Said Hoedaini Pemimpin Redaksi TV9 dan Penikmat Sastra

Alif dan Mim (9): Kisah Cinta Dari Dulu Memang Begitu, “Ruwet”

2 min read

Alif dan Ranti tiba di rumah pukul empat sore. Alif mengantar Ranti hingga ke rumahnya. Bu Mus sedang menyapu halaman rumah ketika dua muda mudi itu datang. Punggungnya seketika menegak, memastikan putrinya datang dengan lelaki siapa.

Ketika tahu lelaki itu ternyata kemenakannya sendiri Bu Mus seketika lega. Ia tak bisa menyembunyikan binar di kedua matanya. Ranti turun dari motor dan menghampiri ibunya dengan riang. Bersalaman lalu memeluknya.

Alif mengikuti di belakang Ranti. Bersalaman dan mencium tangan perempuan itu. Bibinya. Adik bungsu ayahnya. Ranti langsung melesat masuk ke dalam rumah. Alif mampir duduk sebentar. Mereka ngobrol sekira lima belas menit lamanya. Bu Mus bertanya kabar ayah dan ibu Alif. Kabar Alif sendiri dan perkembangan kuliahnya di Jogja.

“Segera lulus, Le. Setelah itu menikah.” Bu Mus menggoda kemenakannya.

“Doakan kuliah bisa segera selesai, Bulik. Tapi kalau menikah kayaknya masih lama.” Alif menjawab santai.

“Jangan mikir sinau terus. Nanti dunia ini dikuasai ayam dan kambing.”

“Kok bisa dikuasai ayam dan kambing, Bu?” Tiba-tiba Ranti muncul dari belakang sambil membawa nampan kecil. Teh panas dan setoples emping melinjo.

“Minum dulu, Kang.” Ranti menyorongkan gelas teh ke arah Alif. Lalu menaruh toples di tengah meja. Alif mengangguk sambil tersenyum. Bu Mus menyaksikan adegan demi adegan itu dengan seksama.

“Lho kan, ibu malah diam. Kenapa dunia dikuasai ayam dan kambing kok?”

Bu Mus tertawa. “Ya karena manusianya hanya mikir sekolah. Lupa kawin. Sementara ayam dan kambing kawin melulu, enggak pernah mikir sekolah.” Tawa pun pecah di ruang tamu.

Alif mohon pamit. Bu Mus melepasnya hingga pintu ruang tamu. Ia meminta Alif agar sering-sering main jika sedang liburan pulang kampung. Alif mengiyakan. Berjanji akan lebih sering datang ke situ.

Baca Juga  Ibnu Taimiyyah, Pemikiran Sufistiknya “Jarang” Diakui oleh Pengagumnya [Bag 1]

Ranti mengantar Alif sampai ke halaman. Mereka bicara serius berdua dengan suara yang dipelan-pelankan.

“Jangan lupa tugas tentang Mim.” Alif mengingatkan Ranti.

“Iya, Kang…” Ranti mengangguk pelan. Ada yang seperti menusuk-nusuk dadanya. Sudah pasti ini tugas yang sama sekali tidak menyenangkan baginya. Tapi sudah terlanjur berjanji. Tidak bisa mundur. Alif kakak sepupunya. Mim sahabat baiknya. Dimakan bapak mati, tidak dimakan ibu yang mati. Ah.. Simalakama.

“Lusa aku balik ke Jogja. Kalau bisa besok ketemunya sama Mim.” Ranti kembali hanya mengangguk mengiyakan.

“Ran…”

“Iya”

‘Sudah nemu cara?”

“Belum. Nanti akan kucari alasan mengajak Mim keluar rumah. Nanti Kang Alif kukabari.”

“Sip!” Alif mengacungkan jempol ke muka Ranti.

“Aku pulang dulu. Assalamualaikum.” Alif membelokkan stang motornya. Bersiap meluncur.

“Waalaikum salam. Hati-hati, Kang.” Ranti menatap punggung Alif hingga meninggalkan halaman rumahnya.

Sore makin tua. Gelap beranjak pelan-pelan menguasai langit di atas. Segelap perasaan Ranti.

_______________

Mim mendekapkan Alquran terbuka itu ke dada. Lalu menciumnya lama sekali. Kalau saja Alquran itu baru keluar dari percetakan, mungkin huruf-hurufnya akan segera rusak dibanjiri air mata yang berlinangan tak terbendung. Tidak tahu lagi kepada siapa ia harus bercerita tentang gundah yang gunung gemunung itu. Perihal orang-orang dewasa yang urusannya rumit.

Hanya kamu yang Bapak punya. Tak putus-putus Bapakmu ini mendoakan dan mengusahakan semua yang paling baik buatmu.

Mim terngiang kembali kalimat bapaknya. Halus. Tidak memaksa. Tapi mengunci. Tiba-tiba ia teringat ibunya. Ingin sekali menangis sepenuh-penuhnya di pangkuan perempuan itu. Meminta pembelaan untuk hal yang bukan lagi soal mainan, teman yang nakal, atau urusan pelajaran matematika yang sulit. Ini soal hati, Bu. Ingin sekali ia bercerita, menumpahkan segala apa yang menyesakkan dadanya.

Baca Juga  Alif dan Mim (1): Sebuah Roman

Bayangan Alif juga muncul menyusul. Kepada lelaki ini seharusnya dia berbagi kekuatan dalam doa berdua. Mengatasi rintangan bersama dan saling meyakinkan.

Mim makin menangis. Menyadari kenyataan bahwa Alif tidak sungguh-sungguh dekat. Bahkan menjauh. Kian jauh. Tak bisa diandalkan sebagai tempat bagi hati yang menginginkan setiap janji ditepati. Tidak cukup kuat menjadi sandaran bagi batin yang ingin segala keluhnya didengarkan. Kalau tidak begitu, buat apa dipertahankan?

Mim makin tenggelam pikirannya.

_______________

Berjam-jam Ranti tak dihampiri lelap. Badannya ingin beristirahat tapi pikirannya tidak. Memenuhi janji kepada Alif untuk membantunya bertemu Mim esok hari adalah satu hal. Satu hal lainnya adalah obrolan dengan ibu dan ayahnya di meja makan selepas Isya’ tadi.

“Kalian bisa lulus bersamaan sebentar lagi,” Bu Mus membuka pembicaraan di meja makan.

“Kalian siapa?” Pak Mus bertanya kepada istrinya.

“Ranti sama Alif.” Bu Muslimah menggeser gelas ke tengah sambil memberi kode kepada Pak Mustofa, suaminya.

“Oh, iya. Bagus.” Pak Mus menjawab sambil tersenyum kepada Ranti. Yang disenyumi bingung harus menjawab apa. Hatinya berdentum-dentum tidak karuan.

“Ayah setuju?” Bu Mus kembali memancing.

“Dua ratus persen.” Jawab Pak Mus. Dua jempolnya langsung terangkat.

“Sip” kata Bu Mus.

Ranti tersenyum kecut.

“Kang Alif sudah punya pacar.”

Bu Mus dan Pak Mus saling berpandangan.

“Siapa? Anak mana?” kata Bu Mus.

“Hamimah. Anaknya Pak Dullah.” Bersambung… (AA)

Said Hoedaini Pemimpin Redaksi TV9 dan Penikmat Sastra

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *