Angga Arifka Alumnus Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya, tinggal di anggaarifka.com

Pengalaman dan Cinta Para Sufi yang Begitu Puitis

2 min read

Foto: https://middle-east-online.com
Foto: https://middle-east-online.com

Para sarjana berpandangan bahwa sastra spiritual telah diwakili oleh disiplin tasawuf sebagai jantung dari Islam. Tasawuf memang memenangkan yang spiritual dan menspiritualkan yang profan, menekankan yang esoteris (batin) dan mengesoteriskan yang eksoteris (lahir). Dalam hal tersebut, ada satu ciri khas yang patut dicatat bahwa universalitas keindahan dalam estetisa sastra adalah merefleksikan yang sakral (al-Quddūs).

Tasawuf sebagai dimensi esoteris Islam mewadahi penghayatan batin seseorang terhadap realitas. Mulanya, disiplin tasawuf menjadi seremoni dan ekspresi dari perjalanan tangga rohani menuju Tuhan. Namun, pada muaranya, tasawuf juga menjadi rahim yang melahirkan banyak para penyair atau pujangga yang dapat menggubah karya sastra memesona. Sebut saja beberapa di antaranya, seperti al-Hallāj (w. 922 M), ‘Umar al-Khayyām (w. 1132 M), Hakīm Sana’i (w. 1141 M), Farīd al-Dīn ‘Attār (w. 1220 M), Ibn ‘Arabī (w. 1240 M), dan Jalāl al-Dīn al-Rūmī (w. 1273 M).

Memang kebanyakan dari para sufi memiliki karya sastra, seperti puisi, misalnya, dan juga di antaranya ada yang menulis prosa alegoris yang mengemas hikmah sufistik. Sehingga, para sufi kerap identik sebagai penyair rohani. Begitu pula halnya seorang penyair, yang acap menjalani kehidupan dengan laku nyastra dan laku nyufi untuk dapat menangkap makna terdalam dari segala kejadian dan kemudian mengekspresikannya melalui sebuah karya. Kait-kelindan antara tasawuf dengan sastra cukup mencolok bagi pejalan rohani di liuk-lekuk kehidupan.

Dalam berjalan atau melakoni liuk-lekuk hidup, kehidupan dipandang sebagai maha karya sastra yang nirtara. Bagi para sufi, kehidupan adalah manifestasi dari kecintaan-Nya untuk dikenal, sehingga pilar dari panggung kehidupan hanyalah cinta. Makanya, Rūmī berseru, “Tanpa cinta, dunia akan membeku.” Oleh karena itu, mereka dalam menerjemahkan kehidupan, sepahit apa pun, dihayati sebagai bait-bait yang penuh rima dan berirama. Sebab, menurut para sufi, kehidupan dengan segenap gemebyarnya hanyalah pantulan (tajallī) dari keindahan wajah-Nya, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Cinta.

Baca Juga  Mengeksplorasi Imajinasi Anak: Obrolan Jelang Tidur

Kehidupan digulati sebagai misteri yang memuat tremendum et fascinant. Kegentaran dan ketakjuban merupakan dua efek dari tajallī jalaliah dan jamaliah Tuhan. Penghayatan dan penyaksian (mushāhadah) para sufi terhadap tajallī-Nya merupakan hasil dari mujāhadah dan murāqabah—hal ihwal yang harus dihayati terus-menerus baik secara lahiriah maupun batiniah. Awas atas kehadiran-Nya yang maha meliputi (al-muhīt) itulah yang mengantarkan mereka pada pengalaman mistik (mystical experience).

Pada kenyataannya, pengalaman mistik atau sufistik, bukan hanya dapat menggembleng untuk melek moral atau etik, melainkan juga bermuatan estetis. Selama ini kita hanya lazim memaklumi bahwa pengalaman mistik mengandung aspek kognitif-intuitif (ma‘rifah) semata, padahal sebenarnya pengalaman tersebut juga menampung unsur estetis-kreatif. Sebab, pengalaman mistik menyingkapkan selubung realitas-baru yang tidak dapat ditimba dari fenomena kasatmata.

