Nuzula Nailul Faiz Alumnus Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga

Beribadah Itu Harus Ikhlas

3 min read

Jika surga dan neraka tak pernah ada,
Masihkah kau bersujud pada-Nya
Jika surga dan neraka tak pernah ada,
Masihkah kau menyebut nama-Nya.

Penggalan lagu “Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada” yang dipopulerkan Chrisye dan Ahmad Dhani itu membuat kita merenung. Lagu itu seperti menampar kemapanan “beribadah” kita. Lirik-liriknya mengantarkan kita untuk kembali menilik maksud ibadah kita: apakah benar tulus untuk beribadah kepada Allah, dimana sejak awal kita bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Dia, atau hanya karena mengharapkan kenikmatan surga dan takut azab neraka, yang sebenarnya hanya makhluk? Puncaknya, kita diberikan pertanyaan sekaligus sindiran menohok: jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kita mau bersujud pada Allah?

Lagu itu sebenarnya mengajak kita untuk beribadah dengan ikhlash. Beribadah dengan ikhlash sendiri tidak hanya perintah yang berlaku pada umat Nabi Muhammad SAW. Perintah untuk beribadah dengan ikhlash termasuk perintah pokok dalam Taurat dan Injil. Itu perintah pokok yang sudah disyariatkan sejak nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad SAW. Hal ini bisa dilihat dari QS. Al-Bayyinah Ayat 5 yang berbunyi:

﴿ وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ ٥ ﴾

Artinya: “Mereka (orang-orang ahli kitab) tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif (istikamah), melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus (benar).”

Perintah ini juga disyariatkan untuk umat Nabi Muhammad SAW. Syekh Wahbah Zuhaili dalam Tafsir Munir-nya mengatakan perintah ini termasuk perkara yang disyariatkan bagi orang-orang ahli kitab yang juga disyariatkan bagi kita umat Islam, karena manhaj kita adalah mengikuti agama Nabi Ibrahim AS. Terus disyariatkanya perintah untuk beribadah dengan ikhlash bisa menjadi pesan bagaimana krusialnya perkara ini dan terus relevannya perintah ini untuk kemaslahatan umat manusia di dunia dan akhirat.

Baca Juga  Cak Nun, Pluralisme Agama, dan Gus Dur Kedua

Di era sekarang, dimana zaman dan perkembanganya terus bergulir, keikhlasan mesti dihadapkan oleh berbagai problem-problem kontemporer manusia. Manusia yang digempur dengan kemudahan teknologi, termasuk teknologi komunikasi dan informasi, mendapat tantangan untuk tidak membarengi segala tindakan mereka dengan menuruti kenarsisan dan mengejar validasi dari sesama manusia, dimana itu begitu ditentang oleh perintah untuk bekerja dan beribadah dengan ikhlash. Siapa sih di era sekarang yang rela bila kegiatanya tidak diunggah di media sosial?

Karena itu, penting untuk menilik kembali, bagaimana sebenarnya pesan Al-Qur’an tentang keikhlasan.

Pengertian Ikhlash Menurut Mufasir

Syekh Nawawi Banten dalam Maroh Labid menafsirkan beribadah dengan ikhlash sebagaimana pesan QS. Al-Bayyinah ayat 5 di atas yaitu beribadah pada Allah dengan menjadikan ibadah khusus hanya untuk Allah, tidak riya’ dan tidak untuk meraih popularitas. Ikhlash dalam beragama juga diartikan beliau sebagai upaya membersihkan ibadah dari syirik atau mensukutukan-Nya dengan lainya. Pengertian ini juga dikuatkan oleh Syekh Wahbah dalam Tafsir Munir.

Syekh Wahbah memberikan catatan menarik terkait pengertian keikhlasan yang berkaitan dengan penggalan lagu yang saya singgung di awal. Beliau mengatakan bahwa ibadah itu sebenarnya bukan semata-mata mengharuskan hamba untuk meraih surga atau menjauhi siksa neraka, tetapi adanya kesadaran bahwa kita hanyalah hamba dan Allah Tuhanya, meskipun tidak ada pahala atau siksa. Sehingga, perintahnya adalah untuk ikhlash beribadah hanya pada Allah. Kalau beibadah demi pahala atau menjauhi siksa, berarti yang disembah adalah pahala dan siksa, padahal keduanya hanyalah perantara, bukan tujuan utama.

Pengukur keikhlasan sendiri adalah hati nurani masing-masing kita dan Allah maha mengetahui apa yang sebenarnya dituju oleh hati kita. Allah berfirman dalam QS. Ali Imron ayat 92 yang berarti:

(Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Apa pun yang kamu infakkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui tentangnya.)

Dan dalam QS. Ali Imron ayat 29, yang artinya:

 (Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu menampakkannya, Allah pasti mengetahuinya.” Dia mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.)

Allah mengetahui apa yang sebenarnya ada dalam hati kita: apakah ibadah kita ikhlash hanya untuk pada-Nya atau semata hanya untuk meraih simpati dari sesama manusia. Kalau Allah sendiri yang mengukurnya, maka tentu saja kita tidak bisa mengelak dari putusan-Nya. Dan sangat merugi untuk kita, bila ternyata diputuskan, niat ibadah kita hanya untuk meraih simpati manusia. Betapa nilai ukhrowi yang begitu berharganya dalam ikhlash harus ditukar dengan barang dunia yang tak seberapa dan begitu rapuhnya. Penilaian manusia tidak bisa mendetail dan kalaupun kita meraih simpatinya, tidak ada jaminan kita dapat perlakuan lebih dan mungkin kita hanya diberi rasa iri dengki oeh mereka.

Baca Juga  Mengucapkan Madad Ya Rasulallah Bukan Syirik, Begini Argumennya

Esensi Ibadah dan Relevansinya

Pada era jahiliyah, kaum musyrik Qurays memiliki tradisi untuk memukulkan daging sembelihan unta pada dinding Ka’bah dan mengolesi darah unta mereka. Ketika dakwah Islam datang, ada sahabat yang mengatakan, mereka lebih berhak atas tradisi tersebut. Mereka ingin mengadopsi tradisi itu dengan menggunakan daging dan darah hewan kurban untuk mendekatkan diri pada Allah. Tapi apa jawaban  Allah? Allah justru menurunkan QS. Al-Hajj ayat 32 yang berbunyi:

﴿ لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ ٣٧ ﴾

Artinya: Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang muhsin.

Syekh Nawawai dalam memahami ayat tersebut melihat bahwa Allah tidak mengganjar daging kurban yang dipersembahkan hambanya kecuali bila untuk alasan kebaikan, yaitu menjalankan perintah Allah, mengagungkan dan ikhlash terhadap-Nya. Jadi yang dilihat Allah bukanlah persembahanya, tetapi kadar takwa di balik persembahan itu. Dari ayat itu pula, bisa dilihat bagaimana ritual keagamaan bila tidak dilandasi alasan spiritual, akan menjadi tidak bermakna.

Karenanya, bersikap mencari validasi pada sesama manusia melalui amal perbuatan kita menjadi tidak relevan lagi. Selain karena itu bukanlah esensi ibadah yang membuatnya diterima, pencarian validasi itu bisa membuat suatu ibadah atau perbuatan menjadi tidak bermakna. Mencari validasi di medsos yang berlebihan juga menimbulkan kenarsisan yang membuat tidak nyaman lingkungan kita. Hal itu bisa berdampak pada memburuknya hubungan antara satu dengan lainya. Dengan begitu, penting untuk berlatih ikhlash dalam setiap tindakan kita.

Baca Juga  Haji sebagai Ibadah Komprehensif (2)

Wallahu a’lam bish showab.

Nuzula Nailul Faiz Alumnus Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga