Semangat Hari Kemerdekaan Indonesia dalam Bingkai Nilai-Nilai Islam
Perayaan atas Hari Kemerdekaan bukan sekadar peringatan masa lalu, tetapi penegasan kembali cita-cita yang terus menginspirasi dan mempersatukan rakyat Indonesia.
Perayaan atas Hari Kemerdekaan bukan sekadar peringatan masa lalu, tetapi penegasan kembali cita-cita yang terus menginspirasi dan mempersatukan rakyat Indonesia.


Sungguh waktu muda bukanlah waktu yang murah, tapi sangat mahal luar biasa. Selagi masih muda, banyak kesempatan yang bisa kita maksimalkan


KH. Achmad Shiddiq dan Gus Dur Pancasila, dalam hal penerapan asas tunggal, digunakan untuk mengatur relasi antar manusia (tidak bisa dianggap sebagai agama), sedangkan Islam adalah agama bukan ideologi atau pandangan politik


Keislaman harus hadir dalam ruang kebudayaan dan kebangsaan sebagai penguat identitas nasionalisme.


Pesan Om Ben, Nasionalisme di Indonesia hanya bermakna dan bermanfaat bagi rakyat kalau ada keadilan, kemanusiaan, keberpihakan pada rakyat kecil dan kesetaraan.


Nasionalismenya elitis-birokratis-developmentalis yang kaku, lebih mendukung untuk kepentingan para elite penguasa


Untuk mengajarkan kepada masyarakat tentang pentingnya kecintaan kepada negara, KHR. Ahmad Al-Hadi menyalurkannya melalui syair-syair untuk dibaca di berbagai kegiatan keagamaan.


Peran ulama dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda tidak perlu diragukan. Semangat nasionalisme yang sudah terpatri dalam diri mereka.


Dalam Tafsir al-Ibriz, KH Bisri Mustofa ingin menampakkan bahwa ada rasa cinta di dalam diri Rasulullah terhadap tanah air, rasa kebangsaan (nasionalisme) tidak akan berarti tanpa dibuktikan oleh cinta tanah air.


Nasionalisme adalah semangat kebangsaan yang merangkum segala keragaman di dalamnya. Sekalipun demikian, nasionalisme tidak boleh terjebak dalam pengunggulan bangsa yang karena itu, ia harus tetap tertambat dalam persaudaraan kemanusiaan universal.

