Amalan-Amalan di Bulan Ramadan bagi Perempuan yang Haid

2 min read

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan berkah. Umat Islam berlomba-lomba memperbanyak ibadah di bulan paling mulia ini. Namun, ada orang-orang yang kurang beruntung lantaran terhalang untuk melakukan berbagai ibadah di bulan Ramadhan.

Perempuan yang haid termasuk orang-orang yang terhalang untuk berpuasa. Dalam ajaran Islam, haid atau menstruasi merupakan masa di mana seorang perempuan sedang dalam keadaan tidak suci atau kotor. Sehingga perempuan yang sedang haid tidak boleh berpuasa, salat, dan membaca Al-Qur’an.

Diperjelas juga sama seorang ulama fikih yaitu Sayyid Sabiq mengatakan dalam Kitab Fiqih Sunnah-nya, perempuan haid yang terhalang untuk puasa Ramadan wajib mengganti puasa yang ia tinggalkan selama masa haid tersebut. Apabila ia memaksakan diri untuk berpuasa, kata Sayyid Sabiq, puasanya tidak bermakna apa pun alias batal.

Meski demikian, ada sejumlah amalan di bulan Ramadan bagi perempuan yang haid agar tetap mendapatkan keberkahan dan lipatan pahala di bulan yang suci ini. Berikut amalan-amalan di bulan Ramadan bagi perempuan yang haid:

Pertama, Mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an

Meskipun tidak diperbolehkan untuk membaca Al-Qur’an, perempuan yang haid tetap diperbolehkan untuk mendengarnya. Kebolehan ini didasari hadis riwayat Ibnu Majah. Dari Aisyah Ra ia berkata: “Rasulullah Saw meletakkan kepalanya di pangkuanku saat aku sedang haid dan ia membaca Al-Qur’an”.

Dengan tetap mendengar Al-Qur’an, hati ini akan selalu terhubung dengan ayat-ayat Allah dan senantiasa mendapat rahmat. Allah Swt berfirman: “Dan apabila dibacakan Al-Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat” (QS. Al-A’raf: 204)

Kedua, Bersedekah

Bersedekah juga menjadi salah satu amalan yang dapat dikerjakan oleh perempuan yang haid. Dari Abdullah bin Umar dari Rasulullah SAW, bahwa beliau bersabda: “Wahai kaum perempuan! Bersedakahlah kamu dan perbanyaklah istighfar. Karena, aku melihat kaum perempuanlah yang paling banyak menjadi penghuni neraka.” (HR Muslim)

Baca Juga  Larangan Islam atas Pemerkosaan dalam Perkawinan

Dari hadis diatas menegaskan perempuan untuk bersedekah sehingga, perempuan yang haid akan tetap mendapatkan keberkahan dan lipatan ganda di bulan yang suci ini. Salah satu cara mengimplimentasikannya yaitu dengan memberi makanan orang yang berpuasa. Hal ini seperti tercantum dalam hadis riwayat Tirmidzi:

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala dari orang yang berpuasa itu sedikit pun.”

Ketiga, Menuntut Ilmu

Menuntut ilmu juga termasuk ibadah yang sangat dianjurkan bagi perempuan yang sedang haid, baik dilakukan secara belajar sendiri dengan membaca buku atau kitab, ataupun melalui  guru. Menuntut ilmu dalam Islam bersifat wajib.

Sebagaimana hadis riwayat Ibnu Majah:

“Dari Abdullah bin Amr, ia menceritakan bahwa suatu hari Rasulullah SAW masuk ke masjid. Di dalam masjid tersebut ada dua kelompok sahabat yang sedang berkumpul. Kelompok pertama sedang membaca al-Qur’an dan berdoa. Sementara kelompok kedua sedang belajar dan mengajar”

Rasulullah Saw pun bersabda “Mereka semua berada dalam kebaikan, yakni mereka yang membaca al-Qur’an dan berdoa kepada Allah, jika Allah berkehendak Dia akan memberi (apa yang mereka minta) dan jika Allah berkehendak Dia akan menahannya dan (kedua) mereka yang belajar dan mengajar. Sesungguhnya aku diutus sebagai seorang guru. Kemudian Rasulullah Saw duduk dan bergabung bersama kelompok yang kedua” (HR Ibnu Majah).

Keempat, Berzikir

Perempuan yang haid tetap diperbolehkan untuk berzikir sehingga akan tetap selalu mengingat Allah SWT. Kebolehan ini berdasarkan hadis Nabi Saw:

“Kami diperintahkan supaya menyuruh keluar para perempuan yang dipingit dalam rumah untuk keluar pada hari raya, bahkan perempuan yang sedang haid. Mereka mengucapkan takbir mengikuti takbirnya kaum laki-laki, dan berdoa mengikuti kaum laki-laki dengan mengharap barakah dan kesucian hari raya tersebut” (HR Bukhari Muslim).

Perempuan yang haid, sebagaimana umat Islam pada umumnya, sangat dianjurkan menfaatkan hari demi hari, detik demi detik, sepanjang bulan suci ini untuk beribadah, termasuk berdzikir.

Baca Juga  Feminisme Pancasila: Menelusuri Kiprah Ibu Sinta Nuriyah (Bag-2)

Sayyidah Aisyah RA pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasul, andaikan aku bertemu Lailatul Qadar, doa apa yang bagus dibaca? Rasul menjawab:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Wahai Tuhan, Engkau Maha Pengampun, Engkau menyukai orang yang minta ampunan. Karenanya ampunilah aku).” (HR Ibnu Majah)

Kelima, Memperbanyak Sholawat

Amalan selanjutnya yang bisa dilakukan perempuan yang haid saat Ramadan adalah memperbanyak sholawat. Allah SWT berfirman dalam surah AL Ahzab ayat 56,

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”

Menurut sebuah riwayat, orang yang banyak sholawat akan mendatangkan syafaat dari Rasulullah SAW. Sebagaimana beliau SAW bersabda,

Artinya: “Orang yang paling berhak mendapatkan syafa’atku di hari kiamat adalah orang yang paling banyak bersholawat kepadaku.” (HR Tirmidzi dan An-Nasa’i)

Keenam, Beramar Ma’ruf nahi Munkar

Amalan lainya ialah, para perempuan yang haid dapat mendorong sesamanya untuk berbuat kebaikan dan menjauhi kemaksiatan. Oleh karena itu, apabila perempuan yang sedang haid membangunkan orang lain untuk sahur dan berpuasa maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang sahur dan berpuasa.

Dan apabila perempuan yang haid membangunkan orang lain untuk melaksanakan salat Subuh, maka dia akan mendapatkan pahala seperti salat Subuh. Begitu pun dengan perempuan  haid yang mendorong orang lain untuk tilawah atau membaca Al-Qur’an, mencari ilmu, silaturahmi, sedakah, dan lain-lain maka dia akan mendapatkan pahala sebagaimana pelaku amal saleh tersebut.