Redaksi Redaksi Arrahim.ID

Cerpen: Gara-gara Mandi di Air Terjun Sedudo

1 min read

Siapa yang tidak tahu perdukunan dalam dunia politik. Peran dukun dalam dunia politik mungkin setara dengan uang. Keduanya menjadi andalan para politisi ketika hendak nyaleg atau merebut kekuasaan politik lain. Tanyakan pada para politisi dari yang sukses hingga yang gagal, apakah mereka menggunakan jasa dukun, saya yakin sebagian besar akan menjawab ya.

Ini kisah tentang seorang politisi muda, sebut saja Jono, yang mau menantang calon petahana dalam memperebutkan kursi ketua cabang sebuah partai di salah satu kota di Jawa Timur. Jono dikenal sebagai aktivis partai yang selama ini bersuara lantang mengkritik pimpinan sebelumnya yang dinilainya lebih banyak mementingkan diri sendiri daripada sungguh-sungguh memperjuangkan visi partai. Tak heran jika Jono banyak mendapat simpati dari para pengurus yang telah gerah dengan ketua sekarang.

Orang-orang ini mendorong Jono untuk maju saat konfercab partai. Menurut hitungan dan survei kecil-kecilan dan amatiran, Jono memiliki peluang untuk menjadi ketua cabang. Berbagai strategi sudah disiapkan, mulai pendekatan pertemanan hingga traktir ngopi dan rokokan. Para pendukungnya dari kalangan tua juga diam-diam menyiapkan strategi kejutan.

H-1, Jono dipanggil para pendukung tuanya untuk menjalankan strategi pamungkas di rumah salah seorang sesepuh partai yang selama ini dikenal sebagai dukun jos. Di situ Jono diberi tahu bahwa bintang kepemimpinannya terlihat terang benderang di langit. Tapi bintang itu harus diturunkan dengan ritual mandi kembang tengah malam di air terjun Sedudo Nganjuk.

Jono segera menyiapkan berbagai keperluan yang dibutuhkan untuk berangkat ke Nganjuk hari itu juga karena konfercab akan dilakukan besok. Dia akan sampai lokasi air terjun malam hari, dan ketika tengah malam nanti, dia akan melakukan ritual mandi kembang di bawah guyuran air terjun yang terletak di tengah hutan dataran tinggi Nganjuk itu.

Baca Juga  Mengapa Harus Menggunakan New-Normal? Apakah Kita Sedang Rindu?

Dengan penuh siksaan Jono melakukan semua ritual yang disarankan. Tubuhnya menggigil kedinginan. Siang hari saja hawa di Sedudo sudah sangat dingin, apalagi ini tengah malam. Di tengah dinginnya hawa dataran tinggi, Jono menyerahkan tubuhnya terguyur air pegunungan. Daging dan tulangnya terasa membeku. Tapi ini adalah pengorbanan yang harus dilakukan untuk menjadi seorang pemimpin. Menjelang subuh, ritual mandi kembang selesai dilakukan, dan dia kembali ke kotanya yang berjarak tiga sampai empat jam pakai mobil.

Besok pagi di acara Konfercab, para pendukungnya sudah bersiap menyambut kedatangannya. Hingga menjelang rehat siang, Jono belum muncul. Tapi para pendukungnya maklum, calon ketua biasanya baru akan muncul di lokasi menjelang pemilihan. Tapi hingga detik-detik menjelang pemilihan, Jono tetap tak menampakkan batang hidungnya. Para pendukungnya jelas panik.

Akhirnya salah seorang pendukungnya berinisiatif menghubungi hp Jono. Setelah terdengar suara ‘hallo’ Jono di seberang sana, dia langsung bertanya:

“Pak Jono ada di mana? Ini sudah mau dilakukan pemilihan. Kawan-kawan sejak tadi menunggu Bapak.”

Terdengar suara Jono yang serak dan gemetar, “Badanku panas dan meriang. Aku gak bisa bangun karena sendi-sendiku terasa habis dipukuli orang sekampung. Sekujur tubuhku juga biduran.”

Begitu mendengar kabar Jono yang meriang dan biduran, para pendukunya langsung lemas. Ini semua gara-gara ritual mandi kembang tengah malam di air terjun Sedudo. Mereka misuh-misuh ke dukun yang menyuruh mandi kembang. Yang turun bukan bintang kepemimpunan, tapi malah gagal nyalon karena biduran. [MZ]

Redaksi
Redaksi Redaksi Arrahim.ID