Para sufi memang kerap menyandarkan pengalaman mistik dengan Tuhan sebagai relasi cinta. Oleh karena relasi cinta, bahasa sastra sebagai medium pengungkapan menemukan  jalurnya, karena bahasa sastra yang puitis selain dapat melakukan simbolisasi terhadap Tuhan (Yang Maha Tak Terjemahkan), juga dapat merepresentasikan letupan gradasi keintiman. Hal itulah yang mendorong para sufi untuk merekonstruksi pengalamannya dengan cara memverbalisasikannya melalui bahasa sastra yang puitis. Oleh karenanya, terdapat kaitan erat antara aspek kreatif dari pengalaman mistik dan aspek mistikal dari bahasa puitis. Coba simak satu contoh petikan rubai Rūmī ini:

Tanganku biasanya memegang al-Qur’ān

Tapi sekarang menggenggam cangkir cinta

Mulutku biasanya penuh wirid keagungan

Tapi sekarang hanya menguntai puisi dan nyanyian

(J.T.P. de Brujn: 2003)

Tentu saja dalam bait tersebut, Rūmī memainkan imaji puitis yang amat sufistik. Malangnya, kalau bait tersebut dibaca secara mentah dan harfiah, akan menimbulkan kontroversi atas kesufian dan kesan heretik atas religiositas Rūmī. Makanya perlu penakwilan sufistik terhadapnya. Menurut saya, Rūmī sedang melukiskan pengalaman mistikalnya dengan Allah bukan lagi pada maqam relasi mukalafnya sebagai hamba yang harus menyembah Tuhan, melainkan relasi keintimannya antara pencinta yang sedang mabuk asmara kepada Kekasihnya, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Allah.

Baca Juga  Manusia, Tangan Tuhan dan Kebebasan Diri: Kreativitas, Ilmu, dan Iman [3]

Hemat saya, tamsil “cangkir cinta” tersebut tidak berarti ia menegasikan rutinitasnya membaca al-Qur’ān, justru itu upaya metaforis bahwa al-Qur’ān tidak lagi ia pahami sebagai kitab suci yang hanya menuntun keberislamannya, melainkan ketika dibaca ia jadikan sebagai perjamuan asmara antara ia dengan Allah. Begitu pula dengan “menguntai puisi dan nyanyian”. Dalam tamsil itu, alih-alih meninggalkan wiridnya, Rumi malah bermaksud menyublimasi pendawaman wiridnya sebagai satu bentuk deklamasi puisi dan nyanyian untuk Kekasih.

Sampai sini, amat jelas bahwa pengalaman mistik para sufi memuat unsur estetis dan kreatif. Ringkasnya, terdapat kait-kelindan antara pengalaman para sufi terhadap Yang Maha Indah (al-Jamāl) dengan bahasa sastra yang indah dalam kepentingannya untuk memverbalisasikan pengalaman. Memang, antara tasawuf dan sastra sama-sama digali dari intuisi rohani yang terwadahi dalam dunia estetis manusia.

Oleh karenanya, patut dicatat bahwa tasawuf tidak hanya kanon etika dan ritualisme semata, melainkan juga mencakup laku estetis dan gejolak sastrawi, seperti halnya cinta (mahabbah), rindu (‘ishq), memandang (mushāhadah), dan keintiman (uns). Hal ihwal itu merupakan satu paket dari konsekuensi pengenalan terhadap Tuhan (ma‘rifah). Menurut saya, tasawuf menunjukkan bahwa umat manusia selalu niscaya sedang melakukan perjalanan menuju Tuhan. Meminjam ungkapan Emha Ainun Nadjib, “Kita sedang melakukan perjalanan, dan sastra itulah getarannya. [MZ]

Angga Arifka Alumnus Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya, tinggal di anggaarifka.com

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *