



(Disadur dari Tales from the Land of the Sufis, karya Mojdeh Bayat dan Mohammad Ali Jamnia)
Jelas Khusrau dibakar api cemburu. Apa kau tahu arti cemburu bagi seorang laki-laki, kawan? Cukuplah bagi seorang lelaki untuk nekat melakukan apa saja hanya dengan mendengar ada laki-laki lain yang mencintai kekasihnya. Cukuplah bagi laki-laki untuk mengganti pelangi dengan pekatnya awan hanya karena kekasihnya menyebut ketampanan laki-laki lain.
Khusrau sadar bahwa Farhad adalah pecinta sejati. Pecinta sejati lebih berbahaya dari apapun. Dia tak mungkin disuap dengan harta dan kepangkatan. Menyadari ini, Khusrau semakin luluh lantak dibakar cemburu. Bagaimana mungkin ada seorang laki-laki selain dirinya yang memiliki cinta sebegitu dalam kepada Syirin dan mau melakukan apa saja. Dia merasa, hanya dialah yang berhak memiliki cinta seperti itu kepada ratu Armenia.
Dia pun berunding dengan para penasehatnya mencari cara agar bisa memisahkan Farhad dari Syirin. Para penasehat Khusrau pun memberi solusi atas permasalahan itu. Merasa sudah mendapatkan solusi jitu, Khusrau minta agar Farhad dihadapkan padanya kembali.
Di depan Farhad, Khusrau dengan gaya sombong bertitah: Saya berjanji tidak akan mencampuri hubunganmu dengan Syirin. Tapi ada satu syarat yang harus kaupenuhi.”
Mendengar itu, Farhad langsung melompat gembira. “Apapun keinginan Baginda, hamba aku melakukannya.”
Khusrau melanjutkan titahnya, “Kami memerlukan terowongan yang menembus Bukit Bistun.”
“Siap Bangida!”
“Hanya kamu yang boleh mengerjakan. Tidak boleh ada yang membantumu.”
“Siap Banginda!”
Kurang nekat apa coba. Padahal, selama bertahun-tahun tidak ada satu pun kekuatan kerajaan yang sanggup membuat terowongan menembus Bukit Bistun. Bukit itu bermaterialkan batu granit yang padat dan keras. Tidak ada satu pun pekerja yang bisa menggalinya.
Mendengar kesiapan Farhad, Khusrau tersenyum sendiri. Dia tak perlu menghukum Khusrau hanya urusan rebutan perempuan bukan? Martabat seorang raja bisa jatuh, masak saingan dengan seorang pemuda biasa. Tapi kalau seorang raja memerintahkan hambanya melakukan sesuatu, semustahil apapun, sedikit masih bisa diterima.
“Sesudah kamu merampungkan pekerjaan ini dan kami puas, kami akan mengawinkanmu dengan Syirin,” kata Khusrau.
“Hamba akan segera mengerjakan pekerjaan ini besok. Hamba berjanji melakukannya sebaik mungkin.”
Farhad dipenuhi kebahagiaan. Rasanya dia tidak pernah sebahagia ini. Membayangkan Syirin menjadi istrinya saja sudah merupakan kebahagiaan yang membutanya rela menukar dengan nyawanya, apalagi jika impian itu menjadi kenyataan.
Kebahagiaan yang melebihi nyawa ini membuatnya seperti manusia yang terlahir baru. Entah bagaimana, dia merasakan energinya tambah berlipat-lipat. Rasanya ribuan pasukan Persia sanggup dikalahkannya. Jangankan Bukit Bistun, pegunungan yang lebih menjulang dari Bistun pun rasanya sanggup untuk dirobohkannya.
Setiap hari dia menghantamkan palu godamnya ke bebatuan granit Bukit Bistun. Tak ada sedikipun kesulitan dalam melakukan itu. Dia heran, bagaimana mungkin pekerjaan semudah ini bertahun-tahun tidak ada satu pun orang yang berani memikulnya. Baginya, cukup membayangkan kekasihnya, semua pekerjaan terasa begitu mudah. Terik mata hari, kenyerian otot-otot punggunya, dan kelupas kulit tangannya, sama sekali tak terasa. Setiap dentam suara palu yang menghantam batu terdengan seperti dendang merdu nyanyian yang keluar dari mulut Syirin yang indah.
Setiap sore, saat dia selesai mengerjakan pekerjaan di hari itu, dia selalu memahat wajah Syirin di dinding batu. Itu menandai kemajuan pekerjaannya, juga memberi kebahagiaan baginya karena merasa tidak ada malam di mana dia tidur yang tidak ditemani Syirin.
Mendengar apa yang dilakukan Farhad, Syirin tahu bahwa perintah Khusrau itu adalah sebuah jebakan. Khusrau tidak pernah berniat menikahkan Farhad dengannya, tapi justru ingin menghancurkan Farhad. Syirin pun berangkat ke Bukit Bistun menemui sahabatnya itu untuk mengingatkannya.
Ketika Syirin mengunjungi Farhad, Farhad justru memamerkan pekerjaannya yang sudah lebih dari separuh jalan. Terowongan menembus Bukit Bistun itu akan segera rampung dikerjakannya dalam beberapa waktu lagi. Melihat semangat sahabatnya itu, Syirin tidak sampai hati memberitahunya bahwa sebetulnya itu hanya jebakan Khusrau.
Pulang setelah mengunjungi sahabatnya, Syirin membatin, “Khusrau akan termakan oleh senjatanya sendiri.”
Kunjungan Syirin ini rupanya diketahui oleh mata-mata kerajaan yang segera melaporkannya ke Khusrau. Khusrau kelimpungan. Dia ketakutan bahwa Syirin sungguh-sungguh mencintai Farhad.
Laki-laki yang sedang cemburu itu sungguh-sungguh buta sampai tak bisa membedakan antara persahabatan dan cinta. Ah, Khusrau!
Betapa egoisnya cinta. Khusrau jelas-jelas tidak mungkin menikahi Syirin karena dia telah memiliki permaisuri. Syirin pun jelas tidak mau untuk dimadu. Jangankan dimadu, diajak bertemu diam-diam saja malah menasehati Khusrau untuk setia kepada istrinya. Tapi ketika ada laki-laki lain yang memberi cinta dan hidupnya kepada syirin, dia mati-matian bertekad menghalanginya. Laki-laki memang suka kayak gitu.
Di tengah kepanikan dan ketakutan ini, Khusrau kembali mengumpulkan para penasehatnya untuk meminta saran. Setelah para penasehat bermusyawarah, mereka pun kembali memberi solusi kepada Khusrau. Khusrau girang bukan kepalang dengan saran para penasehatnya kali ini.
Atas saran dari para penasehatnya, Khusrau mengirim seorang tua untuk menemui Farhad di Bukit Bistun. Orang tua itu segera berangkat.
Ketika menjumpai Farhad yang menghantam batu-batuan bukit di bawah terik matahari, orang tua itu bertanya, “Apa yang kamu lakukan dengan bukit ini, wahai anak muda?”
Farhad menjelaskan tentang ihwal mengapa dia membuat terowongan. Semuanya adalah demi cintanya kepada Syirin. Sambil menghantamkan palunya dengan keras ke batu, Farhad berkata, “Demi cintaku, aku akan melakukan apa saja. Aku bahkan akan memindahkan gunung ini sekiranya dengan itu aku bisa menyatu dengannya.”
Orang tua itu kemudian menggelengkan kepalanya dan memasang raut muka sedih. “Sayang…,” kata-katanya tercekat sambil membalikkan mukanya dan menyeka matanya.
Farhad yang mengetahui ini merasa heran. Dia bertanya sambil meletakkan godamnya, “Apa maksudmu?”
“Bukan apa-apa.”
Farhad bersikeras, “Engkau harus mengatakannya padaku!”
“Aku sungguh mengasihani dirimu yang melakukan pekerjaan sedemikian keras. Untuk apa semua ini?”
Sambil mencengkeram bahu orang tua itu, Farhad berkeras memohon, “Tolong katakan padaku apa yang engkau ketahui? Kataku padaku!”
“Kekasihmu sudah meninggal,” kata orang tua itu dengan muka sedih dan mata yang tampak berkaca-kaca. “Syirinmu meninggal beberapa hari lalu.”
Tubuh Farhad seketika kehilangan energinya. Tubuh yang baru beberapa detik lalu terasa memiliki energi berlipat-lipat tiba-tiba lunglai seperti daging tanpa tulang. Matanya yang biasanya berkilat-kilat awas tiba-tiba tak punya kemampuan memandang sekelilinya. Telinganya hanya terdengar dengungan. Perlahan tangan yang semula mencengkeram bahu orang tua itu perkahan mengendur. Farhad jatuh ke tanah. Pingsan!
Kegelapan malam menyelimuti Bukti Bistun. Orang tua itu sudah lama pergi. Farhad masih tergeletak di tempatnya. Pelan-pelan tubuhnya sekarat. Sesungguhnya tubuh itu telah hancur digerogoti beban kerja berbulan-bulan. Tapi dia masih berusaha untuk menyeret tubuhnya di tanah batu ke arah pahatan wajah Syirin yang dipahatnya tiap sore. Tubuh dan tangannya penuh luka gores batu granit yang tajam. Tangannya dipenuhi darah saat tangan itu berhasil menggapai wajah Syirin. Tangan itu memenuhi wajah Syirin dengan darah. Diletakkan wajahnya di situ.
Di atas pahatan wajah kekasihnya, Farhad menghembuskan nafas terakhirnya.
“Kulepaskan diriku dari nalar, lalu ku mulai kegilaan cinta ini dengan ratap dan tangis untuk bersatu.” Bersambung…
Baca selajutnya: Kisah Cinta Sufi… (10)
Ustaz Milenial Tinggal di Sidoarjo