Aji Damanuri Dosen IAIN Ponorogo; Sekretaris Majlis Tarjih dan Tajdid PDM Tulungagung

Lebih Takut pada Menyan daripada Tuhan

2 min read

Foto: www.doripos.com
Foto: www.doripos.com

Selalu ada cerita berhikmah di balik silaturahim bagi yang mau menghayatinya. Cerita ini diceritakan oleh KH, Abdul Mun’im, M.Ag, profesor bidang Ushul Fiqh IAIN Ponorogo, yang baru dikukuhkan awal tahun 2020. Beliau adalah kiai yang sangat humoris, selalu ada canda saat berinteraksi di dekatnya. Sehabis perjalanan jauh biasanya selalu saja ada cerita yang disampaikan yang membuat kita tertawa karena penyampaiannya yang kocak.

Suatu ketika karena keperluan tertentu, Kiai Mun’im (atau lebih sering dipanggil Mbah Mun’im) salat di masjid Pasar Rebo Jakarta. Maklum sebelum menjadi dosen di IAIN Ponorogo beliau sempat nyantri kepada Gus Dur sebagai abdi Lakpesdam. Jadi kehidupan mudanya banyak dihabiskan di Jakarta, bertarung dengan kerasnya ibu kota.

Selesai salat, beliau istirahat sejenak melepas lelah dengan duduk di teras masjid. Kebetulan ada marbot masjid yang juga sedang rebahan di dekat pak kiai, dan akhirnya terjadilah obrolan ringan antar mereka. Hobi Mbah Mun’im dari muda sampai sudah profesor memang menghabiskan waktu di masjid, baik untuk salat berjemaah maupun ngaji kitab.

Setelah berbasa-basi beberapa saat dan keakraban mulai terbangun, sang marbot bercerita bahwa dulu kiai masjid Pasar Rebo sempat pusing memikirkan kelakuan para pengunjung pasar dan beberapa warga sekitar. Mereka biasanya kencing di tembok luar imaman masjid. Karena ada jendela di samping kanan kiri imaman, maka bau kencing masuk ke ruang depan masjid dan mengganggu imam dan jemaah. Sehingga merasa pusing dan mengurangi kekusyukan salat berjemaah. Kejadian itu sudah berlangsung lama dan dikeluhkan oleh para jemaah, terutama imam salat yang paling dekat dengan sumber bau.

Berbagai macam cara sudah dilakukan supaya warga sekitar atau pengunjung pasar tidak kencing di pojok tembok luar imaman masjid tersebut. Mulai dari pengumuman menjelang khotbah Jumat, penempelan tulisan agar tidak kencing di tempat tersebut, dan pemasangan lampu agar malu karena biasanya memang kencingnya di waktu malam. Bahkan beberapa ustaz yang mengisi pengajian dititipi untuk menyampaikan pembahasan tentang taharah dan rasa malu. Maksudnya untuk menyindir secara halus dengan bahasa dai yang kocak supaya pelakunya merasa sungkan dan malu. Namun semua usaha tersebut sia-sia, mungkin sudah menjadi kebiasaan, dan karena fasilitas toilet yang kurang mencukupi.

Baca Juga  Ahli Ilmu Versus Ahli Ibadah tapi Bodoh

Sampai suatu ketika ada jemaah yang mengajukan ide aneh, yaitu memasang dupa kemenyan lengkap dengan bunga setaman. Pemikiran ini lahir karena pengusul melihat para pelaku ini memang tidak begitu mengenal agama dengan baik, jadi mengkampanyekan konsep-konsep agama tidak akan masuk, orang kelaparan kok diberi dalil. Kesibukan dan himpitan hidup menyebabkan mereka tidak ada waktu untuk belajar dan mengerti ajaran-ajaran agama khususnya tentang taharah. Sebenarnya mereka adalah orang yang baik, tetapi karena situasi dan kondisi membuat mereka agak abai dengan etika. Kebanyakan yang kencing di situ bukan sengaja menghina masjid, karena kebelet saja (terasa pipis yang tidak tertahan).

Awalnya ide tersebut tidak disepakati karena akan menimbulkan kemusyrikan dan lain-lain, namun karena kejadian tersebut terus berlangsung dan tidak ada ide lain, akhirnya jemaah menyepakati dan mau mencoba ide konyol tersebut. Mereka memang ingin menyelesaikan masalah di masjid tersebut tanpa menimbulkan masalah baru. Kiai kemudian meminta salah satu jemaah untuk membeli peralatan yang dibutuhkan. Setelah ubo rampe (peralatan sesaji) siap, malam hari setelah isya mereka memasang dupa kemenyan dan menaburi sekitarnya dengan bunga setaman.

Orang-orang yang biasanya kencing di situ merasa ciut nyalinya. Mereka takut kualat dan khawatir sesuatu yang buruk menimpa mereka. Ternyata cara ini cukup efektif. Sejak pemasangan itu tidak ada satu pun pengunjung pasar atau warga yang kencing dibelakang imanan. Selesai salat magrib pak kiai masjid berseloroh, “Wah, orang-orang itu ternyata lebih takut menyan dari pada Tuhan”, disambut ketawa para jemaah. “Iya pak kiai, takut digigit penunggunya”, jemaah tambah terpingkal. “Waduh, kan penunggunya kita, para jemaah,” jawab pak kiai yang membuat jemaah semakin terpingkal-pingkal atas fenomena tersebut.

Baca Juga  Antropologi Doa dan Psikologi Harapan

Sejak saat itu masjid menjadi wangi dan jemaah lebih khusyuk beribadah. Tidak ada bau kencing lagi. Yang ada bau semerbak wangi kemenyan yang menyebarkan aura magis bagi yang percaya hantu. Namun bagi jemaah masjid mereka membayangkan hantunya adalah orang-orang yang suka kencing dibelakang imaman yang kabur mencium bau menyan. Kalau biasanya Kemenyan untuk mendatangkan hantu, ini malah mengusir hantu.

Begitulah, kadang butuh kreativitas dalam menyelesaikan masalah tanpa masalah. Dengan sikap yang lemah lembut tanpa kekerasan, baik ucapan maupun tindakan, tapi masalah selesai dengan aman. Tentu pendekatan persuasif terus dilakukan, namun menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah baru adalah kreativitas yang tinggi. Coba bayangkan kalau jemaah masjid tadi bersikap represif dengan mengusir mereka secara paksa, melakukan tindakan represif, maka yang muncul pasti perlawanan, bahkan mungkin para preman akan berpihak pada mereka.

Dakwah memang butuh proses yang panjang. Pendidikan dan perkembangan zaman akan mengubah perilaku masyarakat. Ibarat orang sakit, maka yang diobati adalah sumber penyakitnya, bukan gejalanya, karena gejala hanya alat deteksi awal. Sekarang ini tidak banyak kiai yang memiliki kearifan lokal untuk menyelesaikan problem-problem keumatan. Justifikasi, ancaman, dan tindakan represif terhadap orang awam yang seharusnya dibimbing dan diarahkan sering terjadi. Banyak para dai yang mestinya membimbing umat malah menjadi musuh jemaahnya. Kiai dolan pulang membawa kebijaksanaan, maka bergaullah dengan kiai supaya ketularan bijaksana. [MZ]

Aji Damanuri Dosen IAIN Ponorogo; Sekretaris Majlis Tarjih dan Tajdid PDM Tulungagung

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *