Tiga Formula Menghadapi Pandemi Covid-19
Perubahan perilaku #dirumahsaja saat pandemi ini bisa mengakibatkan kejenuhan, rasa takut bahkan stress tingkat tinggi.
Perubahan perilaku #dirumahsaja saat pandemi ini bisa mengakibatkan kejenuhan, rasa takut bahkan stress tingkat tinggi.


Penegakan hukum dan aturan di negara kita tergolong sangat rendah, bahkan sangat buruk. Padahal masyarakat kita belum memiliki kesadaran untuk mematuhi aturan jika tidak ada pengawasan dan penindakan secara tegas.


Penelitian ilmiah diharapkan mampu menjawab persoalan-persoalan kemanusiaan yang lebih kompleks yang muncul di era disrupsi peradaban ini.


Pandemi Covid-19 yang sedang kita alami ini mengajak umat Islam, para pemimpin umat, para dai untuk melakukan refleksi apakah sudah selaras perkataan dengan perbuatan.


Wabah ini telah memicu perubahan pada sebagian cara kita dalam beragama. Namun untuk sampai pada kesimpulan Covid-19 menjadikan masyarakat makin sekuler atau sebaliknya, tentu diperlukan penelitian yang lebih komprehensif.


Dalam persoalan ini, parahnya, publik segera terhanyut dalam debat dan olokan yang sama sekali justru jauh dari substansi masalahnya.


Bencana global yang terjadi di dunia sesungguhnya tidak bersifat temporal, namun kita hanya berpindah dari satu pandemi ke pandemi lain


Dalam proses penanganan Covid-19, Muhammadiyah sudah menjalankan ragam program dan aksi dakwah sosial melawan Covid-19, baik yang sudah dan sedang terus dilakukan. Itulah yang saya sebut sebagai garda terakhir dalam berjihad melawan Covid-19 di Indonesia.


Pada akhirnya perempuan pula yang mengambil peran sangat menentukan dalam tugas sosialisasi dan pembelajaran kepada anak-anak mereka, bahwa di balik fenomena pandemi ada tanda-tanda ke-Tuhan-an di dalamnya.


Dalam kondisi Covid-19 di Indonesia saat ini, agama perlu mencandra persoalan secara lebih holistis dan radikal. Agama tidak boleh hanya memberikan panduan dan keringanan fikih ketika masyarakat beribadah dalam situasi bahaya virus.

