Angga Arifka Alumnus Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya, tinggal di anggaarifka[dot]com

Merangkul Keberagaman Agama: Menumbuhkan Toleransi dan Pemahaman

2 min read

Keragaman agama adalah ciri masyarakat manusia dalam menyejarah. Sepanjang sejarah, berbagai budaya dan peradaban telah mengembangkan sistem kepercayaan, praktik, dan ritual uniknya masing-masing. Keberagaman ini, selain memperkaya pengalaman manusia itu sendiri, juga nyatanya berandil menjadi sumber konflik dan kesalahpahaman.

Masalah keragaman agama muncul ketika individu dan komunitas religius gagal mengenali dan menghargai keyakinan dan praktik orang lain. Dengan kata lain, individu atau komunitas tersebut tak dapat melihat signifikansi dari keragaman agama dan keberagaman dalam beragama.

Keragaman agama dan keberagaman dalam beragama merupakan aspek penting dari pengalaman manusia. Ini mencerminkan kompleksitas pemikiran, emosi, serta spiritualitas manusia, menyediakan berbagai lensa yang digunakan individu religius untuk menafsirkan dunia.

Tradisi keagamaan yang berbeda-beda menawarkan pandangan dunia (weltanschauung) yang unik berkenaan dengan pertanyaan mengenai keberadaan, moralitas, dan tujuan hidup, sehingga berkontribusi pada kekayaan budaya dan keragaman masyarakat. Merangkul keragaman agama dapat menimbulkan pertumbuhan intelektual, empati, dan pemahaman yang lebih luas tentang kondisi manusia yang plural.

Terlepas dari potensi keuntungannya, keragaman agama ternyata juga dapat menjadi pedang bermata dua, yang terkadang menimbulkan perselisihan dan konflik. Intoleransi dan kesalahpahaman antarumat beragama dapat mengakibatkan diskriminasi, kekerasan, bahkan perang satu sama lain. Untuk menumbuhkan masyarakat yang lebih toleran dan penuh kasih, kita harus mengatasi tantangan yang ditimbulkan oleh keragaman agama.

Banyak konflik sosial muncul dari pelestarian stereotipe tentang kelompok agama lain. Prasangka sering kali berasal dari ketidaktahuan dan ketakutan atas hal yang tidak dikenal atau dipahami. Bias seperti itu dapat menyebabkan diskriminasi dan menghambat dialog antaragama yang bermakna.

Interpretasi literal dan non-dialogis terhadap ajaran agama juga dapat memicu intoleransi dan radikalisasi. Ketika penganut agama tertentu memandang iman mereka sebagai satu-satunya kebenaran mutlak, hal itu menjadi hambatan untuk bisa menghormati kepercayaan dan praktik dari pemeluk agama lain.

Baca Juga  Filosofi Kembang Telon: Mawar, Kenanga, dan Kantil

Tak dapat dielak pula bahwa konflik sejarah yang mengakar antara umat-umat beragama, yang sering kali dipicu oleh faktor politik atau ekonomi, dapat bertahan dari generasi ke generasi. Beratnya beban historis semacam ini dapat mempersulit upaya untuk membangun saling pengertian dan dialog dari generasi selanjutnya.

Sehingga, hambatan untuk berdialog dan keterlibatan sosial yang bermakna antara komunitas agama dapat melanggengkan miskonsepsi dan stereotipe. Maka, menyeimbangkan penghormatan terhadap keragaman budaya dengan hak asasi manusia secara universal sangatlah penting.

Ada beberapa hal yang perlu dicatat agar seseorang menjadi toleran kepada yang lain, kepada yang berbeda. Pertama, pendidikan dan kesadaran. Mau tak mau, pengetahuan adalah alat yang ampuh dalam mengatasi prasangka dan kesalahpahaman. Lembaga pendidikan dan tokoh agama harus mempromosikan literasi agama, mengajarkan tentang berbagai agama, sejarahnya, dan kontribusinya bagi kemanusiaan secara universal.

Kedua, dialog antarumat beragama. Mendorong dialog dan kolaborasi antara komunitas agama yang berbeda dapat memupuk pemahaman dan meruntuhkan penghalang untuk bisa memahami yang berbeda. Artinya, inisiatif kerja dialogis lintas agama dapat mempromosikan nilai-nilai bersama dan tujuan bersama, menekankan universalitas prinsip-prinsip etika dalam relasi antarmanusia.

Ketiga, representasi media. Media memainkan peran penting dalam membentuk persepsi publik. Mendorong penggambaran dan edukasi perihal keragaman agama yang akurat dan penuh hormat dapat merobohkan stereotipe serta prasangka lama dan meningkatkan empati kepada yang berbeda.

Keempat, mendorong pluralisme. Pluralisme memerlukan pengakuan dan perayaan keragaman di dalam dan di antara tradisi-tradisi keagamaan. Merangkul pluralisme mengakui bahwa ada lebih dari satu cara untuk menafsirkan kompleksitas kehidupan dan untuk mengkspresikan dimensi spiritual yang dialami manusia di muka bumi ini.

Kelima, empati dan welas asih. Menumbuhkan empati dan welas asih memungkinkan individu untuk melihat melampaui kotak sempit pengalaman mereka sendiri dan sehingga bisa terhubung dengan pengalaman dan aspirasi orang lain. Kualitas-kualitas ini membentuk dasar untuk membangun pemahaman dan toleransi dalam skala sosial dan global.

Baca Juga  Ibn ‘Arabi: Agamaku adalah Agama Cinta

Upaya untuk mempromosikan toleransi harus mengatasi akar penyebab konflik dan kesalahpahaman. Kesenjangan sosial ekonomi, manipulasi politik, dan beban lama sejarah harus diatasi untuk menciptakan wadah lingkungan yang kondusif bagi terdiseminasinya gagasan dan tindakan toleransi.

Keenam, legislasi dan hak asasi manusia. Pemerintah harus menjunjung tinggi dan melindungi kebebasan beragama sebagai hak asasi manusia. Perundang-undangan yang menentang diskriminasi agama memastikan bahwa individu dapat menjalankan keyakinan mereka tanpa takut akan persekusi dan penganiayaan yang datang dari yang berbeda.

Merangkul keragaman agama sangat penting untuk membangun masyarakat yang lebih inklusif dan toleran. Sementara keragaman agama bisa menjadi sumber konflik, hal itu juga nyatanya menghadirkan peluang untuk pertumbuhan, pemahaman, dan persatuan kemanusiaan.

Dengan memupuk aspek-aspek pendidikan, dialog, empati, dan rasa hormat, kita dapat mengatasi tantangan dan hambatan yang mencuat dari keragaman agama yang niscaya ini dan kemudian membangun dunia di mana umat manusia yang berbeda agama dapat hidup berdampingan secara harmonis dan dialogis.

Sebagai kesimpulan, toleransi bukanlah tentang melepaskan keyakinan seseorang, melainkan mengakui kemanusiaan dan harga diri orang lain, terlepas dari afiliasi agama mana pun mereka berasal. Hanya melalui upaya yang tulus untuk memahami dan menghargai yang berbeda satu sama lain, kita dapat menciptakan dunia yang di dalamnya kita tengah merayakan keragaman agama, bukan malah rasa takut dan benci.

Angga Arifka Alumnus Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya, tinggal di anggaarifka[dot]com