Spiral Kekerasan Laskar Keagamaan
Kekerasan antar-laskar keagamaan bukan sekadar konflik antarormas, melainkan cermin dari kultur kekerasan yang terlembagakan akibat negara yang gagal menjamin keadilan, penegakan hukum, dan pemerintahan yang bersih.
Kekerasan antar-laskar keagamaan bukan sekadar konflik antarormas, melainkan cermin dari kultur kekerasan yang terlembagakan akibat negara yang gagal menjamin keadilan, penegakan hukum, dan pemerintahan yang bersih.

Penerapan UU TPKS secara maksimal masih harus menempuh jalan panjang. Isu tentang kekerasan terhadap perempuan bukan hanya menjadi masalah bagi perempuan semata, tetapi masalah bagi masyarakat secara umum. Paradigma ini perlu dimiliki sehingga upaya kekerasan seksual dapat terwujud

Kekurangan dalam pengawasan terhadap pondok pesantren menjadi nyata, yang sering ditemui adalah kelalaian para pengurus dan pengasuh terhadap kehidupan sehari-hari santri.

Pondok pesantren yang memadai dapat menjadi salah satu prasarana untuk mencegah kekerasan seksual. Demikian halnya keamanan, tentunya tidak hanya memfasilitasi dalam bentuk fisik, namun juga mekanisme agar aman dan nyaman untuk mengikuti proses pendidikan.

Pemerintah juga tidak maksimal dalam mengatasi penderitaan para korban perbudakaan seks (Jugun Ianfu) oleh penjajah yang telah berusia lanjut, dikucilkan, bahkan telah tutup usia sebelum harkat dan martabatnya dipulihkan

Istilah jihad sering digunakan untuk membungkus suatu tindakan kekerasan, sehingga tampak bernuansa agama.

Buku Dari Membela Tuhan ke Membela Manusia: Kritik Atas Nalar Agamaisasi Kekerasan” yang akan didiskusikan dalam “Tadarus Litabdimas” kali ini (28 April 2020) dilatari oleh pengamatan dan refleksi penulis atas kehidupan beragama di dunia dan di Indonesia khususnya yang ditandai dengan kekerasan, baik kekerasan wacana seperti menuduh orang lain kafir, musyrik, mubdi’, thaghut maupun kekerasan […]
![Tadarus Litapdimas [5]: Membela Manusia dalam Perspektif Teks Keagamaan](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/04/politics-religion-1516033282-3819-800x510.jpg)
Tidak cukup seorang Muslim hanya bangga dengan kesalehan individualnya sementara abai dengan kebaikan lingkungan sosialnya. Demikian pula, tidak cukup seorang Muslim memaklumi perbedaan sebagai sunnatullah tetapi acuh terhadap segala upaya membangun kerekatan sosial antaragama, ras, suku dan perbedaan lainnya. Sungguh, Muslim yang baik harus meneguhkan jati dirinya sebagai epicentrum kebaikan bagi sesamanya. Maka menjadi sebuah […]
