Nadirsyah Hosen Dosen Ilmu Hukum di Monash University Australia dan Rais Syuriyah PCI NU Australia - New Zealand

Sarung Sang Guru (5): Dikenal Allah

2 min read

Ibnu Arabi
Ibnu Arabi

Dikenal Allah

Dalam kitab Fadhail al-Shahabat karya Imam al-Nasa’i disebutkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda kepada Ubay bin Ka’ab, “Sungguh Allah Swt. memerintahkanku untuk membacakan Alquran kepadamu.” Ubay menanyakan, “Allah menyebut namaku, Ya Rasul?” Rasul menegaskan, “Ya, Allah menyebut namamu.” Tumpahlah air mata Ubay bin Ka’ab.

Adakah yang lebih membahagiakan seorang hamba ketika Sang Khaliq mengenalnya? Kita tidak heran kalau seorang sahabat Nabi yang ahli Alquran sampai dikenali dan disebut namanya oleh Allah Swt, tapi bagaimana dengan kita hamba yang faqir dan penuh dosa ini?

Mungkin kita seperti pemabuk yang menitipkan pertanyaan kepada Tuhan lewat Nabi Musa: “Aku adalah peminum, aku tidak pernah shalat, tidak puasa, atau amalan shaleh lainnya, tanyakan kepada Allah apa yang dipersiapkan untukku oleh-Nya nanti.”

Ketika Nabi Musa memberitahu jawaban Tuhan bahwa pemuda itu akan diberikan tempat yang paling buruk, pemabuk itu berdiri dan justru menari-nari dengan riang gembira. Nabi Musa pun heran, kenapa pemabuk itu justru gembira, padahal ia dijanjikan tempat yang paling buruk.

Beliau bertanya kepada pemabuk itu, ada apa gerangan hingga segembira itu.
“Alhamdulillah. Saya tidak peduli tempat mana yang telah Tuhan persiapkan bagiku. Aku senang karena Tuhan masih ingat kepadaku. Aku pendosa yang hina-dina. Aku dikenal Tuhan! Aku kira tidak seorang pun yang mengenalku,” jawab pemabuk itu dengan rasa bahagia yang terpancar di wajahnya.

Ya Rabb, Engkau masih berkenan mengenali kami para pendosa ini, bukan?

Tabik,

Islam agama yang mudah

Kitab Raf’ul Haraj fi as-Syari’ah al-Islamiyah ini berasal dari disertai doktor Syekh Salih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram. Abah saya yang punya kitab ini, makanya ada tandatangan Abah. Kitab ini saya bawa ke Melbourne buat menambah wawasan saya. Makna dari judul kitab ini artinya “menghilangkan kesulitan dalam Syariat Islam”.

Baca Juga  Mengeksplorasi Imajinasi Anak: Obrolan Jelang Tidur

Salah satu bab-nya membahas bagaimana Nabi Muhammad Saw. menjelaskan kemudahan ajaran Islam, di mana beliau Saw. sangat khawatir memberatkan umatnya, dan bagaimana Nabi memerintahkan para sahabatnya bersikap meringankan dan melarang mereka memberatkan urusan agama Allah ini.

Dalam bab ini dikumpulkan sekitar 30 riwayat hadits seputar kemudahan ajaran Islam. Salah satunya adalah riwayat yang menceritakan protes jamaah kepada Imam shalat.

Suatu hari, sahabat Muadz bin Jabal r.a. shalat Isya berjamaah bersama kaumnya. Di tempat tersebut ia menjadi imam. Sewaktu masih berlangsung jamaah shalat tersebut, salah seorang makmum mufaraqah (keluar dari jamaah), untuk kemudian dia melakukan shalat munfarid (sendirian).

Rupanya, ia merasa keberatan tatkala sang imam membaca Surah al-Baqarah dalam shalatnya. Usai shalat, Muadz ditodong sejumlah pertanyaan dari sebagian jamaah, sebagaimana termaktub dalam kitab Shahih Bukhari.

“Apakah kamu berlaku munafik wahai fulan?” tanya salah satu jamaah kepada Muadz.

“Tidak,” jawab Muadz.

Kurang puas dengan jawaban tersebut, mereka mendatangi Rasulullah saw untuk mengadukan persoalan ini.

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami para pekerja penyiram bekerja pada siang hari, dan sesungguhnya Mu’adz shalat Isya’ bersamamu, kemudian dia datang mengimami kami dengan membaca surah Al-Baqarah,” protes mereka.

Nabi pun mengklarifikasi persoalan ini kepada Muadz. Setelah mengetahui duduk permasalahan. Nabi kemudian memberikan nasihat kepada sahabatnya itu. “Mengapa kamu tidak membaca saja surat al-A’la, atau ‘Wallaili idzaa yaghsyaa’ (al-Lail) atau surat ad-Dhuha?” tutur Nabi. “Karena yang ikut shalat di belakangmu mungkin ada orang yang lanjut usia, orang yang lemah, atau orang yang punya keperluan.”

Imam shalat saja diminta gak nyusahin jamaahnya.

Tabik,

Ketika Tuhan Menjauh

Memahami Alquran jangan hanya lewat terjemahan, bisa berbahaya karena boleh jadi ada kesan ayatNya bertentangan. Contoh:
‎وَيَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ فَكُلَا مِنْ حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ

Baca Juga  Manusia, Tangan Tuhan dan Kebebasan Diri: Kreativitas, Ilmu, dan Iman [3]

(Dan Allah berfirman): “Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan istrimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon INI, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim”. (QS Al-A’raf ayat 19)

Namun di ayat berikutnya:
‎وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُلْ لَكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُبِينٌ .
.
Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon ‘itu’ dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (QS al-A’raf:22).

Kenapa di ayat pertama menggunakan diksi “pohon Ini” sedangkan di ayat kedua “pohon Itu”? Mana yg benar? “Ini” atau “itu”?

Hadzihi itu isim isyarah lil qarib. Kata tunjuk yang berarti dekat. Sedangkan tilka (menjadi tilkuma karena dua orang) itu isim isyarah lil ba’id alias kata tunjuk jauh.

Saat Allah memberi larangan “jangan dekati pohon INI” kedudukan Nabi Adam dan Siti Hawa masih sangat dekat dengan Allah, seperti diindikasikan kata “ini”. Begitu keduanya melanggar larangan, Allah menjauh dari keduanya dan berseru: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon Itu”. Pelanggaran keduanya membuat Allah menjauh, seperti diindikasikan penggunaan kata “itu.”

Jadi kedua ayat itu tidak bertabrakan maknanya. Justru menunjukkan ada isyarat yang sangat dalam maknanya hanya lewat kata tunjuk ini dan itu saja. Sedikit pengetahuan bahasa Arab dan rajin membuka kitab tafsir akan membantu kita memahami ayatNya.

Ya Rabb, mohon jangan menjauh dari kami meski kami sering melanggar laranganMu. Tetaplah kami dalam kata “ini”, jangan berubah menjadi “itu”.

Tabik,

GNH

[HM]

Nadirsyah Hosen Dosen Ilmu Hukum di Monash University Australia dan Rais Syuriyah PCI NU Australia - New Zealand