Menuju Implementasi Integrasi Keilmuan di PTKI dengan Kerja Induktif (Bag.2)
integrasi keilmuan ini akan mendorong implementasi “tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat.”
integrasi keilmuan ini akan mendorong implementasi “tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat.”


Wabah ini telah memicu perubahan pada sebagian cara kita dalam beragama. Namun untuk sampai pada kesimpulan Covid-19 menjadikan masyarakat makin sekuler atau sebaliknya, tentu diperlukan penelitian yang lebih komprehensif.


PTKI hendaknya menyadarkan masyarakat agar tidak perlu mengatakan bahwa kebudayaan Indonesia tidak lebih baik dari kebudayaan luar sana. Kita patut bangga akan budaya Indonesia, mengembangkan dan memperkuat identitas kebudayaan bangsa.


Dalam kondisi Covid-19 di Indonesia saat ini, agama perlu mencandra persoalan secara lebih holistis dan radikal. Agama tidak boleh hanya memberikan panduan dan keringanan fikih ketika masyarakat beribadah dalam situasi bahaya virus.


Larangan pemerintah dalam melaksanakan salat Ied di Masjid atau lapangan adalah sejalan dengan perintah agama dan pandangan sains.


Sudah waktunya masyarakat memiliki pemikiran bahwa agama mendorong sains untuk menyelesaikan permasalahan. Ajaran dalam Islam mendukung sains dan pemikiran rasional serta logis sehingga pandemi ini bukanlah ajang untuk memperdebatkan sains dan agama” ujar Munawir Aziz.


Bagaimana dengan kitab-kitab suci agama-agama lain yang dulu diwahyukan kepada para nabi mereka, yang hari ini juga eksis bersama-sama kita?
![Kitab Suci Agama-agama [Part 1]](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/05/iraq_3.jpg)
![Kitab Suci Agama-agama [Part 1]](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/05/iraq_3.jpg)
Dalam hal tarawih berjamaah yang begitu bergelora dan demonstratif itu, sesungguhnya masyarakat muslim sedang berkiblat ke mana? Karena, faktanya, Masjidil Haram sebagai rujukan terakhir pun juga tidak mengadakan shalat tarawih.


Disadari atau tidak, mereka yang menjadi influencer di dunia maya yang berdasarkan jumlah followers (pengikut), akan menjadi penyampai misi-misi teologis bagi generasi baru dalam memandang dunia spiritual. Orang yang berpengaruh bukan karena kualitas dan otoritas ilmu pengetahuan, tetapi dilihat dari berapa jumlah pengikut dalam media sosial.


Sinergi organisasi masyarakat, penguatan pengetahuan berbasis kebangsaan dan spirit kebangsaan tokoh kemasyarakatan adalah faktor penting yang dapat mencegah tumbuhnya bibit-bibit radikalisme.

