Ajaran Suluk Linglung Sunan Kalijaga

3 min read

Term tasawuf dapat didefinisikan sebagai upaya rohani dalam mencari jalan untuk menjalani kehidupan di dunia agar bisa selaras, sesuai dan serasi dengan tujuan dan fungsi hidup yang sudah ditetapkan oleh Sang Maha Pencipta. Dari sekian banyak tokoh-tokoh tasawuf yang mendunia, seperti Syekh Abdul Qadir Jaelani, di Nusantara juga terdapat beberapa tokoh yang ikut berperan dalam penyebaran ajaran tasawuf. Salah satunya dari Wali songo yakni Sunan Kalijaga, selain menyebarkan ajaran agama Islam dengan kesenian, dia juga menyebarkan ajaran tasawuf melalui karya sastra.

Karya sastra Sunan Kalijaga tidak dapat lepas dari wacana Islam khas para sufi. Wacana sufi di tangan Sunan Kalijaga yaitu memadukan ajaran Nabi Muhammad Saw dengan kebudayaan masyarakat. Salah satu ajaran sufi karya Sunan Kalijaga yang memuat nilai-nilai ajaran tasawuf yakni Suluk Linglung.

Term “Suluk” berarti mistis, atau jalan menuju kesempurnaan batin. Dalam terminologi Al-Qur’an, Suluk sama halnya dngan fasluki yang penjelasannya terdapat dalam surah an-Nahl: 69 “fasluki subula rabbiki dzululan” yang berarti tempuhlah jalan menuju Rabbmu yang telah dimudahkan bagimu. Dalam sastra Jawa suluk berarti ajaran, falsafah untuk mencari hubungan dan persatuan manusia dengan Tuhan.

Term “Linglung” dalam khazanah Jawa berarti “Bingung.” Makna dari bingung adalah sesuatu yang tidak memiliki kepastian. Sebagaimana Sunan Kalijaga mengalami dua ruang yang berbeda, yakni sebagai anak seorang bangsawan dan menjadi perampok.

Suluk Linglung merupakan ajaran makrifat dan perjalanan spiritual Sunan Kalijaga yang paling tinggi dan menemukan makna hakikat kehidupan. Ajaran makrifat Sunan Kalijaga ini berdasarkan kitab Duryat yang kemudian digubah oleh Imam Anom menjadi Suluk Linglung.

Dalam Suluk Linglung dijelaskan secara detail mengenai perjalanan Sunan Kalijaga dalam mencari iman yang hakiki, ketika dia brandal, kemudian bertemu dengan Sunan Bonang, dan akhirnya berguru dengan guru Sejati, yaitu Nabi Khidir.

Baca Juga  Serat Wulangreh Pupuh Gambuh Sebagai Manifestasi Ajaran Islam [1]

Selama fase menempuh dan bertemu dengan para gurunya, Sunan Kalijaga mengalami beberapa fase kehidupan yang dalam Suluk Linglung dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu:

Fase pertama adalah kebingungan atau linglung. Fase ini terjadi ketika Sunan Kalijaga berusaha memperoleh petunjuk mengenai apa sebenarnya hakikat hidup manusia. Sunan Kalijaga telah membulatkan tekad dan berusaha menahan segala nafsu diri agar dapat menuju penyerahan diri kepada Allah. Namun, Sunan Kalijaga merasa usahanya tidak mendapatkan apa yang ia cari, ia merasa usahanya nihil. Perjalanan ini tertulis dalam Suluk Linglung pupuh I bait 3:

“Ling lang ling lung sinambi angabdi, saking datan amawi sabala, kabeka dene nepsune, marmannya datan kerup, denya amrih wekasih urip, dadya napsu ingobat, kabanjur kalantur, eca dhahar lawan nedra, saking tyas awon perang lan nepsu neki, sumendhe kersaning Hyang.”

“Ling lang ling lung (hati bimbang pikiran bigung) masih tetap mengabdi, walaupun tanpa ada yang membantu, selalu tergoda oleh nafsu, karena tidak mampu mengatasinya, berbagai usaha telah ditempuh agar akhir hidup nanti, mampu mengatasi dan mengobati nafsu, jangan sampai terlanjur terjadi, puas makan dan tidur, sebab hati akan kalah perang dengan nafsu, hanya Allah tempat berserah diri.”

