Mutawakkil Alallah Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga

[Review Film] 3 Doa 3 Cinta: Mengintip Pesantren Dari Bingkai Sinema

3 min read

Berbicara pesantren adalah berbicara banyak sudut pandang baik dari yang positif sampai negatif, tempat terbaik pendidikan, tempat yang tepat menemukan jati diri, pesantren itu kumuh, kolot bahkan pesantren sarang teroris. Masih banyak sudut pandangan lainnya, tapi apa yang menyebabkan pesantren sampai mendapatkan citra negatif?, selain berasal dari pengalaman individu media juga turut serta membumbuhi membentuk persepsi. Menyalahkan media juga bukan tindakan yang bijak, karena media bekerja sesuai apa yang dilihat alias fakta meskipun kadang melebih-lebihkan.

Apa yang dilakukan Nurman Hakim dapat kita tiru, sutradara yang pernah mengenyam pendidikan pesantren selama tiga tahun di Semarang memperlihatkan dunia pesantren apa adanya, hitam putih pesantren divisualisasikan tanpa ada yang dirahasiakan, disini pesantren tidak berwarna putih seperti persepsi sebagian masyarakat bayangkan.

Dalam film ini, Sutradara sekaligus penulis skenario menawarkan gagasan bahwa Islam adalah agama ramah dan menyenangkan, dengan jelas film ini menolak anggapan bahwa Islam identik dengan kekerasan, dan sebenarnya orang Islam yang bertindak keras adalah salah tempat mengaji. Meskipun film ini diproduksi pada tahun 2009, sampai saat ini menurut saya pribadi tetap dapat disebut sebagai sebuah representasi citra dari mayoritas Islam yang mulai tertutupi pekikan Islam garis keras dalam media kita.

Perbedaan adalah rakhmat, sebuah kalimat yang acap kali kita dengar. 3 Doa 3 Cinta dibuka dengan perbedaan pendapat penafsiran dua kyai mengenai ayat sensitif: “wa lan tardho ankal yahudu wa laan –Nashoraa hatta tattabi’a millatahum” (“Tak akan rela orang-orang Yahudi dan Nashrani kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka”). Tokoh kyai pengasuh pondok pesantren Al-Hakim  berpendapat bahwa ayat itu hanya untuk kaum Yahudi dan Nasrani yang memerangi kita. Sedangkan seorang Kyai radikal berpendapat bahwa ayat tersebut adalah ayat perang.

Baca Juga  [Cerbung] Bukan Cinta Cleopatra – Bagian Keempat

Sebagaimana judulnya 3 Doa 3 Cinta, perbedaan tidak hanya terletak pada penafsiran kelimuan tapi juga pada doa berupa cita-cita dan cinta dari tiga santri Huda (Nicolas Saputra), Rian (Yoga Pratama), dan Syahid (Yoga Bagus Satatagama) yang sering menyelinap keluar malam kadang mengaji kitab kuning di luar pesantren dan yang sering ke pasar malam Altar (alun-alun utara) Jogja.

Perbedaan ketiga tokoh inilah yang akan membeberkan berbagai kisah mengenai pesantren. Lewat penggambaran ketiga tokoh, penonton akan mendapat bagaiamana wajah Islam yang diajarkan pesantren, keragaman dan keunikan santri.

Realitas apa adanya

3 Doa 3 Cinta mengambil waktu beberapa bulan sebelum peristiwa 11 September 2001, dimana peristiwa ini adalah serangkaian empat serangan bunuh diri yang telah diatur terhadap beberapa target di New York City dan Washington, D.C. Pasca peristiwa yang disebut serangan 11 September atau serangan 9/11 pesantren menjadi target penyelidikan intel.

Nurman Hakim dengan pengalamannya nyantri tak hanya melalui adegan berkata-kata, ia tak segan menampilkan sisi kemanusiaan para santri dan ustadz tanpa perlu ditutupi, misalnya ghosob, susahnya para santri dibangunkan sholat subuh, konsistensi tidur saat mengaji, yang menarik sujud sampai sholat selesai, pria ereksi di pagi hari, dan memanfaatkan kesempitan mengintip santriwati. Dan juga penggambaran Ustadz/senior yang semena-mena bahkan dunia gelap pesantren yakni nafsu kepada sesama pria.

Relasi santri dengan keluarga juga tidak dilupakan sutradara. Tentang Huda yang merasa dibuang ke pesantren oleh ibunya karena tidak pernah dihubungi, yang kemudian melakukan segala cara untuk menemukan ibunya termasuk meminta bantuan pedangdut amatir yang pernah mengais rejeki di Jakarta, tempat ibunya pamit bekerja. Rian yang berasal dari keluarga broken home yang tak pernah setuju ibunya menikah lagi. Dan Syahid yang berasal dari keluarga miskin yang harus merawat ayahnya sakit keras hingga menjual sawah untuk membiayai ayahnya. Syahid, sang santri yang paling tahan ikut pengajian di luar pesantren bersedia menjadi pembom bunuh diri selain karena kehidupannya yang pahit ia juga beranggapan dengan menjadi pembom bunuh diri ia akan masuk surga bersama keluarganya.

Baca Juga  Alif dan Mim (8): Yang Hadir Tanpa Disadari

Nurman juga berani menyentil kyai yang poligami, ia tak hanya menyentil tapi juga mengedukasi lewat kyai pengasuh pondok pesantren Al-Hakim  yang enggan poligami meski tidak punya keturunan lelaki yang akan diajdikan penerus pengasuh pesantren.

Ada realitas yang di apa-apa

Noam Chomsky dalam bukunya Politik Kuasa Media memaparkan informasi di media hanyalah sebuah rekonstruksi tertulis atas suatu realitas yang ada dimasyarakat yang tentunya sangat tergantung orang dibalik media dalam melakukan kerja-kerjanya. Ia meragukan fakta yang ditulis media, karena baginya media menyembunyikan kebenaran bahkan sering merekayasa berita tergantung kepentigan siapa dibelakangnya.

Sedangkan Islam sendiri dalam menyikapi persoalan informasi telah memberi arahan betapa pentingnya verifikasi dan klarifikasi salah satunya melalui surah al-Hujarat ayat ke-8 “Hai orang-orang beriman, jika datang kepada kamu seorang fasik membawa suatu berita, maka bersungguh-sungguhlah mencari kejelasan agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa pengetahuan yang menyebabkan kamu atas perbuatan kamu menjadi orang-orang yang menyesal.” Tapi sayang ayat-ayat mengenai informasi jarang sekali diangkat oleh para da’i kita. Sehingga banyak dari kita sendiri mudah mengambil kesimpulan tanpa melakukan tabayun.

Kamera Handycam hadiah ulang tahun milik Rian merekam banyak mozaik kegiatan dalam film ini. Mulai dari  mengintip santriwati idola dari tembok ratapan, casting penyanyi dangdut amatir Dona Satelit, hingga latihan militer kaum Islam militan. Rekaman-rekaman kamera menjadi klimaks mengenaskan dalam film,  seolah-olah ingin mengkritisi anggapan bahwa apa yang terekam dalam layar kamera adalah realitas apa adanya, sehingga dianggap kebenaran mutlak. Padahal kamera hanyalah benda mati yang hanya bisa bergerak tergantung siapa menggerakannya, hanya mengikuti kemana akan diarahakan oleh pengguna.

Baca Juga  Alif dan Mim (13): Rindu Memang Belum Tentu, Tapi Menuggumu Itu Pasti

Kamera menjadi metafor bahwa informasi bisa direncanakan pembuatnya. Sebuah metafor yang mengkritisi tindakan intel kita yang begitu mudah menyimpulkan tentang Islam dan kekerasan, yang kemudian menimbulkan citra negatif tentang Islam dari berbagai tayangan televisi, yang secara epistemologis diamini sebagai kebenaran.

3 Doa 3 Cinta adalah karya yang bisa membantu kita melihat jendela pesantren dan memahami apa yang diajarkan pesantren. Tak ada agama atau pendidikan yang mengajarkan kekerasan,yang ada hanyalah kecepatan mengambil kesimpulan tanpa memperdulikan kajian. Sulit memang, tapi mempercepat kesimpulan bisa jadi memperpanjang kebodohan.

3 Doa 3 Cinta | 2008 | Sutradara: Nurman Hakim | Penulis: Nurman Hakim |  Negara: Indonesia | Pemeran: Nicolas Saputra, Yoga Pratama, Yoga Bagus Satatagama, Dian Sastrowardoyo

Mutawakkil Alallah
Mutawakkil Alallah Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga