

Bulan Sya’ban merupakan salah satu bulan yang diagunkan dalam kalender Hijriyah yang juga disebut sebagai bulan persiapan sebelum datangnya Ramadan. Dalam bulan Sya’ban terdapat satu malam yang penuh dengan keberkahan, biasa disebut dengan istilah malam Nisfu Sya’ban.
Kata nisfu sendiri mempunyai arti ‘setegah’ atau ‘separuh’, sehingga Nisfu Sya’ban berarti merujuk pada pada tanggal 15 bulan Sya’ban, namun peringatannya umumnya dimulai sejak tanggal 14. Dalam tradisi keislaman, malam ini diyakini sebagai salah satu malam yang memiliki keutamaan, terutama dalam konteks ampunan dan rahmat Allah Swt.
Malam Nisfu Sya’ban ini menjadi momentum spiritual untuk memperbanyak amalan kebaikan, membersihkan hati, memperbanyak ibadah, dan menata niat sebelum memasuki bulan suci Ramadan.
Di tengah kehidupan manusia modern yang padat dan bergerak dengan begitu cepatnya, Nisfu Sya’ban seakan hadir sebagai ruang untuk berhenti sejenak dari hiruk pikuk kesibukan duniawi seraya mengajak manusia untuk menoleh sejenak ke dalam diri untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Sejumlah riwayat hadis menyebutkan bahwa Nisfu Sya’ban adalah salah satu dari lima malam yang mustajab doanya. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Abi Umamah, Nabis saw. bersabda:
عن أبي أمامة الباهلي قال, قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: خمس ليال لا ترد فيهن الدعوة، أول ليلة من رجب، وليلة النصف من شعبان، وليلة الجمعة، وليلة الفطر، وليلة النحر
“Dari Abi Umamah al Bahiliy, dia berkata, Rasulullah saw. bersabda: Lima malam yang tidak akan ditolak doa di dalamnya: malam pertama bulan Rajab, malam nisfu Sya’ban, malam Jumat, malam Idul Fitri, dan malam Idul Adha.”
Amalan Malam Nisfu Sya’ban
Amalan Nisfu Sya’ban pada dasarnya bukan sekadar ritual seremonial tahunan. Ia adalah sarana untuk memperdalam kesadaran spiritual. Para ulama menegaskan bahwa tidak ada satu amalan wajib atau doa baku yang harus dilakukan secara khusus. Yang lebih ditekankan adalah menghidupkan malam tersebut dengan ibadah dan doa, sesuai kemampuan dan keikhlasan masing-masing.
Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin menyebut Nisfu Sya’ban sebagai salah satu malam yang dianjurkan untuk dihiasi dengan ibadah, sebagaimana malam Jumat dan malam hari raya.
Adapun amalan- amalam yang dianjurkan pada malam Nisfu Sya’ban diantaranya adalah:
Pertama, membaca surat yasin sebanyak 3 kali setelah salat maghrib. Dalam Kitab Mujarobat karya Imam Ad-Dairaby menjelaskan bahwa salah satu amalan di malam Nisfu Sya’ban adalah membaca Surat Yasin sebanyak 3 kali.
وقال العلامة الديربي في “مجرباته” (ومن خواص “سورة يس” –كما قال بعضهم- أن تقرأها ليلة النصف من شعبان “ثلاث مرات”: الأولى بنية طول العمر، والثانية بنية دفع البلاء، والثالث بنية الإستغناء عن الناس
Bacaan pertama diniatkan untuk memohon agar diberi umur panjang yang penuh keberkahan, ketaatan, ketakwaan secara istiqamah; bacaan kedua diniatkan untuk memohon agar dijauhkan dari segala bentuk musibah, fitnah, bala/marabahaya; bacaan ketiga diniatkan untuk memohon kekayaan (hati) serta ditetapkan Iman Islam sampai akhir hayat.
Setiap selesai membaca Surat Yasin dilanjutkan membaca doa berikut:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. اللّهُمَّ يَاذَا الْمَنِّ وَلاَيُمَنُّ عَلَيْك. يَاذَا الْجَلاَلِ وَالْإِكْرَامِ. يَاذَا الطَّوْلِ والْإِنْعَامِ, لاَإِلهَ إِلاَّ أَنْتَ ظَهْرَ اللاَّجِئيْن, وَجَارَ الْمُسْتَجِيْرِيْن, وَمَأْمَنَ الْخَائِفِيْن. اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِيْ عِنْدَكَ فِيْ أُمِّ الْكِتَابِ شَقِيًّا أَوْ مَحْرُوْمًا أَوْ مُقَتَّرًا عَلَيَّ فِي الرِّزْقِ فَامْحُ مِنْ أُمِّ الْكِتَابِ شَقَاوَتِيْ وَحِرْمَانِيْ وَتَقْتِيْرِ رِزْقِيْ وَأَثْبِتْنِيْ عِنْدَكَ سَعِيْدًا مَرْزُوْقًا مُوَفَّقًا لِلْخَيْرَاتِ فَإِنَّكَ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ فِيْ كِتَابِكَ الْمُنْزَل, عَلَى نَبِيِّكَ الْمُرْسَل {يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ} إِلهِيْ بِالتَّجَلِّي الْأَعْظَم, فِيْ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ الْمُكَرَّم, الَّتِيْ يُفْرَقُ فِيْهَا كُلُّ أَمْرٍ حَكِيْمٍ وَيُبْرَم, اكْشِفْ عَنِّيْ مِنَ الْبَلاَءِ مَا أَعْلَم, وَمَا لاَ أَعْلَم, وَاغْفِرْ لِيْ مَا أَنْتَ بِهِ أَعْلَم. اللَّهُمَّ اجْعَلْنِيْ مِنْ أَعْظَمِ عِبَادِكَ حَظًّا وَنَصِيْبًا فِيْ كُلِّ شَيْئٍ قَسَمْتَهُ فِيْ هَذِهِ اللَّيْلَةِ مِنْ نُوْرٍ تَهْدِيْ بِهِ, أَوْ رَحْمَةٍ تَنْشُرُهَا, أَوْ رِزْقٍ تَبْسُطُهُ, أَوْ فَضْلٍ تُقَسِّمُهُ عَلَى عِبَادِكَ الْمُؤْمِنِيْنَ, يَااللهُ, يَااللهُ, لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ. اللَّهُمَّ هَبْ لِيْ قَلْبًا تَقِيًّا نَقِيًّا, مِن َالشِّرْكِ بَرِيًّا, لاَ كَافِرًا وَلاَ شَقِيًّا, وَقَلْبًا سَلِيْمًا خَاشِعًا ضَارِعًا. اللَّهُمَّ امْلَأْ قَلْبِيْ بِنُوْرِكَ وَأَنْوَارِ مُشَاهَدَتِكَ, وَجَمَالِكَ وَكَمَالِكَ وَمَحَبَّتِكَ, وَعِصْمَتِكَ وَقُدْرَتِكَ وَعِلْمِكَ, يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ, وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Adapun tata cara pembacaannya dilaksanakan pada waktu setelah maghrib sebagaimana dikutip dari dalam kitab Atsna al-Mathalib karya Syaikh Muhammad bin Darwisy.
وأما قراءة سورة يس ليلتها بعد المغرب والدعاء المشهور فمن ترتيب بعض أهل الصلاح من عند نفسه قيل هو البوني ولا بأس بمثل ذلك
“Adapun pembacaan surat Yasin pada malam Nisfu Sya’ban setelah Maghrib merupakan hasil ijtihad sebagian ulama, konon ia adalah Syeikh Al-Buni dan hal itu bukanlah suatu hal yang buruk.” (Syaikh Muhammad bin Darwisy, Asná al-Mathálib, 234).
Kedua, selain membaca surat Yasin, umat Islam juga dianjurkan untuk memperbanyak membaca shalawat nabi karena di antara keistimewaan Sya’ban sendiri adalah bulan di mana ayat tentang shalawat diturunkan, yaitu firman Allah:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi, wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kalian atas Nabi dan sampaikanlah salam penghormatan kepada-Nya” (al-Ahzab: 56). Ibnu Abi al-Shoif al-Yamani mengatakan bahwa Sya’ban merupakan bulan shalawat atas Nabi karena Q.S. Al Ahzab ayat 56 ini turun di bulan Sya’ban.