Perjalanan Sunan Kalijaga mencari hakikat hidup selalu dipenuhi kegundahan, mengalami gejolak dalam hatinya, dan nafsu-nafsu yang sulit ia padamkan membuatnya semakin linglung. Dalam perjalannya Sunan Kalijaga bertemu dengan Sunan Bonang yang memberinya semangat. Sunan Kalijaga begitu bahagia karena mendapatkan guru Sunan Bonang yang dapat ia jadikan sandaran dalam segala kondisi kebingungannya. Pada pupuh I bait 7 dalam Suluk Linglung dikatakan:

“Ling lang ling lung tan olih, anenagih ngejeg, tanpo potang, kang tinagih meneng bae, pan nyata nora nyambung, kang anagih awira wiri, tan ana beda nira, Syeh Melaya iku, wit pahurita atapa, mring Jeng Sunan Bonang kinen tengga kang cis, tan Kenya yen kesana.”

“Ling lang ling lung meminta upah tiada hasil, menagih tak henti-hentinya tanpa piutang, yang ditagih diam saja, sebab kenyataannya tiada hutang, yang menagih datang lalu pergi, semua itu tiada beda dengan Syeh Melaya sendiri, saat ia mulai berguru dan bertapa, kepada Kanjeng Sunan Bonang diperintahkan menunggui tongkat dan dilarang meninggalkan tempat.”

Dalam konteks hari ini ajaran suluk linglung dapat diimplementasikan dalam bertasawuf. Dalam bertasawuf, seorang yang ingin menyempurnakan dirinya harus melalui beberapa tahapan dalam perjalanan spiritualnya. Tahapan paling dasar adalah syari’at, yaitu tahap pelatihan badan agar tercapai kedisiplinan dan kesegaran jasmani. Dalam syari’at hubungan antar manusia dengan Tuhan yaitu menjadi umat.

Baca Juga  [Puisi] Membaca Malam, Rotasi Tubuh Galaksi, Rupa Dirupa, Air Zamzam Tuhan, dan Gula

Dalam kitab Suluk Linglung juga dijelaskan tentang pentingnya penekanan menjalankan syari’at Islam seperti yang diajarkan oleh Rasulullah saw, termasuk sholat lima waktu, puasa ramadhan, membayar zakat dan menjalankan ibadah haji.

Setelah syariat Islam dijalankan secara sempurna dan istiqomah, Sunan Kalijaga kemudian mengajarkan pentingnya kesadaran diri dengan cara tirakat dan perenungan diri. Dalam bertirakat, Sunan Kalijaga juga mengajarkan mengenai pentingnya bertapa atau menahan nafsu dengan beberapa fase, yaitu: Fase Pertama, bertapa badan yakni berbicara sopan santun, cara mengimplementasikannya adalah dengan selalu mengerjakan kebaikan.

Fase Kedua, bertapa hati yakni sabar, cara mengimplementasikannya adalah bersih dari prasangka buru. Fase Ketiga, bertapa nafsu yakni ikhlas, cara mengimplementasikannya adalah menjalani cobaan dan mudah memaafkan. Fase Keempat, bertapa ruh yakni berkata jujur, cara mengimplementasikannya adalah dengan selalu mengatakan apapun keadaan yang terjadi dengan sesuai fakta. Fase Kelima, bertapa rasa yakni berlaku utama, sedangkan cara mengimplementasikannya adalah diam dan taubat. Fase Keenam, bertapa nur yakni berlaku suci, untuk cara mengimplementasikannya adalah berhati ikhlas. Fase Ketujuh, bertapa hayu yakni senantiasa waspada, cara mengimplementasikannya selalu ingat Allah Swt. Fase terakhir, bertapa mata yakni mengurangi tidur, sedangkan cara mengimplementasikannya tidak berharap dan iri terhadap miliki orang lain. Hal ini berkaitan dengan martabat tujuh yakni tapa tentang tujuh anggota badan. Selain mata, tapa mata, hidung, lisan, aurat, tangan dan kaki.

Nilai-nilai dalam Suluk Linglung mengejawantahkan bagaimana pemikiran tasawuf Sunan Kalijaga diajarkan. Laku spiritual dalam Suluk Linglung melalui beberapa tahapan yang diawali dengan kebingungan (linglung) tentang segala sesuatu sampai akhirnya bertemu dengan para gurunya, kemudian dilanjutkan dengan pencarian tentang kebenaran untuk mencari makna hidup yang hakiki.

Baca Juga  Dimash Kudaibergen: Promoting Humanity and Religious Values without Religious Attributes in the Showbiz World

Pencarian itu terus mengalami peningkatan hingga sampai pada puncaknya yakni insan kamil. Tahapan insan kamil dicirikan dengan seseorang yang berpengetahuan akan hakikat makna hidup sehingga ia akan lebih bijaksana, tidak ekstrem dalam bersikap, dan selalu menjaga harmoni dunia. Sehingga menjadikan khazanah intelektual Sunan Kalijaga menjadi karya Islam Nusantara sebagai landasan yang kuat tentang tradisi budaya dan Islam.