Shinta Khurniawati Mahasiswi Pascasarjana Ilmu Agama Islam Universitas Islam Negeri Walisongo

Nasionalisme K.H Hasyim Asy’ari

2 min read

Membicarakan nasionalisme tentu tidak terlepas dari latar belakang perjuangan bangsa Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan. Berbagai peran tokoh turut serta berjuang dan berkontribusi dalam upaya mencapai kemerdekaan. Hadratusysyaikh Hasyim Asy’ari merupakan salah satu ulama yang kharismatik di Indonesia. Kehidupan beliau didedikasikan pada agama dan negara. Berperan serta dalam kemerdekaan Indonesia disamping merespon kondisi politik dan sosial di zamannya. Aktif sebagai pejuang yang ikut serta memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Beliau mendeklarasikan fatwa jihad kebangsaan (resolusi jihad) untuk melawan penjajah.

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI) definisi nasionalisme memiliki beberapa arti, yakni kesatuan orang yang bersamaan asal keturunan, golongan manusia, binatang atau tumbuh-tumbuhan yang mempunyai asa-usul yang sama dan sifat yang khas yang sama atau kesamaan, kumpulan manusia yang biasanya berkaitan dengan kesatuan bahasa dan kebudayaan dan biasanya menempati wilayah tertentu di muka bumi (Lukman,1994).

Nasionalisme dan Islam merupakan kekuatan yang saling berhadapan. Sebab nasionalisme dan tanah air merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan. Dengan adanya semangat nasionalisme, rakyat dapat membebaskan tanah airnya dari belenggu kekuasaan kolonialisme. Dengan adanya nasionalisme, tentunya rakyat akan berusaha maksimal untuk melakukan pembelaan terhadap tanah airnya dari berbagai hal yang menyimpang dari nasionalisme. Sebab sesunggunya iktikad, suatu keinsyafan rakyat adalah satu golongan dan satu bangsa. Oleh karena itulah, hanya dengan nasionalisme, bangsa Indonesia tentu akan mencapai kemerdekaan yang sejati dan menjadi bangsa bermartabat

Adanya potensi untuk mewujudkan nilai-nilai nasionalisme bersumber dari masyarakat, sehingga hal tersebut menjadi kekuatan untuk dapat mewujudkan cita-cita bangsa indonesia berupa nasionalisme yang ada kaitannya dengan kecintaan terhadap negara. Potensi tersebut bisa bersumber dari agama dan budaya sebagai dasar karakteristik bangsa Indonesia. Didalam agama yang terdapat doktrin bagi setiap individu dapat berpengaruh kepada pemeluknya dengan melakukan apapun demi agama. Doktrin agama kemudian diterjemahkan, dimaknai kemudian disampaikan oleh para tokoh agama baik secara verbal maupun tektual yang juga tentu turut andil dalam mempengaruhi paham keagamaan masyarakat, termasuk nasionalisme

Baca Juga  Kiai Abdus Salam: Pejuang dan Pionir Berdirinya Tiga Pesantren di Jombang

Tebuireng dan Nahdlatul Ulama merupakan bentuk perjuangan K.H Hasyim Asy’ari dalam mewujudkan martabat dan perjuangan bangsa Indonesia melalui jalan yang berbeda. Melalui Pesantren Tebuireng memperjuangkan martabat melalui jalur pendidikan dan pengajaran Islam berbasis pesantren, begitu pula melalui organisasi Nahdlatul Ulama memperjuangkan umat melalui jalan pendidikan dan organisasi dan perjuangan yang gigih untuk melawan ideologi modern seperti kolonoalisme dan sekulerisme.

Beberapa pemikiran nasionalisme K.H Hasyim Asy’ari terlihat pada sikap beliau yang nonkooperatif dengan para penjajah. Diantaranya adalak menolak sumbangan finansial dari pemerintah Belanda untuk kepentingan Pesantren Tebuireng. Tidak berhenti disitu, sikap oposisi lainnya juga terlihat ketika NU menolak untuk duduk pada lembaga perwalian semu Volksraad, yang berdasarkan pada keputusan yang diambil pada muktamar NU ke-13 di Menes (Banten) pada tahun 1938. (Zuhairi,2010)

Berbagai penolakan lainnya juga secara tegas dilakukan oleh NU, seperti penolakan subsidi dari pemerintah Belanda kepada madrasah-madrasah dan pemerintah kolonial untuk mempertahankan hukum, artikel 177 dan 178 yang memberikan aturan tentang misi Kristen dan dakwah Islam. Penolakan lain yang dilakukan oleh K.H Hasyim Asy’ari terhadap Belanda adalah menolak medali penghargaan yang akan diberikan oleh Gubernur Belanda Van Der Plas tahun 1937.

Gubernur yang pada saat itu mengunjungi pesantren untuk menarik simpati para kiai. Selain melakukan perlawanan terhadap pemerintah Belanda, perlawanan K.H Hasyim Asy’ari juga dilakukan pada saat kedudukan Jepang. Beliau melakukan penolakan untuk melakukan saikerei, yakni kewajiban untuk melakukan penghormatan dengan cara membungkukkan badan ke arah Tokyo setiap pukul 07.00 sebagai simbol penghormatan kepada Kaisar Hirohito dan ketundukan terhadap Dewa Matahari.

Apa yang dilakukan oleh K.H Hasyim Asy’ari tentang nasionalisme secara garis besar adalah suatu penolakan terhadap penjajah yang telah melakukan penindasan, pemaksaan, perampasan dan kezaliman dalam berbagai bidang yang merugikan rakyat Indonesia baik dari segi ekonomis, sosial, budaya, politik dan tentunya adalah memberikan pembatasan dan gangguan serta kebebasan bagi pemeluk agama Islam dalam menjalankan peribadatannya

Baca Juga  Ahmad Wahib: Pembaru Muslim yang Humanis

K.H Hasyim Asy’ari telah membuktikan bahwasanya antara keislaman dan keindonesiaan merupakan dua hal yang tidak dapat dipertentangkan. Keduanya harus ada pada satu nafas. Islam sebagai nilai-nilai adiluhung yang bersifat universal, sedangkan keindonesiaan merupakan suatu realitas sosial yang juga harus diisi dengan nilai-nilai itu tanpa harus menafikannya. Hal ini berarti bahwa keislaman juga harus hadir pada kebudayaan dan juga kebhinekaan yang sudah mengakar kuat pada jati diri dan memori kolektif bangsa ini. Sebagaimana datangnya Islam yang dibawa oleh para saudagar Gujarat melalui jalur perdagangan secara damai dan toleran

Proses untuk menjadi Indonesia yang utuh dan telah banyak melewati perjuangan panjang, sangat disayangkan apabila harus kembali mundur untuk memperdebatkan bentuk negara serta sistem pemerintahan yang tepat bagi Indonesia. Indonesia yang telah jelas memiliki lima sila yang menjadi dasar dalam kehidupan masyarakatnya yang memiliki kemajemukan tinggi, kehidupan yang rukun, saling mengisi, menghormati, tenggang rasa dan toleransi antar satu dengan yang lainnya.

Dasar negara pertama yang merupakan Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi bukti bahwasanya Indonesia tidak melepaskan diri dari hubungan antara agama dan kekuasaan. Berawal dari hal itu, perlu kita ketahui bersama bahwa untuk bertahan dalam kedaulatan bangsa dan negara di tengah-tengah upaya degradasi akibat kemajuan teknologi juga harus didampingi pula dengan konsep modern dan keagamaan.

Shinta Khurniawati Mahasiswi Pascasarjana Ilmu Agama Islam Universitas Islam Negeri Walisongo