Ahmad Inung Budayawan yang Tinggal di Sidoarjo

SURAT UNTUK IBU

1 min read

Sumber: Tirto.id

Ibuku tersayang,
Hari ini mereka bicara tentang gerakan perempuan. Biarlah! Aku tak memiliki bayangan perempuan tak bersosok. Perempuan yang ada di benakku adalah engkau, Ibu. Tak perlu berteriak agar tercatat dalam sejarah. Tak perlu mengepalkan tangan karena engkaulah sang Gerakan.

Ibu tersayang,
Aku punya bayangan kecantikan, dan maaf, sejujurnya engkau tak masuk dalam kriteriaku. Apalagi kini engkau telah renta. Gigimu yang tinggal satu dua membuat wajahmu tidak lagi layak untuk dipuja seorang pria. Dua kali stroke membuat jalanmu tak seanggun para jelita. Dari mana aku bisa berdendang tentang kecantikan perempuan jika sejak dulu tak pernah kuingat engkau berdandan walau sekedar mengoles bedak tipis di muka. Tapi sungguh ibu, engkau tak perlu semua itu untuk membutku selalu memujamu. Membayangkan wajahmu yang keriput itu membuat rinduku selalu tak tertahankan. Seperti perjaka yang tengah jatuh cinta, aku membayangkanmu setiap malam. Mengirimu doa-doa bukan karena aku meragukan engkau disayang Tuhan, tapi lebih karena kecemburuanku jika ada detik di mana hatimu tidak mencintaiku.

Ibuku tersayang
Aku ingat ketika kenakalan-kenakalanku membuatmu marah. Saat engkau mengajariku mengaji dan mengeja, karena kebodohanku terkadang membuatmu kecewa. Aku sungguh ketakutan di depanmu, Ibu. Tapi seberapa lama aku sanggup menjauh darimu? Kepada siapa aku harus berlindung dari kemarahanmu? Aku tidak memiliki langit selain engkau, Ibu. Aku hanya terpaku di depanmu sekeras apapun aku menangis, karena kutahu, sedetik kemudian engkau akan memelukku. Suaramu melembut sambil mengusap-usap kepalaku dengan kasih seorang bidadari.

Ibuku tersayang,
Jika bukan engkau, aku tak akan mengerti makna cinta. Jika bukan engkau, aku tak akan mengerti rasa hormat terhadap perempuan. Jika bukan engkau, aku tak akan mengerti bahwa dunia ini harus kita hias dengan kasih sayang. Jika buka engkau, Ibu, aku hanyalah remah-remah di antar kotoran jalanan. Ibu, aku tak pernah risau dengan makian jika cintamu kepadaku tak pernah henti engkau curahkan.[]

Baca Juga  Jebakan Patriarki di Balik Kontestasi antara Pro-Khadijah atau Pro-Aisyah
Ahmad Inung Budayawan yang Tinggal di Sidoarjo