Ust. Nashruddin Hilmi S. Ag, M.Pd.I Penulis adalah Wakil Sekretaris Dewan Pendidikan Kabupaten Mojokerto, Ketua ISNU Kecamatan Sooko, Dosen UNIM Mojokerto dan Kepala SMPN Satap Manting-Mojokerto

Antara Taqdir dan Sunnatullah

2 min read

Apa perbedaan  antara taqdir dan sunnatullah?

Apakah semua waktu kematian adalah qudrah-Nya, taqdirnya?

Ataukah ada waktu kematian yang disebabkan karena melanggar sunnatullah?

Alam ini diciptakan dengan hukum alam yang disebut sunnatullah. Benda jatuh ke bawah, bola ditusuk meletus, tali digunting putus, kue diinjak gepeng, nasi di piring dimakan jadi habis, benda dipanaskan memuai, dan sebagainya. Itu semua adalah bagian dari qudrah Allah SWT yang masuk kategori sunnatullah.

Meski juga tidak bisa dipungkiri bahwa ada mu’jizat para Rasul, karomah para wali, atau apapun yang memang menjadi kehendak qudrah-Nya yang peristiwanya berlawanan dengan sunnatullah (hukum alam). Karena qudrah Allah SWT memang lebih tinggi dari pada sunnatullah. Kalau Allah SWT menghendaki terjadi, maka terjadilah.

Tidak ada yang bisa melawan Kehendak-Nya, bahkan sunnatullah itu sendiri. Karena sunnatullah hanyalah hukum “otomatis” perjalanan alam dunia yang pelaksanaannya lebih diserahkan kepada para malaikat-Nya. Dan para malaikat tentu akan sewaktu-waktu bisa berubah manakala perintah yang lebih tinggi memerintahkan mereka.

Meski demikian, pun ada pula kekuatan jahat yang bisa bisa melawan sunnatullah yang disebut sihir yang digerakkan oleh bangsa batiniyah yang bersifat hasud dan jahat. Namun demikian, kekuatan ini juga akan bisa tunduk kepada qudrah Allah SWT bahkan oleh sekedar sunnatullah.

Karena kematian memang di antara taqdir mubram maka sering disalahpahami bahwa semua peristiwa kematian pastilah qudrah atau taqdir Allah SWT, kehendak-Nya. Sehingga muncul ucapan, “mati gak mati opo jare Pengeran”.

Jika ucapan itu benar, bolehkah kita tusuk jantung orang lain atau jantung diri sendiri lalu berucap, “mati gak mati opo jare Pengeran”?. Jika setiap kematian adalah semata qudrah-Nya, mengapa ada ayat al qatlu bi al qatli, nyawa dihukum dengan nyawa?.

Baca Juga  Sarung Sang Guru (4)

Ternyata jika kita dalami lebih jauh maksud ayat tersebut dan dikaitkan dengan sunnatullah, maka kematian belum tentu adalah rencana dari kehendak-Nya semata, utamanya dari sisi waktu kematian. Ada kasus kematian yang terjadi dengan sengaja “menerapkan sunnatullah” sehingga “memaksa qudrah Allah” terlaksana atas peristiwa kematian itu, yaitu dari sisi waktu kematiannya.

Orang menusuk jantung orang lain, menyebabkan jantung tidak berfungsi. Hukum alam akan secara otomatis bekerja, yaitu jika jantung tidak berfungsi maka sistem fisik tubuh tidak akan bisa menopang kehidupan. Maka yang terjadi adalah kematian. Kematian yang belum waktunya. Peristiwa ini disebut pembunuhan jika dilakukan orang lain, bunuh diri jika dilakukan diri sendiri. “Pemaksaan” atas waktu kematian inilah sehingga  menjadi salah satu faktor pembunuhan atau bunuh diri disebut dosa besar.

Bahasa “memakasa qudrah” mungkin seolah bahwa Allah SWT terpaksa. TIDAK. Ini adalah bagian dari kebijaksanaan Allah SWT, menghargai potensi manusia, mendidik manusia agar memahami ciptaan-Nya, mendidik manusia agar bertanggung jawab atas beban kehidupan yang diembannya, menjaga derajat kemu’jizatan para Rasul dan karamah para Wali-Nya.

Di sisi hikmah at tasyri’, dalam tafsir al Misbah, Quraisy Syihab menjelaskan bahwa justru dengan hukum qisas nyawa dibayar nyawa, Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi hak hidup dan menghargai nyawa.

Maka sebenarnya, berucap “mati gak mati opo jare Pengeran”, tidaklah sepenuhnya benar. Tawakkal bukanlah tercermin dari sekedar ucapan yang demikian. Bahkan ucapan itu jika pada kondisi tertentu yang berpotensi menjadikan orang lain atau diri sendiri meninggal maka bisa masuk kategori pembunuhan atau bunuh diri.

Misalnya, ngebut di jalanan yang padat lalu lintasnya. Melepaskan tembakan pada orang lain. Berdiam diri kala ada gelombang tsunami menerjang. Tidak berlindung atau melindungi orang lain semampunya manakala musuh menyerang.

Baca Juga  Kiai Misri dan Mbah Dukun

Lalu bagaimana dengan kondisi pandemi seperti sekarang ini? Apakah berucap, “mati gak mati opo jare Pengeran” adalah sesuatu yang baik bahkan cermin tawakkal? Ataukah ini adalah ekspresi keputus asaan?

Monggo merenung … Hanya diri yang bisa mengukur diri. (mmsm)

Ust. Nashruddin Hilmi S. Ag, M.Pd.I Penulis adalah Wakil Sekretaris Dewan Pendidikan Kabupaten Mojokerto, Ketua ISNU Kecamatan Sooko, Dosen UNIM Mojokerto dan Kepala SMPN Satap Manting-Mojokerto