Khairun Niam Mahasiswa sekaligus santri Pondok Pesantren Nurul Ihsan Yogyakarta

Cara Mengurangi Fatherless dari Al-Qur’an

3 min read

Akhir-akhir ini fenomena fatherless menjadi isu yang cukup banyak dibicarakan di media sosial. Pasalnya, Indonesia menjadi fatherless country nomor tiga di dunia. Melansir dari narasi.tv salah satu penyebab terjadinya fatherless pada anak adalah masih kentalnya budaya patriarki di Indonesia. Mifta Nurul Rosida dalam mubadalah.id juga menyebutkan bahwa masalah ekonomi turut menjadi penyebab terjadinya fatherless pada anak.

Berangkat dari dua penyebab yang telah disebutkan diatas, sejatinya para ayah perlu memahami bahwa peran laki-laki (ayah) dalam rumah tangga tidak hanya tentang mencari nafkah, namun sebagai imam, tanggung jawab yang harus dipenuhi lebih dari itu. Doktrin tugas utama “laki-laki mencari nafkah” yang ada pada masyarakat sepertinya perlu untuk didiskusikan kembali. Sebagian masyarakat memahami bahwa nafkah hanya sebatas kebutuhan materi saja.

Padahal, jika kita tarik ke makna yang lebih luas nafkah disini bisa diartikan sebagai tanggung jawab penuh seorang laki-laki sebagai suami dan ayah. Tanggung jawab sebagai suami adalah membimbing, dan memberikan kebutuhan dzohir dan batin sedangkan tanggung jawab penuh sebagai ayah adalah mendidik, mengasuh serta memberikan perhatian lebih dalam menemani proses tumbuh kembang anak.

Kisah Para Ayah dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an sendiri telah mencontohkan dengan menampilkan beberapa kisah-kisah para ayah-anak serta bentuk komunikasi yang terjadi antara mereka berdua. Para ayah di sini juga turun berperan penting serta ikut terlibat dalam mendidik anak. Beberapa kisah ayah-anak yang diabadikan dalam al-Qur’an diantaranya kisah Nabi Ibrahim, Nabi Ya’qub, Luqman.

Pertama, kisah nabi Ibrahim dan Ismail yang terekam dalam QS. ash-Shaffat ayat 102. Dalam ayat ini Ibrahim bercerita kepada Ismail bahwa dalam mimpinya ia diperintahkan untuk menyembelih Ismail. Namun, tanpa ragu sedikitpun Ismail dengan tegas menjawab “kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insyaallah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Yang menjadi point dalam kisah Ibrahim dan Ismail di sini adalah bentuk kasih sayang ayah kepada anak. Walaupun diperintahkan untuk menyembelih Ismail, namun Ibrahim tetap bertanya terlebih dahulu pendapat ismail tentang mimpi tersebut. Sikap yang ditampakan oleh Nabi Ibrahim merupakan sikap demokratis yang mana seorang ayah seharusnya tidak otoriter terhadap anaknya.

Baca Juga  Tetangga, Cermin Toleransi Agama Kita

Kedua, kisah Nabi Ya’qub. Kisah nabi Ya’qub dan anak-anaknya dinarasikan cukup panjang dalam al-Qur’an yakni dalam surah Yusuf. Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir menjelaskan bahwa surah ini merupakan Interaksi Yusuf kepada ayah dan saudara-saudaranya. Bahkan terkadang dalam surah ini mengandung kisah-kisah sedih dan bahagia. Dimulai antara kedekatan Yusuf dan Ya’qub serta saudara-saudaranya, yusuf yang lempar ke dalam sumur dan kisah yusuf yang dijual.

Kedekatan Ya’qub dan Yusuf tampak pada ketika Yusuf bercerita tentang mimpinya dimana ia melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan yang bersujud kepadanya. Mendengar apa yang diceritakan Yusuf kemudian Ya’qub memerintahkan Yusuf untuk tidak menceritakan mimpi tersebut kepada saudara-saudaranya, karena Ya’qub mengetahui bahwa saudara-saudaranya cemburu kepada Yusuf dengan berkata “mereka akan membuat tipu daya”  dengan penekanan sekali lagi “tipu daya besar”.

