Muhammad Toha Sobirin Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya

Bolehkah membaca Alquran tanpa Irama?

2 min read

Bagi seorang umat islam, tentu kita tidak asing dengan yang namanya Alquran. Karena Alquran sendiri merupakan buku pedoman bagi umat Islam dalam berkehidupan. Didalam Alquran sendiri juga ada tata cara dalam membacanya. Lalu bagaimana tata cara membaca Alquran itu? apakah diperbolehkan jika membaca Alquran itu tanpa irama?

Perlu kita ketahui makna irama itu sendiri adalah suara yang mengandung nada. Sedangkan nada adalah bunyi yang beraturan dengan frekuensi tunggal tertentu dan memiliki tinggi nada tertentu menurut frekuensinya.

Dari Al-Bara’ bin ‘Aazib, Rasulullah SAW bersabda:

“Hiasilah Al-Quran dengan suara kalian”.

(Hadith Al-Bara’ bin ‘Aazib ini dicatat oleh Ibnu Majah dalam Sunan Ibnu Majah, Kitab Iqamat As-Solat Wa Sunnah Fiha, Bab Fi Hasan As-Saut Bil Quran, No hadith 1342, status hadith ini sahih).

Dari hadist di atas, bisa kita pahami bahwasanya Nabi menganjurkan kepada kita ketika membaca Alquran maka harus di hiasi dengan suara kita yang merdu. Sedangkan didalam merdunya suara terdapat irama didalamnya. Dikatakan oleh param alim ulama’ yang di maksud irama itu adalah bacaannya bagus. Yang di maksud bacaan bagus itu adalah dimana ketika membaca Alquran dengan memperhatikan 3 hal yaitu Tajwid, Tahsin, dan Tartil.

Secara terminologis, tajwid menurut ‘Athiyyah Qabil Nashar, ilmu tajwid ialah ilmu yang membahas ayat-ayat Alquran dari segi pemberian huruf pada haknya yang berupa sifat-sifat yang lazim yang diperlukan, seperti isti’la’ dan istifal, atau mustahaq huruf dari hukum-hukum bacaan yang muncul dari sifat-sifat tersebut, seperti hukum bacaan tafkhim, tarqiq, idgham, izhar, dan lain sebagainya.

Menurut istilah, tajwid adalah ilmu yang menjelaskan tentang hukum-hukum dan kaidah-kaidah yang menjadi landasan wajib ketika membaca Alquran, sehingga sesuai dengan bacaan Rasulullah SAW. Abu Nizhan dalam bukunya yang berjudul, Buku Pintar Al-Qur’an dijelaskan tajwid biasa disebut sebagai ilmu yang mempelajari tentang bagaimana cara mengucapkan kalimat-kalimat Alquran.

Baca Juga  Apa Kabar Ibadah Kita Setelah Ramadhan?

Dari sini bisa kita pahami bahwa arti dari tajwid pada dasarnya adalah membaca Alquran dengan mengucapkan kata perkatanya dengan memperjelas sifat huruf dan dengan itu, kita dapat memperindah bacaan kita saat membaca Alquran. Selain itu, ketika kita membaca Alquran dengan menerapkan tajwidnya, maka bacaan kita juga akan menjadi jelas. Karena dengan adanya tajwid kita juga bisa membedakan mana yang hurufnya harus dipanjangkan, mana hurufnya yang harus pendek, kapan huruf itu bisa menjadi 4 harakat atau 2 harakat, kapan huruf itu harus dibaca dengung atau samar, dan lain sebagainya.

Selain tajwid, kita juga harus memperhatikan tahsin. Tahsin artinya membaguskan. Maksudnya adalah membaguskan dalam hal kualitas bacaan Alquran seseorang seperti dikutip dari laman Lembaga Tahfizh dan Ta’lim Al-Qur’an (LTTQ) Masjid Fathullah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Kata tahsin sendiri diambil dari kata dalam bahasa Arab حسَّن – يحسِّن – تحسيناً yang mengandung arti memperbaiki, menghiasi, membaguskan, memperindah, atau membuat lebih baik dari semula.

Satu riwayat dari sabda Rasulullah SAW menjelaskan, orang yang mahir atau menguasai bacaan Al Quran dengan baik akan dibersamai oleh malaikat saat mereka membaca Al Quran. Dari Aisyah RA berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,

الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ وَهُوَ مَاهِرٌ بِهِ مَعَ السَّفَرَةِ الكِرَامِ البَرَرَةِ، وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أجْرَانِ

Artinya: “Orang yang mahir membaca (dan menghafal) Alquran, (dia berada) bersama para malaikat yang mulia lagi taat. Orang yang membaca Alquran dengan terbata-bata lagi sulit (dalam membacanya mendapatkan dua pahalanya,” (HR Muslim).

Jadi, tahsin adalah salah satu cara mencapai kesempurnaan pahala membaca Alquran. Sebab itulah diperlukan ilmu tajwid dan tahsin untuk menyempurnakan bacaan Alquran sebagaimana yang disinggung dalam hadits sebelumnya.

Baca Juga  Mendedah Problem Plagiarisme Dalam Dunia Pendidikan

Selain tajwid dan tahsin juga ada yang namanya tartil. Dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib dalam Syarh Mandhumah al Jazariyah, tartil adalah mentajwidkan huruf-hurufnya dan mengetahui tempat berhentinya. Lalu, menurut Abu Ishaq dalam Lisan al Arab, tartil adalah membaca dengan jelas. Membaca dengan tartil ternyata juga dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW. Selain itu, dalam ayat Alquran sendiri membaca dengan tartil juga dianjurkan oleh Allah. Dalam Al Qur’an surat al Muzammil ayat 4 yang berbunyi :

اَوۡ زِدۡ عَلَيۡهِ وَرَتِّلِ الۡقُرۡاٰنَ تَرۡتِيۡلًا

 “Dan bacalah Alquran itu dengan tartil.”

Berdasarkan ayat di atas, Allah memerintahkan hamba-Nya untuk membaca Alquran dengan tartil yang sebenar-benarnya, dimana tidak membaca Alquran dengan asal-asalan. Inti dari membaca dengan tartil adalah membaca dengan pelan-pelan, jelas setiap hurufnya, tanpa berlebihan panjang dan pendeknya.

Bahkan bisa kita ketahui imam besar Arab seperti halnya Syaikh Misharry Rasyid, Abu Sudais, Muhammad Toha Al Junayd dan yang lain. Jika kita ingin memperhatikan lebih dalam, maka tiap-tiap bacaan dari orang-orang tersebut memiliki nada dan iramanya masing-masing. Karena mereka juga paham tentang apa itu yang namanya tajwid, tartil, dan tahsin. Sehingga dari situ terwujudlah Iramanya masing-masing.

Kesimpulannya adalah Islam menganjurkan membaca Alquran dengan irama dan irama itu sendiri berasal dari tajwid, tartil, dan tahsin. Nah, jika kita membaca Alquran dengan memperhatikan tajwid, tahsin, dan tartil maka bacaan kita akan menjadi bagus dan memiliki iramanya. Sehingga hal itu menjadi salah satu cara supaya kita dapat khusyuk ketika membaca Alquran maupun membaca ayat Alquran ketika sholat. Pada akhirnya kita akan mendapatkan keberkahannya dan kerahmatan dari Allah Swt.

Muhammad Toha Sobirin Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya