Mengenal Kebahagiaan ala Imam al-Ghazali (2): Sifat Hewan sebagai Partikel Kebahagiaan

2 min read

Pada tulisan sebelumnya kita telah membahas bahwa manusia seyogianya memiliki empat sifat yang bersemayam dalam dirinya, yakni sifat malaikat, sifat hewan, sifat hewan buas, dan sifat setan. Setiap sifat memiliki peran masing-masing dalam cara kita berperilaku, bersikap, atau alam bawah sadar kita.

Sifat malaikat dan sifat setan sendiri merupakan karakter yang saling berseberangan. Kedua sifat tersebut memiliki konsekuensi masing-masing ketika mendapatinya lebih berat timbangan ketimbang seberangnya. Beratnya sifat malaikat akan menumbuhkan benih-benih kebahagiaan, dan beratnya sifat setan akan menghadirkan kesengsaraan.

Sedangkan sifat hewan serta hewan buas merupakan dua hal yang saling melengkapi sebagai partikel kebahagiaan manusia. Sifat hewan disebut-sebut sebagai suatu bentuk keinginan manusia untuk mencapai sesuatu. Contohnya saat lapar ingin makan, haus ingin minum, ngantuk ingin tidur. Lantas perasaan manusia untuk menginginkan sesuatu bisa kita namakan sebagai “syahwat”.

Sedangkan sifat hewan buas merepresentasikan sikap negatif layaknya anjing galak atau serigala. Pada tataran manusia, sifat hewan buas bisa kita dapati pada orang-orang yang suka marah, memukul, membunuh, menerkam, atau memusuhi. Kemudian sifat manusia yang demikian bisa kita sebut sebagai “ghadhdhab”, yang memiliki makna literal “marah”.

Sifat hewan dan hewan buas di atas telah al-Ghazali terangkan terpisah dengan dua sifat sebelumnya dalam kitab Kimya al-Sa‘adah, yakni:

تمام السعادة مبني على ثلاثة أشياء: قوة الغضب، قوة الشهوة، قوة العلم

Kebahagiaan yang sempurna didasarkan pada tiga faktor, yakni kekuatan syahwat, kekuatan ghadhdhab, dan kekuatan ilmu.

Ketiga kekuatan tersebut berjalan beriringan dan harus dijaga keseimbangannya. Kekurangan atau kelebihan salah satu kekuatan bisa membahayakan manusia bahkan merusak hatinya. Lantas jika ketiganya bisa berjalan sejajar, maka sempurnalah kebahagiaannya.

Baca Juga  NU, Tradisi dan NKRI: Refleksi Satu Abad Nahdlatul Ulama

Orang yang memiliki kekuatan syahwat yang berlebihan akan mudah terlena dengan keadaan. Ia hanya akan dibutakan oleh keinginan sederhana, yang membuatnya tidak berusaha menjadi lebih baik.

Keinginan yang dimaksud adalah kesantaian, ketenangan, kemudahan, yang untuk menuju keadaan ini, seseorang tak perlu untuk memperjuangkannya dengan keras. Sedangkan jika orang tersebut tidak memiliki syahwat, maka hidupnya akan hampa, kosong, dan tidak berisi.

Pada kekuatan ghadhdhab sendiri, jika seseorang kekurangan atasnya, maka ia tidak akan punya semangat untuk melakukan apapun. Ghirrah-nya lemah, sehingga ia tak akan bisa memperjuangkan agamanya. Sebaliknya jika ghirrah tersebut kadarnya berlebihan, maka manusia akan jatuh pada kerusakan hati.

Walaupun sebenarnya, orang yang memiliki ghirrah akan punya semangat tinggi dan menggebu-gebu, jika tidak diimbangi dengan ilmu, maka ia akan terlihat bodohnya. Kebodohan ini bisa diketahui dari mudahnya manusia untuk memukul atau membunuh orang tanpa pikir panjang. Ia punya semangat, tetapi tidak bisa mengendalikannya dengan baik, sehingga kekuatan amarah pun membutakan mata dan menghunus hatinya.

Lain kata jika ada orang yang memiliki kekuatan ghadhdhab, tidak kurang dan berlebih, seimbang dengan kuasa ilmunya. Maka, Allah akan memberikan petunjuk yang mengarahkan pada keadaan-keadaan yang menenangkan.

Al-Ghazali sebutkan bahwa orang tersebut akan mendapati kesabaran, hikmah, kebijaksanakan, kehormatan diri, maupun qana’ah dalam dirinya.

Sampai di sini kemudian saya bertanya-tanya dengan penjelasan Gus Mus, apa hubungan antara kekuatan ghadhdhab, syahwat, dan ilmu? Serta apa hubungan ketiganya dengan kebahagiaan?

Saya mencoba menerka kembali penjelasan beliau dalam video ngaji pasan lanjutannya tersebut. Bahwa ketika poin kekuatan itu saling jalin-menjalin satu sama lain, hubungannya ada di pertanyaan kedua. Seperti halnya yang telah saya sebutkan pada tulisan sebelumnya, bahwa kebahagiaan hakiki lahir dari bagaimana kita mengenal Tuhan.

Baca Juga  Menimbang Korelasi Khilafah dengan Tegaknya Syariat

Untuk mencapai maqam tersebut, kita perlu ilmu sebagai kunci. Di sinilah kemudian lahir kekuatan ilmu sebagai hasil yang kemudian diimplementasikan dalam kehidupan. Lantas dalam proses mencari ilmu, hal yang pertama kali perlu ditanamkan adalah syahwat, yakni keinginan untuk belajar. Sesederhana rasa ingin, jika ada orang yang tidak ingin mencari ilmu, ia tidak akan sampai pada tujuan ilmu, bahkan berada pada jalannya pun tidak.

Ketika seseorang sudah memiliki keinginan, maka proses selanjutnya adalah ghadhdhab atau usaha. Usaha diperlukan agar kita bisa mencapai tujuan, yakni mencari ilmu. Lantas orang yang tidak mau berusaha, maka tujuannya hanyalah menjadi impian yang digantung saja. Seperti halnya maqalah berikut:

كل من زرع حصد, ومن مشى وصل, ومن طلب وجد

Setiap orang yang menanam akan menuai, yang berjalan akan sampai, dan yang mencari akan menemukan.

Tentu untuk mendapatkan ilmu kita tidak bisa sekadarnya saja. Perlu keseriusan dan kejelian agar kita tidak sampai salah jalan, seperti halnya saat mencari guru yang bisa kita jadikan pijakan keilmuan. Kita tidak bisa asal-asalan untuk mengusahakannya, karena usaha yang ngawur bisa membawa kita pada kesesatan dan kesengsaraan.

Pada paparan di atas, kita melihat bahwa syahwat dan ghadhdhab memiliki peran besar dan penting bagi seseorang untuk mencapai ilmu. Meskipun begitu, keduanya tidak boleh berlebihan, karena malah bisa menjauhkan seseorang dari jalan pencarian ilmu itu sendiri.

Lantas jika keduanya seimbang, dan seseorang kemudian mulai mendapatkan ilmunya, maka orang tersebut akan merasakan kebahagiaan dalam hatinya, ketenangan dalam sanubarinya, dan kenikmatan yang hakiki dalam kehidupannya, yakni dapat mengenal Allah. [AR]