Tasawuf Sebagai Solusi Kesehatan Mental di Era Modern

Ilustrasi refleksi spiritual melalui dzikir dan ketenangan batin sebagai solusi krisis kesehatan mental manusia modern.

Manusia modern merupakan ”spesies” yang diidamkan oleh sistem kapitalisme. Namun,  pada hakikatnya kehidupan modern justu membawa manusia kehancuran tatanan kejiwaan. Menurut Erich From, manusia modern mengalami alienasi, yaitu keterasingan dari alam, sesama manusia, dan dirinya sendiri.

Dunia modern memang banyak membawa dampak positif meskipun dampak negatifnya tentu juga tidak bisa dinafikan. Ia menjadikan manusia rapuh dan mudah sakit, baik secara lahiriah maupun batiniah.

Penyebabnya tidak lain adalah keinginan untuk melakukan sesuatu secepat mungkin, bukan sebaik mungkin. Akibatnya, manusia mengalami berbagai problem terkait kesehatan mentalnya.

Berbagai Kelelahan mental yang dialami, seperti susah fokus, mudah cemas dan mudah emosi, dikarena otak terus menerus dipaksa menerima informasi yang begitu cepat. Tekanan produktifitas yang tinggi semnakin melahirkan perasaan tidak pernah cukup, gangguan tidur, dan bornout.

Dunia modern dengan kemajuan teknologi dan informasinya faktanya telah melahirkan manusia-manusia yang terus-menerus aktif dalam ruang digital. Akibatnya, banyak manusia-manusia  butuh akan validasi, merasa insecure, dan suka suka membandingkan dirinya dengan orang lain.

Keinginan serba cepat yang disertai dengan kemajuan teknologi itu juga melahirkan manusia individualis yang terisolasi dari ruang sosialnya. Mereka lebih suka menyendiri untuk menyelesaikan target produktivitasnya, daripada harus berbaur dengan lingkungan sekitarnya. Isolasi sosial kemudian melahirkan jiwa-jiwa yang merasa semuanya bisa dilakukan sendiri tanpa bantuan orang lain. Dampak terburuknya adalah lahir manusia-manusia yang egois dan apatis.

Perekonomian dan masa depan yang tidak pasti, disertai banjir informasi serta berbagai tuntutan kehidupan membuat manusia hidup dengan rasa tidak aman dan cemas terhadap masa depan. Bahkan, citra tubuhpun merasa tidak nyaman. Sehingga hal-hal yang tidak realistispun dilakukan. Puncak dari semua itu adalah pola istirahat yang berkurang sehingga berakibat pada emosi yang tidak ada kestabilan.

Semakin maju kehidupan sebuah masyarakat, maka semakin banyak pula hal-hal yang harus dihadapi oleh setiap individu. Kehidupan yang nyaman dan tentram pun semakin sulit dicapai, karena harus memenuhi kebutuhan yang terus meningkat di tengah persaingan yang semakin ketat.

Bebagai hal di atas menunjukkan, bahwa dunia modern dengan kemajuan teknologi dan informasinya berdampak besar terhadap kesehatan mental manusia. Jika dirunut, akar masalah berbagai problem kesehatan mental manusia di era modern mempunyai hubungan erat dengan aspek spiritual. Ketidakmampuan dalam membendung hawa nafsu, dan pola pikir yang mengedepankan kebutuhan jasmani yang bersifat materialistik telah mengabaikan kebutuhan spiritualitas.

Pola pikir yang hanya mengedepankan kebutuhan jasmani itu membuat manusia terlena dengan kemegahan, kemudahan, kemajuan yang ada. Mereka menganggap bahwa modernisasi membawa kebahagiaan, ketentraman, dan kesejahteran yang nyata. Padahal, yang sering terjadi adalah sebaliknya.

Islam sebagai agama yang universal telah mengajarkan untuk hidup moderat, antara kebutuhan jasmani dan rohani. Oleh sebab itu, ajaran Islam selalu relevan dalam memberikan solusi, termasuk terkait dengan kesehatan mental manusia di era modern. Salah satunya adalah melalui ajaran tasawuf. Melalui tasawuf, Islam mengajarkan tentang bagaimana cara menjalani hidup dengan berakhlak mulia, sopan santun, dan tidak menuruti hawa nafsu.

