Khairun Niam Mahasiswa sekaligus santri Pondok Pesantren Nurul Ihsan Yogyakarta

Pesantren dan Transmisi Keilmuan Islam di Indonesia

2 min read

Sumber: pesantren.id

Pesantren bukanlah satu-satunya lembaga pendidikan Islam di Indonesia. Namun, berangkat dari banyaknya alumni-alumni pesantren yang mempunyai peran besar di tengah-tengah masyarakat dalam mengajarkan ilmu agama menjadi sebuah bukti bahwa saat ini pesantren masih menjadi pusat keilmuan Islam di Indonesia. Selain itu sistem pendidikan yang telah berkembang di pesantren menjadikannya nilai plus tersendiri.

Dilihat dari coraknya sendiri hari ini pesantren terbagi menjadi dua tipe yaitu pesantren tradisional dan pesantren modern. Pada pesantren dengan corak tradisional biasanya dapat dilihat dengan sistem pengajaran yang masih mengkaji kitab-kitab klasik dengan metode pengajaran bandongan dan sorogan. Sedangkan pesantren modern biasanya lebih cenderung memasukkan mata pelajaran umum dalam kurikulum pesantren.

Walaupun terlihat seperti telah terjadi dikotomi dalam sistem pendidikan di pesantren tetapi secara substansinya pesantren tetap menjalankan misi utamanya dalam mentransmisikan keilmuan Islam. Hal ini disebabkan pesantren mempunyai ciri khas dalam tradisi keilmuannya. Dalam proses transmisi keilmuan, pesantren menggunakan kitab kuning sebagai kitab standart dalam disiplin keilmuan.

Dalam tradisi pesantren, selain diajarkan norma agama seperti mengaji dan mengkaji ilmu-ilmu keislaman, para santri juga diajarkan norma sosial seperti mengamalkan serta bertanggung jawab atas apa yang telah mereka dapatkan. Dimulai dari nilai-nilai kesederhanaan, kemandirian, semangat kerja sama, solidaritas, tanggung jawab, dan keikhlasan.

Kitab Kuning dan Tradisi Keilmuan Pesantren

Seperti yang telah penulis katakan sebelumnya bahwa dalam sistem pengajaran dan pembelajaran, pesantren mempunyai cirikhas tersendiri dalam tradisi keilmuannya. Salah satu tradisi agung (Great tradition) ­–meminjam istilah Martin Van Bruinessen- dalam tradisi pengajaran agama Islam di Indonesia muncul di pesantren Jawa dan lembaga-lembaga serupa di luar Jawa serta Semenanjung Malaya.

Baca Juga  Antara Mengikuti Idola dan Menganut Sebuah Keyakinan

Adapun tradisi agung yang dimaksud Martin di sini adalah penggunaan kitab-kitab klasik di pesantren dalam mentransmisikan keilmuan Islam tradisional.  Di Indonesia sendiri kitab-kitab klasik ini dikenal dengan kitab kuning. Sedangkan dalam kalangan pesantren kitab kuning sering kali disebut dengan “kitab gundul” karena tidak terdapat harakat (tanda baca) dalam penulisannya. Penggunaan kitab kuning inilah yang menjadikan pesantren berbeda dengan lembaga pendidikan Islam  lainnya.

Sebagai sebuah identitas yang sudah melekat dalam tradisi keilmuan pesantren di Indonesia, kitab kuning tidak bisa dilepaskan begitu saja dalam proses pengembangan ilmu-ilmu keislaman. Mengutip dari Zulkhoirian Syahri dalam artikelnya bahwa kitab kuning mempunyai peran besar yang tidak hanya dalam transmisi ilmu pengetahuan Islam di kalangan santri, tetapi juga di tengah masyarakat muslim Indonesia secara keseluruhan.

Penulis jadi teringat ketika nyantri di Kudus beberapa tahun lalu. Kalau tidak salah setiap Jum’at ba’da Subuh terdapat kajian Tafsir Jalalain yang di isi oleh alm. KH. Sya’roni Ahmadi Kudus di masjid Menara Kudus. Pada waktu itu semua kalangan, santri, non santri, bapak-bapak, ibu-ibu dari yang muda sampai yang tua berbondong-bondong mengikuti pengajian tersebut dengan membawa kitabnya masing-masing. Selain di Kudus, di daerah tempat penulis tinggal (Kalimantan Barat) beberapa kali penulis temukan kajian kitab kuning setiap minggu ba’da Subuh yang di adakan di sebuah masjid. Sebuah fenomena yang sangat menarik bagi penulis khususnya.

Adapun metode pembelajarnnya terdapat dua metode yang sering digunakan dalam kajian kitab kuning di pesantren. yaitu metode sorogan dan metode bandongan. Mengutip dari Ensiklopedia Nusantara sorogan adalah metode dimana santri menyodorkan kepada kyai atau ustadz untuk menyimak bacaan kitabnya. Sedangkan bandongan artinya berbondong-bondong mendatangi pengajian kyai. Sederhananya sorogan dilakukan secara individu sedangkan bandongan dilakukan kelompok/beramai-ramai.

Baca Juga  Tentang Politik Dinasti Menurut Imam Abu Hamid al-Ghazali

Berdiri di Tengah-tengah Modernitas

Dalam menghadapi modernitas serta upaya dalam mempertahankan tradisi keilmuannya, sekarang ini banyak pesantren di Indonesia ada yang memadukan sistem pendidikan formal dan pondok pesantren. tentu saja masing-masing memiliki keunggulan yang berbeda-beda. Biasanya sekolah formal diisi dengan pengetahuan umum sedangkan non-formal di isi dengan kajian kitab-kitab klasik. Dalam dunia pesantren sekolah non formal ini disebut dengan madrasah diniyah yang mana materi pembelajarannya fokus pada ilmu-ilmu keagamaan dan diajarkan dengan dua metode yang telah disebutkan sebelumnya.

Di tengah-tengah modernitas pesantren mampu mempertahankan tradisi keilmuan melalui pembelajaran kitab-kitab klasik. Dalam menghadapi tuntutan zaman yang terus berkembang pesantren mengambil sikap yang tidak apatis. Hal ini berangkat dari banyaknya pembarharuan sistem, tradisi, dan kurikulum tetapi tetap dengan prinsip al muhafazatu ‘ala al-qadim al-salih wal akhdzu bil jadidil aslah.

Selain sebagai sebuah lembaga pendidikan yang berfungsi mempertahankan tradisi keilmuan di Indonesia, pesantren juga diperkaya dengan banyak tradisi keislaman seperti tahlilan, ziarah kubur, sholawatan dan taradisi-tradisi lain yang berhubungan dengan tradisi ulama terdahulu. Oleh sebab itu di era modernitas ini pesantren mempunyai peran yang sangat besar dalam mempertahankan berbagai tradisi intelektual Islam tradisional serta tradisi seni dan budaya agar tidak tergeser oleh majunya modernitas di Indonesia.

Khairun Niam Mahasiswa sekaligus santri Pondok Pesantren Nurul Ihsan Yogyakarta