Ahmad Sahlan Zakariya Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya

Beragama di Era Digital

2 min read

ltnnujabar.or.id

Kehadiran era digital telah membawa banyak pengaruh terhadap sudut pandang hubungan keagamaan, di antaranya yakni dapat memengaruhi hubungan yang telah di bangun dengan baik. Kehadiran hoax, ujaran kebencian, dan ajaran radikal telah berkembang banyak yang disebabkan oleh kehadiran teknologi digital. Dan di era saat ini, teknologi digital seolah telah menjadi kebutuhan pokok penduduk dunia.

Dengan kemudahan yang sudah tersedia, tentunya kita harus lebih teliti dan berlaku bijak dalam menggunakannya. Jangan sampai juga hal yang seharusnya menguntungkan kita malah berbalik menjadi masalah. Dengan adanya kemudahan mengakses informasi kapan saja dan dari mana saja, sangat mudah menemukan apa pun yang ingin dicari dan ingin dipelajarinya. Juga kemudahan berpendapat untuk didengar oleh khalayak, sehingga mengakibatkan buramnya kebenaran. Akibatnya, pengguna internet diberi tanggung jawab untuk memilih sendiri mana yang benar dan mana yang salah.

Perkembangan teknologi digital masa kini telah banyak memengaruhi berbagai garis kehidupan umat manusia. Semua aspek pada akhirnya harus mampu beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan perkembangan tersebut agar dapat terus eksis dan berkembang sesuai dengan zaman. Kehadiran internet menjadi jembatan bagi banyak kalangan untuk mencari pengetahuan, pertemanan, hingga penghasilan. Oleh sebab itu, baik individu maupun perusahaan sudah mampu menggunakan internet dan menghasilkan produk yang bisa terkoneksi internet. Jika tidak, maka akan terjadi kesulitan untuk memasarkan produk-produk mereka, sehingga hampir seluruhnya telah menggunakan teknologi digital.

Ada banyak kasus pendiskreditan agama yang dilakukan di media sosial. Tapi umat beragama perlu paham bahwa bisa jadi hal itu sengaja dibuat untuk mengadu domba antarumat beragama. Teknologi dan internet memungkinkan sebuah posting-an di media sosial bisa dibuat oleh siapa saja dengan identitas yang bisa dipalsukan.

Baca Juga  Mati Ketawa Cara Wahabi

Saat ini kita memasuki suatu abad digital canggih dimana manusia modern dituntut untuk lebih kreatif dalam memanfaatkan ilmu dan teknologi bagi kehidupannya. Perkembangan teknologi yang semakin canggih membawa kemajuan dalam berbagai bidang. Saat ini tidak ada lagi pelosok dunia yang tidak lagi terjangkau dan luput dari kecanggihan komunikasi. Seluruh bagian dunia menjadi tembus pandang membuka diri dan siap berubah.

Dengan kecanggihan teknologi komunikasi seolah-olah tidak saling terpisah lagi, bagi dunia yang satu terkait dengan dunia yang lainnya. Disamping itu, perkembangan dalam bidang komunikasi telah memperpendek jarak antar wilayah. Dan salah satu kecanggihan komunikasi tersebut yang saat ini lagi tren adalah apa yang dinamakan internet.

Kehadiran internet termasuk media sosial perlu diantisipasi dengan baik oleh semua elemen baik pemerintah, tokoh agama, maupun masing-masing pemeluk agama yang harus mampu mengontrol diri. Jika tidak mampu beradaptasi dan membendung arus digital yang bisa disalahgunakan itu, maka konflik antarumat beragama akan menjadi bola panas yang bisa mudah tersulut dan yang timbul kemudian adalah ketidaktenangan, saling curiga antara satu dengan yang lain, dan tidak menutup kemungkinan adanya tindak kekerasan dan permusuhan di antara umat beragama.

Sudah menjadi tren masyarakat saat ini, dalam beragama seseorang lebih banyak belajar dari internet, media sosial, atau bahkan website-website. Beragama sudah bisa dipelajari secara instan dan otodidak, sehingga tidak sedikit yang tersesat dan menyesatkan. Banyak yang terjebak pada istilah-istilah yang tidak dipahami secara utuh. Dengan demikian, masyarakat dituntut untuk memiliki tendensi dasar dalam memilah keabsahan suatu informasi yang ia baca atau statement yang mau diungkapkan di depan khalayak dunia maya.

Di sisi lain, para pemuka agama dituntut aktif dalam memberikan informasi pemahaman agama yang benar guna mengimbangi kebutuhan masyarakat saat ini. Yaitu dengan mengemas metode dakwah secara modern. Literasi beragama dengan internet adalah bagian yang tidak boleh terbengkalai dalam kehidupan beragama saat ini, yakni dengan ikut serta mewarnai dinamika informasi perihal agama dengan pemahaman yang benar di dunia maya. Maka akan ada kontrol yang bisa dijadikan sebagai rujukan oleh masyarakat.

Baca Juga  Larangan Salat Ied di Masjid dan Lapangan di Tengah Pandemi: Integrasi antara Agama dan Sains

Dengan demikian, orang-orang yang dinilai memiliki pemahaman agama yang mumpuni dituntut untuk memiliki fleksibilitas dalam beragama dan dalam metode berdakwah, jangan sampai dalam berdakwah menggunakan metode doktrinal, yaitu memahami dan menjalankan agama semata-mata hanya sebagai doktrin. Mereka dituntut untuk mengikuti perkembangan zaman agar tidak tergerus oleh tren-tren yang tidak mengandung unsur positif atau bahkan hanya menimbulkan kerugian saja.

Beragama dengan fleksibel bukan berarti meremehkan ajaran agama, tetapi karena dia mengerti bagaimana dia beragama. Fleksibilitas ini merupakan salah satu ciri beragama dengan cerdas. Beragama yang cerdas juga bisa dilakukan dengan cara melihat berbagai persoalan dari berbagai prespektif. Jadi, orang-orang beragama yang cerdas harus memiliki keluasan ilmu, tidak hanya melihat agama dari satu sisi, misal dari segi hukum saja. Kecerdasan yang dimaksudkan di sini adalah bagaimana orang beragama memfungsikan akalnya secara proporsional dalam menginterpretasikan teks-teks agama.

Akal merupakan sebuah sarana bagi umat Islam untuk mencapai sebuah pemahaman terhadap teks-teks agama. Akal menjadi titik pembeda bagi manusia dengan makhluk ciptaan lainnya. Dengannya pula manusia sampai pada sebuah titik kebenaran yang berpengaruh terhadap cara pandangnya. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa akal dan agama memiliki hubungan timbal balik yang erat di antara keduanya.

Pesan-pesan yang terkandung dalam ajaran Islam dapat termanifestasikan dalam tatanan realitas jika peranan akal difungsikan. Dalam artian, akal berperan sebagai sebuah alat untuk membaca teks-teks agama sehingga dapat dipahami dan tersentuh dalam tatanan realitas yang ada. Sebab dalam bingkai sejarah, Islam bukanlah agama yang mendiskreditkan fugsi akal. (mmsm)

 

Ahmad Sahlan Zakariya Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya