Nur Hasan Alumnus Islamic Studies, International University of Africa, Sudan. Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Sumayyah, Perempuan Yang Setia Dengan Islam Hingga Menjadi Syahidah Pertama

3 min read

Di masa awal dakwah Islam, ada beberapa orang yang termasuk kedalam al-sābiqūna al-Awwalūn, yaitu orang-orang yang pertama kali masuk Islam. Mereka yang masuk Islam di awal bukan hanya lelaki saja, tetapi ada juga perempuan salah satunya adalah Sumayyah. Sumayyah memeluk Islam di generasi awal, sebagaimana dijelaskan dalam Tabaqāt al-Kubrā Karya Ibnu Sa’ad.

Nama lengkapnya adalah Sumayyah binti Khayyath. Ada juga yang menyebutnya dengan Sumayyah binti Khubath. Ia termasuk di antara orang-orang yang pertama masuk Islam. Keluarga Sumayyah sendiri adalah golongan yang miskin, karena ia adalah budaknya Abu Hudzaifah bin al-Mughirah dari kalangan suku Quraisy Bani Makdzum. Walaupun seorang hamba sahaya, Sumayyah mempunyai sifat sabar dan tekun dalam bekerja serta budi pekerti yang baik ketika menjadi budaknya Abu Hudzifah. Kemudian Sumayyah dinikahkan dengan Yasir bin Amir dari Yaman. Dari pernikahannya dengan Yasir, lahirlah Ammar.

Kebahagian Sumayyah kian bertambah, ketika Abu Hudzaifah memerdekakan Ammar dari perbudakan. Setelah tuannya meninggal, keluarga Sumayyah hidup di bawah perlindungan Bani Makdzum sampai Ammar menginjak dewasa dan Sumayyah bersama Yasir memasuki usia tua.

Hingga akhirnya, sebuah kabar gembira bagi seluruh umat manusia tiba. Seorang yang bernama Muhammad SAW datang membawa ajaran Islam. Kabar datangnya Nabi baru mengguncang seantero Mekkah. Ada orang yang tertarik, namun lebih banyak yang menolak. Ammar bin Yasir dengan rasa penasaran, kemudian mendatangi Rasulullah SAW di rumah Arqam untuk mendengarkan dakwah yang dilakukan oleh Nabi SAW secara diam-diam.

Dari putranyalah, Sumayyah dan Yasir kemudian masuk Islam disaat Islam masih dianut segelintir orang. Jumlah pengikut Rasulullah SAW hanya bisa dihitung jari. Saat itu, pengikut Rasululllah SAW yang berasal dari kaum Quraisy terlindungi dari siksaan, tak ada yang berani mengusik mereka. Namun mereka yang berstatus budak mendapat siksaan yang sangat berat, seperti Ammar, Yasir, Sumayyah, Shuhaib, Bilal, dan al-Miqdad.

Baca Juga  Manusia, Tangan Tuhan, dan Kebebasan Diri: Akal, Potensi, dan Jalan Kebahagiaan [2]

Setelah memeluk Islam, Sumayyah dan keluarganya menjalankan perintah ajaran Islam secara diam-diam, bahkan untuk melaksanakan salat, Sumayyah dan keluarganya melakukannya di rumah secara tertutup atau di gua supaya tidak ketahuan oleh para kafir Quraisy yang memusuhi Islam. Karena pada waktu itu, jika yang masuk Islam adalah dari kalangan bangsawan dan berpengaruh. Para kafir Quraisy lewat pemimpinnya yaitu Abu Jahal, hanya memberikan gertakan. Namun jika yang masuk Islam adalah orang-orang yang rendah martabatnya, miskin dan dari kalangan budak, maka akan disiksa dengan kejam oleh kafir Quraisy.

Ketika mengetahui Sumayyah dan keluarganya telah masuk Islam, kafir Quraisy terutama Bani Makhzum marah besar, karena merekalah yang selama ini melindungi Sumayyah dan keluarganya. Teror dan siksaan mulai mendera mereka. Kaum kafir Quraisy memaksa Sumayyah bersama suami dan anaknya melepas keyakinan yang baru dianutnya. Akan tetapi, Sumayyah hanya senantiasa memohon perlindungan dan pertolongan dari Allah SWT.

Kemudian orang-orang kafir Quraisy tanpa rasa iba menyiksa dan menyeret mereka di jalanan dan membawa mereka ke padang pasir di tengah terik matahari. Para kafir Quraisy tersebut memakaikan baju besi kepada Sumayyah dan keluarganya untuk menambah penderitaannya. Setelah keringat mereka berhenti mengalir, tubuh mereka kering, dan darah mereka mulai bercucuran, mereka dipaksa untuk kembali murtad dari agama Islam dan dipaksa untuk menghina dan mencaci Rasulullah SAW. Siksaan-siksaan tersebut hampir setiap hari dialami oleh Sumayyah setelah ketahuan masuk Islam.

Bahkan Rasulullah SAW pun secara khusus berdoa untuk keluarga Sumayyah ketika sedang mendapat siksaan, “Bersabarlah keluarga Yasir, sesungguhnya balasan kalian adalah surga”. Keluarga Sumayyah pun terus bersabar meski siksaan yang diterima semakin hari semakin berat, hingga mereka lemah tak berdaya. Siksaan itu pun mencapai puncaknya, di mana di suatu malam tiba-tiba Abu Jahal mendatangi keluarga Yasir. Ia menjumpai Sumayyah lalu segeralah mulut Abu Jahal melontarkan penghinaan yang sangat kotor pada Sumayyah.

Baca Juga  Pentingnya Menyadari Bahaya Dosa yang Tak Tampak

Kaki dan tangan keluarga Sumayyah diikat kemudian di lempar di atas krikil yang tajam dan panas. Di atas krikil itulah, mereka kemudian dicambuki satu persatu agar meninggalkan Islam. Di tengah-tengah penyambukan tersebut, Sumayyah justru menentang Abu Jahal. Sehingga usaha Abu Jahal untuk membuat Sumayyah meninggalkan Islam sia-sia, karena Sumayyah lebih mempertahankan keimanannya dengan segala risiko yang terjadi.

Nyali Abu Jahal mengerut ketika mendengar tantangan Sumayyah dan keteguhannya untuk tetap memeluk Islam. Bahkan Abu Jahal tidak habis pikir, bagaimana seorang wanita yang lemah menentangnya. Abu Jahal tidak hanya dilecehkan secara pribadi, tetapi derajat dan martabatnya sebagai tokoh besar kafir Quraisy juga dilecehkan.

Karena hal tersebut, Abu Jahal begitu marah. Kemudian ia mengangkat tombak dan menghujamkannya ke dada Sumayyah. Riwayat lain menyebutkan Abu Jahal menancapkan tombaknya ke dalam kemaluan Sumayyah. Seketika Sumayyah, meninggal dan menemui Tuhannya. Ia dibunuh Abu Jahal, karena tidak mau keluar dari Islam setelah disiksa dengan berbagai siksaan oleh Kafir Quraisy. Pengorbanan Sumayyah adalah wujud tanda bakti dan keteguhan iman seseorang terhadap agamanya. Karena besar kecil seseorang, tergantung besar kemauan dan kesediaannya untuk berkorban.

Walaupun masa Islamnya Sumayyah tidak begitu lama, namun namanya selalu abadi. Lewat Sumayyah lah, lahir sahabat yang begitu dicintai oleh Rasulullah SAW yaitu Ammar. Ammar sendiri adalah putra Sumayyah yang ikut disiksa oleh Abu Jahal, namun ketika Ammar disiksa oleh Abu Jahal sampai tidak sadarkan diri dan tidak sadar juga kalau telah dituntun oleh para kafir Quraisy keluar Islam. Namun setelah sadar mengucapkan hal tersebut, Ammar menghadap Rasulullah SAW dan mengatakan bahwa dirinya telah mengucapkan untuk keluar Islam dalam keadaan tidak sadar. Kemudian Rasulullah SAW menyuruhnya untuk masuk Islam kembali, jika masih yakin dengan agama Islam. Lalu Ammar melakukan hal tersebut, namun ibunya meninggal ditangan Abu Jahal karena menentang Abu Jahal dengan tidak mau meninggalkan Islam.

Baca Juga  Kisah Cinta Sufi (5): Khusrau dan Syirin - Takdir Memang Tak Selalu Seperti yang Diharapkan

Di masa awal Islam, mengucapkan dua kalimat syahadat bukanlah hal mudah. Seseorang harus siap kehilangan dunianya, termasuk kehilangan keluarganya. Sebagaimana Sumayyah yang berani mengorbankan nyawanya untuk membela kebenaran agama Allah SWT. Namanya tetap dikenang sepanjang masa, walaupun keislamannya hanya sebentar karena dibunuh oleh Abu Jahal dan ia perempuan yang mati syahid pertama dalam Islam. [MZ]

 

Nur Hasan Alumnus Islamic Studies, International University of Africa, Sudan. Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *