Empat Pintu Menuju Kecerdasan Hati dalam Islam dan Kaitannya dengan Berhubungan Baik dengan Sesama

Menghormati orang lain adalah salah satu akhlak yang diajarkan oleh agama Islam, termasuk menghormati seorang teman. Islam sendiri menganjurkan untuk menghormati siapapun, maka jelaslah bahwa Islam juga menganjurkan untuk menghormati seorang teman.

Adapun cara penghormatan terhadap seorang teman sendiri banyak dituturkan oleh para ulama terdahulu, salah satunya adalah yang diungkapkan oleh Dzun al-Mishri sebagaimana berikut;

حرمة الجليس أن تسره فإن لم تسره فلا تسؤه ، لم يكسب محبة الناس في هذا الزمان إلا رجل خفيف المرونة عليهم، وأحسن القول فيهم وأطاب العشرة معهم

Menghormati teman adalah dengan cara engkau membahagiakannya, jika engkau tidak dapat membahagiakannya, maka janganlah engkau berlaku jahat kepadanya. Sungguh, yang akan meraih simpati atau cinta orang lain pada zaman sekarang ini hanyalah orang yang bersikap fleksibel, baik tutur katanya terhadap mereka dan baik pergaulannya dengan mereka.

Dan penghormatan terhadap orang lain atau seseorang tersebut tentu tidak berangkat dari ruang hampa, tetapi juga dari adanya kecerdasan hati dalam diri manusia yang didapat dari ilmu dan amal yang diperoleh dari belajar. Oleh karena itulah di dalam kehidupan manusia bukan hanya kecerdasan akal saja yang dibutuhkan, tetapi juga kecerdasan hati. Apabila kebaikan muncul di dalam hati, maka tidak ada yang bisa ditemukan di dalam hati selain Dzat yang Maha Tahu. Dia telah menjadi lentera terang di dalamnya.

Dalam berbagai literatur kitab klasik banyak dijelaskan bagaimana mewujudkan kecerdasan hati, salah satunya yang diungkapkan oleh Dzun Nun al-Mishri yang terdapat dalam kitab Hilyatul Auliya’ wa Thabaqat al-Asfiya’ karya Abu Nu’aim al-Asfahani. Bahwasanya ada empat pintu untuk menuju kecerdasan hati yakni, pintu takut, harapan, cinta, dan rindu.

Keempat pintu tersebut memiliki empat kunci. Kunci untuk menuju pintu takut adalah dengan melaksanakan ibadah fardhu. Kunci menuju pintu harapan adalah dengan melaksanakan ibadah nafilah atau sunnah. Adapun kunci pintu cinta adalah dengan menggemari ibadah. Sedangkan kunci pintu rindu adalah selalu berdzikir kepada Allah Swt dengan hati dan lisan. Hal-hal itulah yang banyak dilakukan oleh orang-orang yang telah mencapai pada derajat kekasih Allah Swt.

Oleh karena itu, seseorang yang ingin meraih derajat tersebut, maka selayaknya mengambil kunci pintu takut. Apabila telah membukanya, maka bisa terhubung menuju pintu-pintu lainnya dan pintu kecerdasan yang terbuka lebar dan tidak terkunci.

Setelah memasukinya, orang tidak akan dapat menahan diri untuk tidak meraih apa yang dilihat ketika itu, yang bisa menambah kemuliaan dan mengangkat derajat seseorang. Orang yang mempunyai kemuliaan dan derajat yang baik, tentu akan memuliakan orang yang ada di sekitarnya.

Selain itu, yang perlu diketahu adalah bukan perasaan takut yang akan menghasilkan ibadah fardhu, tetapi sebaliknya justru ibadah fardhu lah yang bisa mendatangkan rasa takut. Bukan harapan yang akan menghasilkan ibadah sunnah, tetapi ibadah Sunnah lah yang akan menghasilkan harapan.

Hal tersebut bisa diibaratkan dengan kunci yang menghampiri pintu, dan bukan pintu yang mendatangi kunci. Orang yang yang sempurna ibadah fardhunya, maka sempurnalah perasaan takutnya dan yang melakukan ibadah sunnah, berarti dia memiliki harapan.

Barangsiapa yang menyukai ibadah, maka dia telah sampai kepada Allah swt. Dan barangsiapa yang menyibukkan hati dan lisannya dengan berdzikir kepada Allah Swt, maka Allah akan membenamkan perasaan rindu ke dalam hatinya.

Jika kecerdasan hati sudah berada dalam diri manusia menemani kecerdasan akalnya, maka akan mudah untuk membahagiakan orang dan tidak jahat kepadanya. Bisa bersikap fleksibel, baik tutur katanya dan baik dalam pergaulannya. [AA]

0

Alumnus Islamic Studies, International University of Africa, Sudan. Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.