Sayyid Muhammad al-Za’balawi, dalam kitabnya Tarbiyyatu al-Muarahiq bayna al-Islam wa ‘Ilm al Nafs, menyatakan bahwa akhlak mulia dan sopan santun akan mengurangi tingkat tekanan mental dan akan menyebabkan panjang usia. Namun, sifat-sifat luhur kemanusiaan tersebut hanya dapat diraih dengan penyucian diri serta pendidikan mental dan moral yang ada dalam tasawuf.

Imam al-Ghazali dalam kitab Ayyuhal Walad menjelaskan, tasawuf adalah istiqamah bersama Allah SWT. dan harmonis dengan makhluk-Nya. Maka, ajaran tasawuf seperti tazkiyatun nafs, rasa syukur, qana’ah, muraqabah, mahabbah, mujahadah, ikhtiar, tawakkal, sabar, dan lain sebagainya sangat relevan dalam menjaga kesehatan mental manusia di era modern.

Kesehatan mental dalam diri seseorang ditandai dengan kemampuannya untuk penyesuaian diri terhadap lingkungannya, menjaga keseimbangan hidup, serta mengembangkan potensi diri semaksimal dan sebaik mungkin untuk mendapat ridho Allah swt. Namun, itu semua tidak akan tercapai, jika pola pikir rusak dan jiwa sakit.

Oleh karena itu, tasawuf mengajarkan tentang syukur supaya manusia dapat memaknai hakikat bahagia dalam hidup. Rasa syukur mendidik manusia untuk rendah hati, mempunyai ketenangan hidup, kepedulian terhadap sesama dan diri sendiri, hidup sederhana dan tidak boros.

Qana’ah mengajarkan manusia untuk tidak berlebihan, tidak rakus, kesederhanaan hidup, dan tidak merendahkan diri untuk mendapatkan sesuatu. Adapun mahabbah mendidik manusia untuk mempunyai kasih sayang dan kepeduliaan kepada sesama hamba Allah swt.

Mujahadah mendidik manusia menjadi disiplin, mempunyai rasa tanggung jawab, selalu berintrospeksi diri. Sedangkan, muraqabah mengajarkan manusia untuk tidak mudah menyakiti ke sesama mahluk Tuhan, sebab dirinya merasa selalu diawasi oleh Tuhan. Kemudian dzikir mengajarkan manusia untuk mengingat kembali esensi hidup di dunia.

Ikhtiar mendidik manusia tentang pentingnya sebuah proses dalam menempuh sesuatu. Adapun tawakkal mengajarkan untuk tidak mudah putus asa, bersedia menerima hasil apapun dari sebuah proses yang telah dilalui disertai dengan ketenangan batin, dan tidak mudah bergantung kepada mahluk.

Sabar mengajarkan manusia untuk tetap tenang di segala situasi dan kondisi, serta merendahkan hati dalam menerima sesuatu. Sedangkan, zuhud menjaga manusia untuk tidak gila harta, tidak mengejar kemewahan demi status dunia.

Ihsan mengajarkan pentingnya menjadi yang terbaik tanpa merendahkan yang lain yang secara tidak langsung dapat melahirkan yaitu kepekaan hati, profesionalitas, integritas, dan ibadah yang berkualitas. Adapun riyadhah melatih manusia untuk menunda kesenangan, termasuk kesenangan bermedia sosial. Dan khauf mendidik manusia memiliki rasa kehati-hatian.

Raja’ atau berharap kepada Allah SWT. mengajarkan manusia untuk tetap optimis dan tidak takut gagal, serta tidak mudah depresi di saat menemui kegagalan. Sedangkan, taubat mendidik manusia selalu merefleksikan dirinya atas segala yang diperbuatnya, dan sesegera mungkin meminta ampunan kepada yang Maha Esa.

Tazkiyatun Nafs atau penyucian jiwa mendidik manusia tentang pentingnya membersihkan jiwa dari berbagai penyakit hati, seperti riya’, namimah, hasud, takabbur, dan sebagainya. Karena hati yang sakit, berdampak kepada kesehatan fisik. Ketika hati kotor dan dipenuhi keburukan, segala sesuatu akan terlihat kotor dan buruk.

Berbagai ajaran dalam tasawuf sebagaiman disebut di atas adalah solusi bagi kesehatan mental manusia di era modern. Jika hati seseorang sehat segala perilaku yang dimunculkannya akan baik, tetapi jika hatinya sakit maka perilaku yang buruk akan muncul. Karena, perbuatan adalah manifestasi dari hati dan pikiran.

0

Alumnus Islamic Studies, International University of Africa, Sudan. Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.