Muawiyah bin Abi Sufyan: Sang Politikus Ulung

Tesis Politik Muawiyah bin Abi Sufyan adalah mu’ākalah hasanah wa musyārakah jamīlah. Sejak saat itu kekuasaan dibagi dua, seorang khalifah tak harus pandai urusan agama, tapi cukup punya kemampuan menejerial mengelola negara. Ulama dan umara pun dipisah keduanya punya kapling masing-masing.

Jadi jangan pandang sebelah mata pada paman (semenda-sepupu?) istri Rasulullah ini—kepadanya Rasulullah saw mendoakan dan Jibril menunjuknya sebagai salah seorang penulis wahyu.

Perang dahsyat sesama iman antara Muawiyah dan Ali bin Abi Thalib berebut khilafah berakhir di meja runding (arbitrase-tahkīm) yang dimenangkan Muawiyah secara kontroversial meski dalam perang fisik head to head Muawiyah kalah. Tapi ini politik dan Muawiyah adalah jagonya.

Peristiwa arbitrase adalah kisah tentang kecerdikan, adu strategi dan diplomasi agar unggul di setiap etape. Unggul dalam jumlah suara saja ternyata tak cukup. Apalagi kalah. Politik butuh banyak support, militansi bahkan sedikit ‘kecurangan’ untuk menjaga keunggulan. Bukankah yang kalah juga curang.

Jadi jangan tanya suka citanya pengikut Muawiyah yang bisa membalik kekalahan menjadi kemenangan pada masa injury time dan jangan ditanya pula kecewa dan frustrasinya pengikut Ali. Padahal kemenangan sudah ditangan, bahkan sayidina Ali pun konon jadi kurban para pengikutnya yang kecewa berat. Efek lazim dari setiap peristiwa politik, yang tak mudah sembuh.

Generik Islam diciptakan berbeda. Ada puluhan mazhab fiqh dan kalam dan ratusan aliran tasawuf dan tarekat dan semuanya tak mungkin bisa disatukan oleh politik.

Kekhawatiran bahwa umat Islam bakal terpecah-pecah sudah dirasakan baginda Nabi saw diujung usia, karenanya beliau bernasihat dan berpesan: aku tinggalkan dua pusaka, yaitu Alquran dan al-Sunnah.

Ironisnya, sebagain besar kita juga bertengkar karena dua pusaka itu—sebab masing-masing telah merasa berpegang dan kembali pada dua pusaka itu. Jadi di mana letak pangkal soalnya.

Dalam sejarahnya, Muawiyah telah berhasil membangun sebuah imperium Islam yang disegani, karena luas wilayah dan banyaknya negeri taklukan. Islam dikenal di belahan bumi Eropa dan Parsi.

Muawiyah juga sukses menyatukan puluhan manhaj dan aliran Islam dalam satu kesatuan politik—ini bagian terpentingnya, sebab ia juga tak segan memberangus kekuatan politik para ahlu bait pengikut Ali dan membatasi ruang geraknya agar tak banyak bertingkah. Sesuatu yang secara teologis patut disesali tapi dibenarkan secara politik.

Baru nyadar bahwa berebut kekuasaan dan intrik berpolitik itu tak cocok buat Abu Dzar al-Ghifari ra sahabat nabi saw yang dikenal berhati lemah atau Abu Musa Al Asy’ari ra seorang wara’ lagi zuhud,

Apalagi saya atau siapapun orang-orang yang tak cukup lapang ketika tiba-tiba mas Sandy menjadi timsesnya menantu Pak Jokowi di Kota Medan atau pak Busyra Muqaddas yang dikenal konsisten di jalan pemberantasan korupsi menjadi pengacara keluarga cendana Bambang Trihadmodjo. Bukan kita yang menimang, tapi politik akan menemukan pilihan rasionalnya sendiri tanpa persetujuan kita sekalipun.

Editor: MZ

0

Aktivis Persyarikatan Muhammadiyah di Ranting Gunungsari Kota Batu dan Ustaz di Komunitas Padang Makhsyar yang Tinggal di Batu, Malang.

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.