Bentuk kasih sayang Ya’qub kepada Yusuf terlihat pada kata ya bunayya (wahai anakku). Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah menjelaskan ya bunayya merupakan sebuah kata yang digunakan untuk menggambarkan kasih sayang. Kasih sayang Ya’qub kepada Yusuf disambut dengan penghormatan. kata ya abati (wahai ayahku) merupakan sebuah simbol kedekatan antara ayah dan anak. kedekatan tersebut diakui oleh ayat ini sehingga bukan nama ayahnya yang disebut melainkan kedudukannya sebagai orang tua.

Selain Yusuf yang merupakan tokoh protagonis dalam ayat ini, Ya’qub juga terlibat interaksi dengan anak-anaknya yang lain. Sikap sabar seorang ayah dalam menghadapi anak-anaknya yang nakal bahkan berbohong kepadanya ketika mereka mengatakan bahwa Yusuf telah dimakan srigala. Quraish Shihab menyebutkan bahwa Nabi Ya’qub justru tidak menghukum anak-anaknya melainkan hanya bersabar dan meminta bantuan kepada Allah. Hal ini bertujuan untuk menjaga keseimbangan emosinya agar hidupnya tetap stabil dan tidak lepas dalam kemarahan.

Baca Juga  Menonton Unfinished Indonesia, Menghayati Keberagaman dan Moderasi Beragama

Ketiga, Kisah Luqman. Interaksi Lukman dan anak-anak nya menurut penulis lebih nyaman disebut sebagai nasihat. Nasihat ini di disebutkan dalam al-Qur’an pada surah lukman ayat 13-19. Adapun nasihat lukman diantaranya untuk tidak mempersekutukan Allah, menghormati kedua orang tua dengan catatan tidak memaksa untuk mempersekutukan Allah, mengerjakan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar  kemudian bersabar, dan yang terakhir untuk jangan sombong dan angkuh.

Quraish Shihab talam Tafsir al-Misbah menjelaskan bahwa nasihat-nasihat yang disampaikan Luqman mencakup pokok-pokok tuntunan agama. Didalamnya terdapat tiga unsur ajaran dalam al-Qur’an yaitu akidah, syariat dan akhlak. Dalam nasihat tersebut terdapat akhlak kepada Allah, kepada orang lain dan kepada diri sendiri. Terdapat pula perintah moderasi dan perintah bersabar yang merupakan syarat mutlak meraih sukses, duniawi dan ukhrawi.

Meminimalisir Fatherless Pada Anak

Ketiga sosok ayah yang telah penulis gambarkan sebelumnya menunjukan tiga sikap yang berbeda dalam pola asuh anak. Nabi Ibrahim lebih cenderung dengan sikap demokratis, Nabi Ya’qub cenderung mengajarkan sikap sabar, sedangkan Luqman lebih kepada menanamkan sikap spiritual dan sosial.

Hemat penulis interaksi antara ayah-anak yang dicontohkan dalam al-Qur’an dapat dijadikan sebagai role model dalam melakukan pendekatan terhadap anak. Walaupun Nabi Ibrahim dan Nabi Ya’qub bertugas menyampaikan risalah tuhan tetapi dari kisah diatas kita bisa melihat adanya komunikasi yang baik. Oleh sebab itu, para ayah yang katanya “sibuk bekerja” seharusnya dapat meluangkan waktu walau sekedar berkomunikasi dengan anak.

Father parenting yang digambarkan dalam al-Qur’an melalui kisah para ayah seyogyanya bisa menjadi parameter yang harus dilakukan ayah dalam berkomunikasi, mendidik, serta memberikan perhatian yang lebih. Seandainya para ayah bisa melakukan hal tersebut penulis kira akan dapat meminimalisir fenomena fatherless yang terjadi pada anak hari ini. Wallahu a’lam bish shawab

Khairun Niam Mahasiswa sekaligus santri Pondok Pesantren Nurul Ihsan Yogyakarta