Nuzula Nailul Faiz Alumnus Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga

Pemuka Agama sebagai Dokter “Penyakit Hati” Masyarakat

3 min read

Euforia lebaran pada masyarakat kita baru saja usai. Masyarakat memanfaatkan momentum lebaran untuk saling bersilaturahmi pada saudara dan kolega sambil bertukar seserahan dan aneka ragam makanan. Tradisi yang juga tidak lepas dari lebaran bagi masyarakat muslim di Indonesia adalah bersilaturahmi pada pemuka agama yang dianggap guru dan sosok penting bagi kehidupan mereka.

Pemuka agama yang disowani beragam: mulai dari kiai kampung, kiai pesantren, sampai kiai “gede” yang masyhur bagi kalangan umat muslim. Mereka biasanya bersilaturahmi sambil membawakan seserahan seadanya dan semampu mereka. Ada yang membawakan pisang hasil kebun sendiri, bawang merah hasil panen sendiri, sembako, sampai uang tunai (atau biasa diistilahkan “salam templek”) untuk dipersembahkan pada para kiai.

Tradisi itu dilakukan sebagai bentuk terima kasih umat Islam atas keikhlasan para kiai yang membimbing mereka untuk belajar Islam tanpa digaji. Umat merasa berhutang budi atas dedikasi waktu dan kesediaan para kiai untuk sekedar mendengar keluh kesah kehidupan mereka dan memberikan solusi batiniah atas berbagai problem yang ada.

Karena pada dasarnya, kiai dalam budaya masyarakat kita bukan sekedar orang yang ahli atau guru agama. Tapi lebih dari itu, kiai (dari berbagai skalanya: mulai kampung sampai nasional) juga murobbi atau pengasuh jiwa-jiwa masyarakat. Bila jiwa masyarakat sedang “sakit”, kiai biasanya didatangi atau bahkan berinisiatif untuk menyembuhkan “penyakit hati” yang diderita tersebut, dengan caranya tersendiri yang khas.

Penyakit Hati Berdimensi Sosial

Dalam literatur ilmu sosial, suatu bentuk tingkah laku yang bertentangan dengan norma kebaikan, stabilitas lokal, kesederhanaan, moral dan hak milik dalam kehidupan sosial, disebut dengan patologi sosial atau penyakit masyarakat (Kartono, 2013). Ada banyak contoh patologi sosial yang terjadi, seperti pencurian, penjambretan, pemerkosaan, seks bebas, pelacuran, perjudian, korupsi, narkotika, dan sebagainya. Perilaku kejahatan tersebut bisa disebut patologi sosial apabila terjadi secara kolektif dan dampaknya dirasakan secara luas oleh masyarakat.

Baca Juga  Kegagalan Substantif Pembangkit Listrik Tenaga Sampah sebagai Solusi Mengatasi Masalah Sampah

Apa yang disebut patologi sosial tersebut, bisa dianggap sebagai penyakit masyarakat yang sudah kronis. Penyakit-penyakit itu terjadi karena tidak ada tindakan preventif dan upaya penyembuhan atas penyakit ketika gejalanya masih belum kronis. Ada beragam factor kenapa patologi sosial dapat terjadi, seperti buruknya sistem sosial, ekonomi, pendidikan, dan sebagainya. Tapi yang juga penting dibahas, adalah faktor adanya penyakit hati atas beragam patologi sosial yang terjadi. Itulah mengapa peran kiai atau ulama menjadi penting untuk dibicarakan di sini.

Kata Imam Ghazali, “Asy-Syaikhu fi qoumihi, kannabiyyi fi ummatihi” (kedudukan seorang kiai pada umatnya, seperti kedudukan nabi pada kaumnya). Itu berarti, seorang kiai juga bertugas untuk menyembuhkan dan mendidik hati dan jiwa masyarakat agar sesuai dengan visi Islam. Sedangkan visi Islam itu meraih kemaslahatan dan menolak kemafsadahan. Sehingga jelas, Islam juga punya visi untuk melawan patologi sosial. Dimana para kiai yang menjadi pemimpin Islam pada masyarakatnya, akhirnya pun harus mengemban amanah dan tugas tersebut.

Para kiai mesti mendidik masyarakatnya agar hati mereka tidak berbuat hal-hal yang memicu adanya patologi sosial. Perilaku hati yang memungkinkan untuk menjauhi perbuatan tersebut adalah dengan tidak mencintai perhiasan dunia seisinya, dan beralih fokus pada mencari ridho Allah di akhirat kelak. Kiai juga mengajarkan qona’ah, iklas, sabar, syukur, dan beragam perilaku baik hati lainya, agar masyarakat sejak awal tidak bermental rakus, mengejar validasi masyarakat, narsis, gegabah, dan hal-hal lain yang memicu adanya tindakan patologi sosial.

Kiai sebagai Agen Perubahan dan Dokter Masyarakat

Ada banyak penelitian dalam diskursus ilmu sosial yang menyebut kiai sebagai agen perubahan sosial. Hal ini dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu kiai memiliki perasaan kemasyarakatan yang dalam dan tinggi, serta selalu melandaskan sesuatu kepada kesepakatan bersama (Robby Darwis, 2017). Kedua faktor ini tidak bisa dilepaskan dari sistem tempat pengejawantahan para kiai, yaitu pesantren.

Baca Juga  Filsafat sebegai Olahraga Berpikir untuk Menolak Radikalisme Beragama

Di pesantren, santri berasal dari berbagai kelompok sosial masyarakat. Mulai dari anak petani atau kuli bangunan sampai anak kiai atau anggota DPR, berkumpul bersama dalam satu atap setiap harinya untuk saling mengelaborasi pengetahuan dan akhlak mereka. Kebanyakan pesantren juga menerapkan sistem demokratis, dimana kiai pesantren biasanya menyerahkan segala keputusan keseharian pesantren berdasar hasil musyawarah para pengurus yang merupakan perwakilan dari santri. Itulah mengapa, kiai-kiai jebolan dari pesantren pun menerapkan sistem yang sama dalam “mengasuh” masyarakat.

Salah satu dimensi dari kiai sebagai agen perubahan sosial adalah dimensi akhlak. Kiai bertugas menata hati masyarakat agar bergerak untuk menciptakan perubahan sosial. Kiai juga memiliki tugas untuk menyembuhkan penyakit hati masyarakat. Penyakit hati itu harus ditangani sejak dini, bila tidak ingin berbuah menjadi patologi sosial yang merugikan masyarakat.

Imam Ghazali memiliki dua tips atau model penyembuhan penyakit hati masyarakat tersebut, yang berkaca dari penyembuhan penyakit fisik. Pertama, an yuqobila asy-sya’ia bi dhiddihi (menghadapkan sesuatu dengan kebalikannya). Ilustrasinya, bila badan kita sakit tertentu, dokter akan menyarankan obat yang mengandung zat tertentu untuk melawan virus yang menyebabkan sakit kita. Begitupula dengan penyakit hati, kiai akan menyarankan masyarakat untuk melakukan sesuatu untuk melawan “virus” penyakitnya tersebut, seperti anjuran untuk menyibukkan diri dengan dzikir atau ibadah tertentu.

Kedua, an yusallatho ba’dho sifatihi ala ba’dhin (menguasakan sebagian sifat atas sifat hati lainya). Gambaranya dalam penyakit fisik seperti vaksin, dokter akan menyuntikkan vaksin yang itu mengandung virus tertentu untuk melawan virus yang menyebabkan penyakit seseorang. Dalam penyakit hati, misalnya apabila seseorang terjangkit penyakit bakhil dan hubbud dunya (cinta dunia), kiai akan menganjurkan orang itu untuk bersedekah di depan orang umum. Meskipun, ada potensi riya’, paling tidak itu bisa melatih orang tersebut untuk sembuh dari sifat bakhilnya, agar dapat memiliki sikap dermawan.

Baca Juga  Ulama itu Harus Berpandangan Nasionalis sekaligus Agamis

Itulah sedikit gambaran mengenai kiai sebagai dokter penyakit hati masyarakat. Proses penyembuhan itu yang membuat masyarakat akhirnya dapat terhindar dari patologi sosial dan dapat menginisiasi perubahan sosial. Sehingga, itu menjadi salah satu faktor kenapa umat Islam membudayakan silaturahmi pada para kiai waktu lebaran sebagai bentuk terima kasih dan penghormatan mereka atas jasa para pemuka agama.

Nuzula Nailul Faiz Alumnus Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga