Media Zainul Bahri Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; Penulis Buku Satu Tuhan Banyak Agama: Pandangan Sufistik Ibn ʻArabī, Rūmī, dan al-Jīlī

Kitab Suci Agama-agama [Part 2 Selesai]

3 min read

(4) Bagi umat Kristiani, di masa Yesus hidup belum ada kitab Perjanjian Baru. Setelah Ia tiada, muncul banyak kitab Injil, karena itu harus diseleksi melalui sebuah “kanon” (kanonisasi). Ada banyak ukuran/standar sebuah kitab Injil itu kanonik atau tidak, tetapi secara umum diyakini bahwa yang kanonik terutama adalah Injil “yang diilhamkan Allah”. Akhirnya “disepakati” 27 kitab dihimpun menjadi Perjanjian Baru (PB). Dalam PB itu hanya empat Injil diyakini sebagai Injil yang sah: Markus yang ditulis sekitar tahun 70-an awal abad Masehi, Matius dan Lukas sekitar akhir 80-an, dan Yohanes pada akhir 90-an. Keempat Injil itu adalah “rekaman”, “gambaran” dan “penafsiran” tentang Yesus, masa kecilnya, khotbah-khotbah-Nya, Kerajaan Surga, penderitaan-Nya, kasih-Nya, perhatian utama-Nya kepada masyarakat kecil, lemah, miskin, tertindas, harapan akan pengadilan masa depan dan akhir dunia, dan lain-lain.

Keempat penulisnya: (1) Matius adalah mantan pegawai bea cukai yang dipanggil Yesus untuk menjadi muridnya. Maka ia menjadi salah satu dari dua belas Rasul-Nya; (2) Markus adalah pengikut Santo Petrus; (3) Lukas, seorang tabib, teman dekat dari Rasul Paulus, dan juga penulis Kisah Para Rasul; (4) Yohannes, murid Yesus, yang diyakini sebagai orang termuda dari kedua belas Rasul-Nya. Dari empat itu, Matius dan Yohannes adalah murid langsung Yesus yang hidup berjumpa dengan-Nya. Sementara Markus dan Lukas mendengar kisah Yesus dari murid-murid Yesus yang lain. Tiga Injil: Markus, Matius dan Lukas disebut juga “Injil Sinoptik” (melihat bersama) karena kemiripan yang luar biasa satu sama lain. Secara umum, gambaran tentang Yesus yang ditulis oleh keempat penulis Injil adalah koheren dan konsisten.

Hal lain yang penting bagi kaum Kristiani adalah meskipun keempat Injil baru ditulis sejak 40 sampai 60 tahun setelah penyaliban Yesus (Injil Markus), tetapi mereka percaya bahwa proses penulisan keempat Injil itu adalah “diilhami Allah” atau “diembuskan Allah. Melalui para penulisnya, Allah menyampaikan firman-Nya untuk dituliskan. Jadi, para penulis ini adalah orang-orang yang dipilih Allah, bukan orang sembarangan. Allah menuntun keempat penulis dalam menuliskan firman-Nya, dituntun melalui Roh Kudus. Meskipun ada beberapa pendapat soal ini, namun secara umum, orang-orang Kristen meyakini bahwa “bimbingan dan pengawasan Roh Kudus membuat para penulis Injil sempurna dalam menyampaikan kebenaran firman-Nya dan bebas dari kesalahan”. Jadi, meskipun ditulis oleh manusia puluhan tahun setelah “mangkat”nya Yesus, tetapi mereka “terjaga” atau “bebas dari kesalahan” alias ma’shum jika memakai istilah Islam.

Baca Juga  Mengapa Ada Tradisi Ketupat di Malam Nisfu Sya’ban?

Lebih ekstrem lagi, dikatakan sebenarnya pengarang Alkitab (didalamnya Injil) adalah Allah. Alkitab bukan semata firman Allah, tetapi Alkitab itulah firman Allah sendiri. Allah “meminjam” tangan dan pikiran para penulisnya untuk menuliskannya. Alkitab, yang secara garis besar berisi Perjanjian Lama dan Baru, itulah kini yang menjadi kitab suci dan pegangan kaum Kristiani.

(5) Kitab suci orang Yahudi adalah Tanakh: Taurat, Nevi’im (kisah nabi-nabi) dan Khetubim (doa dan sastra). Torah atau Taurat berisi lima kitab: Kejadian, Keluaran (eksodus), Imamat, Bilangan dan Ulangan. Lima ini kemudian termaktub dalam Perjanjian Lama dan menjadi bagian dari kitab suci orang Kristen. Jelas, bagi kaum Yahudi, ada banyak bagian dalam Tanakh dimana Tuhan berfirman langsung kepada nabi-nabi Israel dan nenek moyang mereka: Ibrahim, Ishak dan Ya’kub. Misalnya, dalam Kitab Kejadian diceritakan Tuhan berfirman kepada Ibrahim: (1) “Pergilah dari negerimu, dari keluargamu dan dari rumah ayahmu ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu”, (2) “Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur, dan engkau akan menjadi berkat,” (3) Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat”.

Kelak, Sarah yang mandul dan sudah sepuh ternyata hamil. Sarah melahirkan Ishak. Kepada Ishak ini, Allah berfirman lagi bahwa “…Aku akan menempati sumpah yang telah Kuikrarkan kepada Abraham, ayahmu”. Jadi, janji Allah kepada Ibrahim ternyata diteruskan kepada Ishak dan keturunannya. Tetapi, kontinuitas Janji Allah kepada ketrurunan Ibrahim bukan suatu hadiah cuma-cuma, dalam arti karena Ishak putera Ibrahim sehingga otomatis menerima janji Allah, melainkan Ishak juga harus teguh dengan iman dan ketaatan kepada Allah sebagaimana ayahnya.

Baca Juga  Justru dalam Perspektif “Kitab Kuning”, Turki Usmani Tidak Memenuhi Standar Kualifikasi Kekhilafahan

Dalam Kitab Kejadian diceritakan bahwa di suatu malam yang syahdu Tuhan menampakkan diri kepada Ishak dan berfirman “Akulah Allah ayahmu Abraham; jangan takut, sebab Aku menyertai engkau dan membuat banyak keturunanmu, karena Abraham hamba-Ku itu.” Ketika kembali terjadi kelaparan yang parah di Kanaan (kelaparan pertama pada masa Ibrahim dulu). Ishak dan keluarganya pergi ke Gerar, kota tempat Raja Palestina tinggal. Dari Gerar Ishak bersiap untuk mengungsi ke Mesir. Tetapi, Tuhan Allah kembali menampakkan diri kepada Ishak dan berfirman: “Jangan pergi ke Mesir, diamlah di negeri yang akan Kukatakan padamu. Tinggalah di negeri ini sebagai orang asing, maka Aku akan menyertai engkau dan memberkati engkau, sebab kepadamulah dan kepada keturunanmu akan Kuberikan seluruh negeri ini, dan oleh keturunanmu, dan Aku akan menepati sumpah yang telah Kuikrarkan kepada Abraham. Aku akan membuat banyak keterunanmu seperti bintang di langit; Aku akan memberikan kepada keturunanmu seluruh negeri ini, dan sebab keturunanmu semua bangsa di bumi akan mendapat berkah.” Maka, Ishak kemudian tetap tinggal di Gerar, taat kepada perintah-Nya.

Bagi kaum Yahudi, Tuhan tidak semata berfirman kepada nabi-nabi bangsa Israel, tetapi juga terus “berbicara” kepada mereka sepanjang masa jika mereka membaca kitab sucinya. Ternyata, bagi Muslim juga Allah terus “berbicara” kepada mereka jika membaca Alquran. Bagi kaum Kristiani, Hindu, Budhis, Baha’i dan seterusnya, Tuhan terus “berkomunikasi” dengan mereka selama mereka membaca kitab suci masing-masing.

Gambaran di atas, yang saya tulis agak panjang, menunjukkan bahwa Alquran ternyata bukan “satu-satunya” mukjizat Nabi yang ditulis, seperti yang selama ini kita dengar dari guru atau ulama kita. Weda, Avesta, Tanakh, Alkitab, Tripitaka telah “ditulis” jauh sebelum Alquran ”turun” di abad ke-7. Alquran dan semua kitab suci “pendahulunya” abadi sampai hari ini, dan sedikit banyak, telah menjadi referensi umat manusia membangun peradaban di negeri mereka masing-masing.

Baca Juga  Tadarus Litapdimas (13): Robot Penentu Arah Kiblat

Klaim “universalitas” kitab suci, secara internal adalah absah, tetapi ia menjadi “partikular” ketika berjumpa dengan kitab-kitab suci yang lain. Semua pemilik kitab suci berharap kitab sucinya menjadi “petunjuk bagi umat manusia”. Ada yang Iya: otoritas kitab sucinya diakui oleh pemeluk lain. Tetapi, sebagian besar, mereka sudah “setia” dengan kebenaran “hanya satu-satunya” otentisitas dan otoritas kitab suci miliknya, milik masing-masing.

Jika ada keinginan kuat dan ada waktu, menurut saya, sikap terbaik adalah mau belajar “keunikan” dan “keistimewaan” kitab suci orang lain untuk “memperkaya” pemahaman kita terhadap kitab suci kita. Jika tidak, cukuplah bagi kita untuk “memeluk”, “mencium” dan “mendalami” kandungan kitab suci kita, tanpa perlu “merendahkan” kitab suci orang lain. Wallahu A’lam [MZ]

Media Zainul Bahri Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; Penulis Buku Satu Tuhan Banyak Agama: Pandangan Sufistik Ibn ʻArabī, Rūmī, dan al-Jīlī

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *