Membayangkan Ulang Agama sebagai Realitas Yang Melampaui Kemanusiaan

Membayangkan Ulang Agama sebagai Realitas Yang Melampaui Kemanusiaan

Mari kita bayangkan bagaimana jadinya jika planet kita ini, Bumi, tanpa makhluk yang bernama manusia. Kira-kira bagaimana jadinya?

Barangkali gunung akan bernapas lebih lega, sungai mengalir ke laut dengan jernih, bintang gemintang menghiasi dan menerangi langit malam hari dengan jelas, dan hutan dengan biodiversitasnya akan bertahan ribuan tahun lagi. Dengan kata lain, Bumi secara keseluruhan terus hidup secara menakjubkan.

Lalu, tanpa manusia, masih akan adakah apa yang kita sebut “agama”? Pertanyaan ini tentunya trdengar ganjil karena kita telah terbiasa mencandrakan agama sebagai sesuatu yang pada dasarnya bersifat manusiawi.

Agama disebut-sebut sebagai penata keyakinan, ritual, etika, dan komunitas manusia. Bahkan definisi akademik sering kali memerikan agama sebagai sistem budaya yang diciptakan manusia untuk menjelaskan eksistensi atau menjalin hubungan dengan hal yang sakral.

Namun, mungkin anggapan ini patut diinvestigasi lebih jauh dan lebih tegas. Apakah memang agama—sebagaimana lazimnya kita pahami—merupakan konsep yang antroposentris?

Antroposentrisme, dalam hal ini, lebih dari sekadar keyakinan bahwa manusia itu sentral. Antroposentrisme merupakan disposisi menafsirkan realitas semata-mata dari sudut pandang manusia.

Pandangan tersebut tentu saja mengasumsikan bahwa makna bermula dari manusia dan kemudian memancar keluar menuju segala sesuatu yang lain. Dengan kata lain, alam menjadi panggung tempat sejarah manusia berlangsung, sehingga hewan menjadi pemeran pendukung, dan ciptaan lainnya ada terutama dalam kaitannya dengan manusia belaka.

Diskusi modern mengenai agama sering kali mewarisi perspektif ini tanpa disadari. Ketika para ahli mendefinisikan agama melalui keyakinan, simbol, mitos, atau institusi, mereka biasanya sedang menggambarkan aktivitas manusia.

Agama menjadi sesuatu yang tampaknya dimiliki manusia belaka. Ia dipelajari sebagai produk budaya, fenomena psikologis, atau institusi sosial. Baik saat mendekati agama melalui teologi maupun studi akademis tentang agama, manusia kerap tetap menjadi pusat perhatian yang tak dipertanyakan lagi.

Al-Qur’an sebetulnya menawarkan visi yang sangat berbeda. Berulang kali, Al-Qur’an menggambarkan alam semesta yang tenggelam dalam ibadah jauh sebelum manusia mulai merenunginya.

Burung-burung bertasbih memuji Tuhan dengan cara yang tak sepenuhnya dapat dipahami manusia. Gunung dan pepohonan tunduk kepada Sang Pencipta. Langit dan bumi mematuhi perintah ilahi. Bahkan guntur, angin, dan benda-benda langit turut serta dalam tatanan zikir yang melampaui kesadaran manusia.

Implikasinya sungguh mencengangkan. Agama—jika dipahami sebagai pengabdian, ketundukan, dan partisipasi dalam tatanan ilahi—mungkin sama sekali bukan milik eksklusif manusia. Alih-alih bertanya bagaimana manusia menciptakan agama, kita justru menggeser pertanyaan menjadi bagaimana manusia berpartisipasi dengan dan di dalam alam dengan segenap isinya yang memang sudah bersifat religius.

Kemungkinan ini mengubah arah pembicaraan secara mendasar. Mungkin yang membedakan manusia bukanlah realitas bahwa hanya manusialah yang beribadah, melainkan fakta bahwa manusia memiliki kebebasan untuk melupakan bahwa dirinya adalah bagian dari ibadah seluruh ciptaan.

Sebab, seekor burung tidak memilih apakah ia akan mengikuti kodratnya. Sungai tidak memutuskan apakah ia akan mengalir sesuai tatanan yang telah ditetapkan baginya atau tidak. Hanya manusialah yang tampaknya mampu menolak harmoni yang diikuti oleh segala sesuatu yang lain.

Dalam pengertian ini, sikap tidak beragama merupakan kemungkinan yang khas bagi manusia. Ironisnya, banyak teori modern menggambarkan agama sebagai sesuatu yang diciptakan manusia untuk mengatasi rasa takut, ketidakpastian, atau kematian.

Penjelasan semacam itu hanyalah menyoroti aspek-aspek tertentu dari perilaku keagamaan, tetapi juga memperlihatkan bias antroposentris. Teori-teori tersebut berasumsi bahwa agama bermula dari kebutuhan manusia, bukan dari hakikat realitas itu sendiri.

Kosmologi Islam menyarankan pembalikan arah pandang ini. Agama tidak bermula dari manusia. Manusia terbangun di tengah alam semesta yang sejak awal telah berorientasi kepada Tuhan.

Pergeseran ini memiliki resonansi yang tak terduga dengan pemikiran pascahumanis kontemporer. Para filsuf pascahumanis menantang anggapan bahwa manusia menempati pusat eksistensi. Mereka berpendapat bahwa agensi, makna, dan relasionalitas melampaui dunia manusia hingga mencakup hewan, ekosistem, teknologi, dan proses-proses material lainnya.

Namun begitu, pemikiran Islam menawarkan pergeseran pusat yang jauh lebih radikal. Pusatnya bukanlah manusia ataupun alam, melainkan pusatnya adalah Tuhan.

Segala sesuatu yang lain—termasuk manusia—ada karena bergantung pada Tuhan. Oleh sebab itu, manusia tidak menempati posisi tertinggi ataupun terpenting dalam eksistensi. Sebaliknya, manusia hanyalah salah satu partisipan dalam komunitas ciptaan yang luas di mana posisinya berbeda bukan lantaran keunggulan mutlak, melainkan pada tanggung jawab moral.

Pandangan ini juga mengubah etika lingkungan. Jika agama hanya milik manusia, maka kepedulian terhadap alam menjadi kewajiban moral yang dibebankan oleh ajaran agama. Namun, jika ciptaan itu sendiri turut beribadah, maka kerusakan ekologis menjadi lebih dari sekadar kerusakan lingkungan. Hal itu bisa dibaca sebagai gangguan terhadap tatanan ilahi yang sejak awal tidak diciptakan oleh manusia.

Lebih lanjut, hutan tidaklah bernilai semata-mata karena bermanfaat bagi manusia. Hutan memiliki makna karena ia merupakan bagian dari dunia yang senantiasa mengingat Tuhan.

Kalau begitu, pertanyaan yang paling mendasar bukanlah apakah agama itu bersifat antroposentris, sebab sebetulnya permasalahannya ada pada pemahaman kita tentang agama yang telah menjadi antroposentris.

Memandang agama semata-mata sebagai institusi manusia berarti membayangkan umat manusia berada di poros hal yang sakral, sementara memandang agama sebagai partisipasi dalam tatanan kosmis berarti menemukan kembali kerendahan hati. Kita tidak lagi menjadi pencipta makna, melainkan menjadi sesama partisipan dalam semesta yang telah hidup dengan ketaatan mutlak.

Maka dari itu, bisa dikatakan bahwa agama bukanlah penemuan umat manusia. Justru agama, dalam konteks diskusi kita ini, merupakan undangan bagi umat manusia untuk mengingat bahwa mereka bukanlah satu-satunya makhluk yang beribadah.

0

Alumnus Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS), Universitas Gadjah Mada—tinggal di anggaarifka.blogspot.com

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.