Alif dan Mim (4): Rindu, Meja Makan, dan Impian Seorang Bapak
Mim ingin bercerita tentang ajakan bapaknya pergi ke Semarang. Tentang uwak yang baru diceritakan bapaknya. Juga tentang anak sulung uwaknya yang baru pulang dari Yaman.
Mim ingin bercerita tentang ajakan bapaknya pergi ke Semarang. Tentang uwak yang baru diceritakan bapaknya. Juga tentang anak sulung uwaknya yang baru pulang dari Yaman.


Kalau ada yang bertanya kepadaku, apa kriteria calon istri ideal menurutku, maka akan kujawab: Syaratnya hanya satu. Perempuan itu harus pintar. Cantik tidak apa-apa.


Sesampai di rumah, Mim langsung mengempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu. Ia menangis. Ranti menyusul kira-kira lima belas menit kemudian. Langsung masuk dan duduk di kursi yang berhadapan dengan Mim. “Maafkan aku, Mim.” Ranti memohon. Yang diajak bicara tak menyahut. “Mim, aku minta maaf.” ulang Ranti. Mim mengangkat kepala, menatap wajah sahabatnya dengan raut wajah […]


Mim baru saja menutup Asarnya dengan salam, saat suara ketukan pintu itu muncul. Berdoa sebentar. Buru-buru melipat mukena, lalu bergegas menuju arah suara. Saat pintu terbuka Ranti sudah berdiri dengan senyum kecilnya. Mim menyambut tak kalah gembira. Mereka berangkulan. Dua sahabat yang saling melepas rindu. “Jalan-jalan ke danau, yuk,” ajak Ranti. Mim mengernyitkan dahi. Memastikan […]

