Vevi Alfi Maghfiroh Alumnus Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Kini menempuh Pascasarjana di IAIN Syekh Nurjati Cirebon jurusan Hukum Keluarga Islam (HKI)

Huda Shaarawi: Perintis Pergerakan Wanita yang Mengakhiri Kehidupan Harem di Mesir

3 min read

source: cairoscene

Jika melihat bagaimana modern dan terpelajarnya wanita Mesir di masa kini, maka nama Huda Shaarawi akan diingat atas perjuangannya untuk menjadikan wanita Mesir mampu menikmati pendidikan tinggi, gaya hidup yang tidak terbelakang seperti yang kita lihat sekarang.

Jauh sebelum Shaarawi memulai perjuangannya, wanita Mesir hidup sebagai perempuan dalam sangkar emas. Dulu, kehidupan mayoritas perempuan di Timur Tengah termasuk Mesir dibatasi dalam ruang-ruang tertentu, dan mereka tidak mempunyai keleluasaan gerak. Sejak usia belia, mereka umumnya sudah memiliki calon suami yang berusia jauh di atasnya. Setelah si perempuan berusia belasan tahun, mereka dinikahkan dengan calon suami yang terkadang juga belum pernah ia temui sebelumnya.

Huda Shaarawi sendiri merupakan seorang perempuan Mesir kelahiran 23 Juni 1879. Ia lahir dari keluarga kaya, namun ia mengalami masa lalu yang kelam. Di Mesir kala itu, tak mudah bagi para wanita untuk meminta cerai karena hak pernikahan mutlak ada di tangan suami. Dengan latar belakang kehidupan yang demikianah ia merintis gerakan bagi kaum Hawa Mesir yang menuntut agar diperlakukan seperti manusia seutuhnya, bukan seperti peliharaan.

Pada tahun 1910, Huda membuka sekolah khusus bagi perempuan, yang fokus pada pendidikan akademis. Bahkan, ia juga mengorganisir demonstrasi wanita anti Inggris terbesar saat masa pendudukan Inggris di Mesir tahun 1919.

Shaarawi mendirikan Egyptian Feminist Union setelah kembali dari Kongres International Woman Suffrage Alliance di Roman, Italia. Sejak saat itulah dimulai sejarah feminisme di Mesir. Kemunculannya sepulang kongres tersebut menggemparkan masyarakat karena untuk pertama kalinya ia membuka cadar di hadapan publik.

Jika melihat latar belakang perlakuan dari keluarganya, kisah hidup Shaarawi tidak jauh berbeda dengan yang dialami Kartini . Ia yang bernama lengkap Nur al-Huda Sultan merupakan putri dari Muhammad Sultan Pasha, Presiden pertama Dewan Perwakilan Rakyat Mesir, serta tuan tanah yang kaya raya. Namun ibunya, Iqbal Hanim bukanlah istri resmi ayahnya. Ibunya yang berasal dari pegunungan Turki merupakan istri kedua dari Sultan Pasha.

Baca Juga  Para Perempuan Hebat di Era Kenabian

Ketika Sultan Pasha meninggal, ibu Shaarawi sedang mengandung adik lelakinya. Saat adiknya yang lahir yang kemudian diberi nama Umar Sultan pada tahun 1881, kehadirannya disambut gembira karena dianggap sebagai penerus keturunan. Melihat fakta tersebut, Shaarawi  menyadari bahwa statusnya sebagai anak yang lebih tua tidak berarti, karena adik lelakinya lebih berkuasa dan mendapat perhatian lebih dari keluarga.

Sebagai keluarga terpandang yang mewarisi kekayaan melimpah, ia mendapat pendidikan terbaik. Namun berbeda dengan saudara laki-lakinya, ia tidak mempelajari semua mata pelajaran sebagaimana yang dipelajari anak laki-laki. Belajar bagi anak perempuan hanya sekedar menghafal, tanpa ada pelajaran akademis yang setara dengan laki-laki. Kerap kali ia memberontak, menurutnya apabila pengetahuan itu tidak pernah didapat perempuan, maka mereka selamanya akan tertinggal.

Memasuki masa remaja, Shaarawi mulai tertarik dengan isu gender. Ia banyak menyadari ketimpangan yang terjadi di sekitarnya hanya karena jenis kelamin. Saat usianya beranjak remaja, ia terpaksa harus terpisah dari saudara laki-lakinya karena harus tinggal di Harem, sebuah tempat yang diperuntukkan bagi para perempuan yang sudah bertunangan–dipingit.

Pergerakannya mulai dibatasi dan ia wajib menggunakan cadar. Pada saat itu ia mulai merasa frustasi karena terlahir sebagai perempuan. Kekecewaannya bertambah lagi pada saat ia berusia 13 tahun. Ia terpaksa harus menikah dengan Ali Shaarawi, sepupunya sendiri yang sudah berusia 40 tahun dari perjodohan yang sudah diatur lama oleh keluarganya.

Kala itu Ali Shaarawi telah memiliki seorang istri dan tiga anak perempuan yang usianya diatas Shaarawi. Sebelum pernikahan berlangsung, sang ibu membuat perjanjian agar Ali meninggalkan istri pertamanya. Namun, 15 bulan setelah pernikahannya, istri pertama Ali hamil sehingga ia bisa pulang ke rumah orangtuanya dan terjebak dalam status pernikahan yang tidak jelas.

Baca Juga  Cyber Harassment terhadap Bunga Citra Lestari: Objektivikasi Perempuan dan Janda

Akan tetapi diam-diam Huda Shaarawi menikmati masa ini dan menghabiskan waktunya untuk belajar dan membaca banyak buku, menemui guru-guru, berjumpa dengan wanita asing berpendidikan tinggi yang membuatnya semakin terinspirasi untuk mengubah hidup.

Pada tahun 1914, Shaarawi mendirikan Intellectual Association of Egyptian Women, sebuah perkumpulan untuk meningkatkan intelektual dan kehidupan kaum wanita Mesir. Di akhir Perang Dunia I, Shaarawi juga mengalihkan perhatiannya pada isu kebangkitan nasionalisme rakyat Mesir yang menuntut kemerdekaan dari Inggris Raya.

Ia juga mengorganisir protes berskala besar untut menuntut revolusi pada 16 Maret tahun 1919 yang menyeru kaum perempuan Kairo untuk menggugat norma-norma sosial, salah satunya meninggalkan gaya hidup terisolir di Harem dan mulai berani turun ke jalan.

Pada tahun 1920, para aktivis wanita Mesir mendirikan badan politik sendiri yang bernama Wafdist Women’s Central Committee, dan Huda Shaarawi menjadi presidennya. Organisasi ini merupakan organisasi politik pertama bagi kaum wanita Mesir. Namun, setahun setelah kemerdekaan Mesir, di bawah konstitusi yang baru, kaum wanita Mesir merasa dikhianati oleh partai Wardf yang tidak memberi mereka hak suara.

Sebagai responnya, Shaarawi mendirikan Egyptian Feminist Union (EFU) di awal tahun 1923. Tujuannya adalah untuk mendesak agar wanita diperlakukan setara dengan pria dalam bidang politik, sosial, dan hukum. Ia juga mengkampanyekan usia minimum pernikahan bagi kaum perempuan, sehingga tidak akan ada lagi perempuan yang menikah di usia anak.

EFU juga memperjuangkan adanya syarat yang ketat dalam poligami, memperkuat kedudukan istri dalam pernikahan agar memiliki hak untuk menuntut perceraian, serta agar tidak diperlakukan semena-mena oleh suami. Selain itu, Shaarawi juga berusaha memperluas kesempatan wanita Mesir untuk mengakses pendidikan. Dan, akhirnya di tahun 1930, sejumlah universitas di Mesir mulai mengizinkan wanita berkuliah.

Baca Juga  Pernikahan antara Perjuangan dan Negoisasi: Catatan Seorang Ibu

Berkat jasa-jasanya ia dianugerahi Nishan al-Karmal Award pada tahun 1945. Ia juga tetap menjadi pemimpin EFU sampai wafat. Huda Shaarawi meninggal pada 12 Agustus 1947 di Kairo. Sebagai penghormatan, para anggota EFU mengubah nama organisasinya ini menjadi Shaarawi Society for the Feminist Renaissance. [AA]

Vevi Alfi Maghfiroh
Vevi Alfi Maghfiroh Alumnus Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Kini menempuh Pascasarjana di IAIN Syekh Nurjati Cirebon jurusan Hukum Keluarga Islam (HKI)

Artikel Terkait