Muhammad Abid Dharmawan Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya

Mbah Joyo Dirono: Tokoh Penyebar Agama Islam di Driyorejo, Gresik

2 min read

Desa Driyorejo yang terletak di kota Gresik, menyimpan sejarah yang unik. Hal ini melatarbelakangi keberadaannya, yang dulunya bernama Kouman kini berubah menjadi Driyorejo, Kata “Driyorejo” sendiri memiliki asal usul dan arti yang mendalam. Pendirian sebuah desa tidaklah sembarangan, dan hal ini berlaku pula bagi Desa Driyorejo,

Desa Driyorejo didirikan oleh tokoh yang bernama Joyo Dirono. Dalam sejarahnya, Joyo Dirono mendatangi daerah Kouman untuk menyebarkan ajaran agama Islam. Beliau diutus oleh Raja Mataram untuk menyebarkan syariat Islam disana. Selain Joyo Dirono, Kerajaan Mataram juga mengutus tokoh yang bernama Joyo Ulomo. Joyo Ulomo merupakan saudara dari Joyo Dirono. Mereka adalah kakak beradik yang diutus oleh kerajaan Mataram ke desa Driyorejo untuk menyebarkan agama Islam disana.

Sebelum diutus ke desa Driyorejo, Joyo Dirono dan Joyo Ulomo bertempat tinggal di Ampel, termasuk Ampel Surabaya dan Boto putih Surabaya. Nama “Joyo Dirono” merupakan panggilan kehormatan bagi kepala dusun di daerah Driyorejo. Sementara Joyo Ulomo adalah seorang ulama yang disegani dan turut menyertai Joyo Dirono. Warga setempat mempercayai bahwa Joyo Dirono dan Joyo Ulomo bukan orang sembarangan. Kedua tokoh ini dikenal sebagai dua ulama sakti yang dihormati oleh masyarakat setempat.

Di masa itu, Indonesia tengah dijajah oleh Kolonial Belanda. Desa Driyorejo pun termasuk kawasan penjajahan Belanda. Sebutan “Driyorejo” ini berasal dari perkataan Joyo Dirono bahwa daerah ini akan menemukan “Rejo” atau damainya zaman. Nama tersebut menggambarkan suasana damai yang diharapkan di desa tersebut. Masyarakat disana pasti sedang tidak baik-baik saja ketika masih berada di atas pemerintahan Kolonial Belanda.

Masalah mulai mengintai desa tersebut semenjak Belanda mengetahui di Desa Driyorejo terdapat dua tokoh agung yang merupakan utusan dari Kerajaan Mataram. Oleh karena itu, desa ini menjadi target serangan pasukan Belanda yang dimulai dari Tanjung Perak Surabaya hingga Desa Driyorejo. Terdapat hal yang diluar nalar manusia saat Kolonial Belanda menyerang desa Driyorejo. Bom-bom yang diletakkan oleh pasukan Belanda ternyata tidak bisa meledak, bahkan hingga saat ini masih ada warga yang menemukan granat-granat yang masih aktif akibat serangan tersebut.

Baca Juga  Jalan Pemikiran Muhyiddin Ibnu Arabi (1)

Kejadian ini dianggap sebagai karomah dari Allah SWT, di mana Joyo Dirono diyakini memiliki pengaruh gaib yang melindungi desa dari bahaya tersebut. Dari kejadian ini pula, untuk menghindari serangan lagi dari Belanda, Joyo Dirono memutuskan untuk menyebarkan ajaran agama Islam secara sembunyi-sembunyi. Karena terdapat mata-mata yang mengawasi pergerakan dua tokoh ulama tersebut.

Pasukan Belanda berusaha mencegah penyebaran ajaran Islam yang dibawa oleh Joyo Dirono dan Joyo Ulomo. Belanda takut jika ajaran tersebut mempengaruhi masyarakat sekitar dan melawan balik pasukan Belanda. Anehnya, kedatangan Joyo Dirono dan Joyo Ulomo justru menarik banyak murid dari berbagai daerah. Mereka datang untuk mencari strategi dan menimba ilmu dari kedua tokoh sakti tersebut. Tidak heran jika di Desa Driyorejo terdapat makam-makam tokoh yang berasal dari berbagai Kerajaan.

Desa Driyorejo menjadi pusat kegiatan keagamaan dan spiritual yang dipengaruhi oleh ajaran-ajaran yang dibawa oleh Joyo Dirono dan Joyo Ulomo. Meskipun dalam keadaan sulit dan terjajah, masyarakat setempat tetap mempertahankan identitas dan kearifan lokal mereka. Desa ini menjadi simbol perlawanan terhadap penindasan dan penjajahan, di mana masyarakatnya menggabungkan kekuatan spiritual dan kebijaksanaan dalam menghadapi tantangan zaman

Hingga saat ini, Desa Driyorejo tetap mempertahankan sejarah dan tradisinya. Setiap tahun, masyarakat Desa Driyorejo mengadakan berbagai upacara adat dan kegiatan keagamaan sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur dan tokoh-tokoh yang berjasa dalam pendirian desa ini. Mereka membangun kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai kearifan lokal, solidaritas, dan ketahanan komunitas.

Hal yang hingga saat ini masih dilestarikan adalah masyarakat setempat selalu mengadakan kegiatan Qolli setiap satu tahun sekali. Qolli sendiri adalah perayaan akhir tahun Masjid yang telah dibangun oleh Joyo Dirono. Tak hanya itu, tanah milik ahli waris Joyo Dirono diwakafkan untuk membangun sekolahan. Setiap tahun juga diadakan akhirussana” sekolah yang menjadi wakafan tanah ahli waris dari Joyo Dirono. Kegiatan Qol tersebut diambil dari renovasi masjid pertama yang dilakukan oleh Joyo Dirono. Perihal wafatnya, tidak ada satupun yang tau mengenai hal itu.

Baca Juga  KH. Djamaluddin Achmad, Tarekat Syadziliyah dan Ngaji Hikam

Desa Driyorejo, melalui sejarahnya, membuktikan bahwa sebuah desa bukan hanya merupakan catatan masa lalu, tetapi juga menjadi pijakan identitas dan kebanggaan bagi penduduknya. Desa ini memberikan pengajaran tentang pentingnya melestarikan dan menghormati warisan nenek moyang serta menggali kearifan lokal dalam menghadapi perubahan zaman. Desa Driyorejo merupakan contoh nyata bagaimana sejarah dapat menjadi sumber inspirasi dalam kehidupan masa kini dan masa depan.

Muhammad Abid Dharmawan Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya