Syaichon Ibad Mahasiswa Program Studi Akidah dan Filsafat Islam, UIN Sunan Ampel

Radikalisme Lahir Dari Wacana Teologis Atau Politik Agama?

2 min read

Di Indonesia, fenomena radikalisme ini kerap kali dihubung-hubungkan dengan diskusi teologis dengan dalih adanya perintah substansial Islam dalam bentuk Jihad. Sangat kontras, jika kita mengarah ke pendapat Bassam Tibi yang secara tegas mengatakan bahwa radikalisme adalah bagian dari politik Islam. Sebab secara doktrinal, Islam sendiri sangat mengutuk segala bentuk kekerasan terhadap sesama, terlebih lagi dengan orang-orang yang memiliki keyakinan yang berbeda (Tibbi, 2008: 11).

Selain itu, penggunaan istilah kafir (takfir) pun banyak sekali ditemukan di beberapa kasus. Hal ini disebabkan dari Islam dalam kepala mereka yang diyakini bukan sebatas sebagai alternatif dalam menjadi tuntunan belaka, melainkan secara konkret dan menyeluruh menjadi sebuah tatanan dunia. Sehingga tidak menjadi asing lagi bagi kita, jika kelompok ini kemudian sering menganggap beberapa sistem dari pemerintahan telah keluar dari kaidah-kaidah tauhid.

Ironinya, dari beberapa kasus-kasus di atas terdapat hal yang sangat kontradiktif. Di satu sisi, radikalisme ini ternyata lahir dan tumbuh subur di kawasan Timur Tengah, namun di sisi lain lain Timur Tengah adalah tempat dimana Islam ini diturunkan. Disisi lain, hal-hal yang sifatnya diskriminatif dan memberikan kesan membeda-bedakan kepada sesama manusia sebagai makhluk yang memiliki hak dan otoritas tertentu juga sangat berlawanan dengan doktrin utama yang dibawa oleh Islam sejak dahulu, yakni rahmatan lil alamin.

Bahkan jika kita mau kembali sekilas melihat sejarah, Abu Thalib selaku paman nabi Muhammad SAW sekaligus kakak kandung dari Abdullah bin Abdul Muthalib (Ayah Nabi) wafat dalam keadaan masih menggenggam agama nenek moyangnya. Dari peristiwa sejarah inilah kita bisa mengambil sedikit pelajaran, bahwa tidak akan ada kemanfaatan bagi seseorang saat masuk Islam dalam keadaan terpaksa.

Baca Juga  Saya Bangga Menjadi Dosen PTKI Kala Ujian Menerpa

Dari beberapa uraian diatas, perlu kiranya kita mengingat kembali buku yang pernah ditulis oleh Dr. Zuly Qodir yang berjudul Radikalisme Agama di Indonesia. Ia (Dr. Zuly) menjelaskan bahwa memang ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam mengkaji gerakan radikalisme, semacam iklim piskologi umat Islam, kata jihad dalam diskusi teologis, dan kondisi politik Islam sendiri. Dengan begitu agama Islam di sini dapat diletakkan secara seimbang, tidak hanya dalam keranjang pandangan negatif saja yang identik dengan kekerasan.

Dari segi psikologi kaum muslimin misalnya, yang memiliki banyak sekali ragam karakteristik Islam dalam aspek fikih maupun peribadatan. Hal ini bisa dibuktikan dengan menyadari akan adanya perbedaan corak syariat mengenai Islam di Asia yang mayoritasnya mengikuti Syafi’i dan Maliki dengan Islam yang ada di Laut Merah dan Afrika yang kulturnya cenderung Hanafi dan Ahmadi. Namun yang perlu digaris bawahi adalah Islam tetap dengan tujuan tunggalnya yakni sebagai agama tauhid dan penebar perdamaian.

Sama halnya dengan makna kata Jihad dalam diskusi teologis yang sering disalahpami oleh kalangan muslim awam, ‘Jihad’ di sini diyakini bermakna sebuah peperangan fisik melawan orang-orang kafir. Sedangkan  perang yang mengatasnamakan penegakan Islam namun tidak mengikuti Sunnah rasul tidak bisa dikategorikan sebagai jihad, sebab Nabi Muhammad SAW sendiri menegakkan Islam bermula dari dakwah tanpa kekerasan dan tidak dalam bentuk terorisme.

Lain halnya dalam perspektif politik Islam, gerakan radikalisme ini  muncul dari sebuah ketakutan akan adanya ancaman dari luar Islam dalam bentuk pengaruh globalisasi budaya, politik, dan teknologi. Gagasan golobalisasi ini tidak senafas dengan gagasan utama mereka. Hal ini disebabkan karena dari beberapa hal-hal yang sedang berkembang atau “berubah” dianggap telah melampaui dan bertentangan dengan ajaran Islam. Oleh karenanya mereka menganggap perlu adanya gerakan pemurnian pemurnian ajaran Islam dari modernisasi.

Baca Juga  Klepon, Propaganda dan Bijak Menanggapi Informasi Menurut Alquran

Dapat disimpulkan bahwa aksi-aksi pemurnian yang menjadi sebuah bentuk respons dari kelompok ini memang mempunyai ikatan erat dengan fenomena globalisasi yang sedang melanda dunia. Lebih tepatnya, kaum muslimin di sini merasa di kepung oleh perubahan yang terus bergerak. Dari perubahan tersebut melahirkan dua pola respon yang berbeda. Di satu sisi perubahan tersebut sebagai potensi untuk lebih kreatif,  dan sisi lainnya menganggap perubahan itu bertentangan dengan ajaran agama sehingga perlu untuk dimurnikan. Salah satu cara untuk memurnikan adalah bom bunuh diri dan aksi kekerasan lainnya.

Dengan demikian, baik dalam perspektif teologis maupun politik agama, keduanya sama-sama membuat potret Islam terlihat peyoratif di depan wajah publik. Selain itu, dalam buku yang diterbitkan pada tahun 2014 itu telah memberikan kesan tesendiri bagi penulis. Di mana ketika kaum muslimin tidak bisa menghadirkan Islam dengan wajah Tuhan yang manusiawi, maka Islam akan tinggal kenangan. Kendati Ia tidak mampu memberikan jawaban bagi dunia yang dikatakan sangat beradab. (MMSM)

Syaichon Ibad Mahasiswa Program Studi Akidah dan Filsafat Islam, UIN Sunan Ampel