya mendengarkan pelajaran dengan seksama, tetapi juga untuk menghargai setiap usaha yang dilakukan oleh guru dalam menyampaikan ilmu. Penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 80% santri menganggap hubungan mereka dengan guru sebagai salah satu aspek terpenting dalam pendidikan mereka (Lembaga Penelitian Sosial, 2022).
Di dalam “Ta’limul Muta’allim”, Syekh Az-Zarnuji menekankan bahwa seorang santri harus mengedepankan adab dalam belajar, termasuk sikap tawadhu’ dan tidak merasa lebih baik dari guru. Hal ini menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan saling menghormati, yang pada gilirannya memperkuat hubungan antara santri dan guru (Az-Zarnuji, 1999).
Dalam konteks ini, penghormatan kepada ilmu dan guru juga mencerminkan nilai-nilai yang lebih luas dalam masyarakat Indonesia, di mana pendidikan dan pengetahuan sangat dihargai. Sebuah studi yang dilakukan oleh Universitas Islam Negeri menunjukkan bahwa 75% masyarakat Indonesia percaya bahwa pendidikan agama di pesantren sangat penting untuk membentuk karakter anak-anak (Universitas Islam Negeri, 2021).
Oleh karena itu, stigma yang muncul dari tayangan Trans 7 yang menggambarkan kiai sebagai sosok materialistis sangat bertentangan dengan nilai-nilai yang sebenarnya ada dalam budaya pesantren. Penting bagi masyarakat untuk memahami bahwa pendidikan di pesantren tidak hanya tentang transfer ilmu, tetapi juga tentang pembentukan karakter dan penghormatan yang mendalam terhadap guru dan ilmu.
Kitab “Ta’limul Muta’allim” karya Syekh Az-Zarnuji merupakan salah satu rujukan penting dalam memahami adab dan etika belajar di pesantren. Dalam kitab ini, Az-Zarnuji menjelaskan berbagai aspek adab yang harus dimiliki oleh seorang santri dalam belajar, termasuk sikap terhadap guru dan ilmu. Salah satu poin utama yang ditekankan adalah pentingnya menghormati guru, yang dianggap sebagai perantara antara santri dan ilmu yang diajarkan.
Az-Zarnuji menguraikan bahwa seorang santri harus memiliki sikap tawadhu’ dan tidak merasa lebih tinggi dari guru, karena guru memiliki pengalaman dan pengetahuan yang lebih luas. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan di pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga membentuk karakter dan moral santri (Az-Zarnuji, 1999). Dalam konteks ini, penghormatan kepada guru menjadi landasan dalam proses belajar yang efektif.
Lebih lanjut, dalam kitab tersebut juga dijelaskan bahwa seorang santri harus aktif dalam belajar, termasuk bertanya dan berdiskusi dengan guru. Sikap ini tidak hanya menunjukkan ketertarikan terhadap ilmu, tetapi juga menciptakan interaksi yang konstruktif antara santri dan guru. Penelitian menunjukkan bahwa santri yang aktif berpartisipasi dalam diskusi cenderung memiliki pemahaman yang lebih baik tentang materi yang diajarkan (Lembaga Penelitian Sosial, 2022).
Selain itu, Az-Zarnuji juga menekankan pentingnya menjaga lisan dan perilaku di hadapan guru. Santri diharapkan untuk berbicara dengan sopan dan menghormati waktu serta usaha yang diberikan oleh guru dalam mendidik mereka. Hal ini menciptakan suasana belajar yang harmonis dan saling menghargai, yang sangat penting dalam pendidikan di pesantren.
Dengan demikian, kitab “Ta’limul Muta’allim” tidak hanya memberikan panduan praktis bagi santri, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai luhur yang menjadi pijakan budaya pesantren. Penilaian yang keliru terhadap tradisi ini, seperti yang ditunjukkan dalam tayangan Trans 7, dapat mengaburkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya adab dalam pendidikan pesantren.
Clifford Geertz, dalam karyanya “Agama Jawa”, memberikan tinjauan yang mendalam mengenai budaya santri dan peran pesantren dalam masyarakat. Geertz berargumen bahwa pesantren adalah lembaga yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga berfungsi sebagai pusat pembentukan identitas dan budaya masyarakat. Dalam pandangannya, pesantren merupakan tempat di mana nilai-nilai tradisional dan modernitas bertemu, dan di sinilah santri belajar untuk menavigasi kehidupan sosial yang kompleks.
Salah satu poin penting yang diangkat oleh Geertz adalah bahwa santri tidak hanya dianggap sebagai pelajar, tetapi juga sebagai agen perubahan dalam masyarakat. Mereka diharapkan untuk membawa nilai-nilai yang telah mereka pelajari ke dalam kehidupan sehari-hari dan berkontribusi pada pembangunan masyarakat. Hal ini sejalan dengan penelitian yang menunjukkan bahwa banyak santri yang terlibat dalam kegiatan sosial dan pengabdian masyarakat setelah menyelesaikan pendidikan mereka di pesantren (Universitas Islam Negeri, 2021).
Geertz juga menyoroti pentingnya hubungan antara guru dan santri dalam konteks budaya pesantren. Ia mencatat bahwa hubungan ini didasarkan pada saling menghormati dan pengakuan terhadap peran masing-masing. Dalam hal ini, penghormatan kepada guru menjadi salah satu aspek fundamental dalam pendidikan di pesantren, yang juga tercermin dalam karya-karya klasik seperti “Ta’limul Muta’allim” dan “Adabul Alim wa Muta’allim” (Geertz, 1976).
Namun, pandangan Geertz sering kali diabaikan dalam narasi negatif yang muncul di media, termasuk tayangan Trans 7. Stigma yang berkembang dalam masyarakat sering kali mengabaikan kompleksitas budaya pesantren dan peran positif yang dimainkan oleh santri dalam masyarakat. Hal ini menunjukkan perlunya pemahaman yang lebih mendalam tentang budaya pesantren dan kontribusinya terhadap masyarakat.
Dengan demikian, penilaian Geertz tentang budaya santri memberikan perspektif yang lebih luas dan akurat mengenai peran pesantren dalam konteks sosial dan budaya Indonesia. Penting bagi masyarakat untuk menyadari bahwa pesantren bukan hanya sekadar lembaga pendidikan, tetapi juga merupakan bagian integral dari identitas budaya bangsa. [AA]
Kasubtim Bina Guru MA/MAK, GTK Madrasah, Kementerian Agama