Arivaie Rahman Pegiat Tafsir dan Khazanah Nusantara; Alumnus Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

KH. Abdul Hamid Sulaiman (1917-1998): Ulama Reformis dari Tembilahan Riau

2 min read

Abdul Hamid Sulaiman adalah seorang ulama reformis yang berasal dari Tembilahan, Indragiri Hilir, Riau. Ia lahir pada 17 Agustus 1917 M atau bersamaan dengan 29 Syawal 1335 H. Sejak kecil beliau mendapat pendidikan dari orangtuanya, hingga akhirnya ia melanjutkan pendidikannya di Mekah pada tahun 1928.

Setelah 6 tahun di Mekah, tepatnya pada tahun 1934, KH. Abdul Hamid Sulaiman kembali ke tanah kelahirannya. Pada awalnya ia mengajar pada sebuah institusi pendidikan yang didirikan oleh H. Husin Abdul Jalil, seorang keturunan Banjar Amuntai dan alumni pendidikan di Mekah. Institusi yang didirikan pada tahun 1933 ini bertempat di surau al-Hidayah, Parit 13 Tembilahan. Pada tahun 1937 institusi ini pindah ke gedung Musyawaratutthalibin, sehingga namanya juga ikut berubah menjadi Sekolah Musyawaratutthalibin, lalu berganti menjadi Islamic School pada tahun 1943. Terakhir, pada tahun 1949 sekolah ini berubah lagi menjadi Sa’adah el-Islamiyah.

Kehadiran KH. Abdul Hamid Sulaiman di institusi ini memberikan perubahan besar, terutama soal kurikulum dan mata pelajaran yang diajarkan. Kurikulum yang pada mulanya mengikuti kurikulum Islam tradisional, seperti pelajaran nahwu-sharaf, akidah, fiqh, dan akhlak, setelah menjadi pimpinan institusi KH. Abdul Hamid Sulaiman mulai memasukkan mata pelajaran umum. Begitu pula dengan tingkat pendidikan, yang mulanya hanya tingkat Ibtidaiyah (Sekolah Dasar), ditambah dengan tingkat Tsanawiyah (Sekolah Menengah Pertama). Reformasi pendidikan di institusi ini terus bertahan hingga hari ini.

Abdul Hamid Sulaiman terkenal sebagai ulama yang berpandangan modern atau pembaharu. Dalam sumber lisan yang berkembang di masyarakat, diceritakan bahwa pernah terjadi konflik internal Islam di Tembilahan soal bacaan nida’Maasyiral Muslimin”. Bagi kalangan tradisionalis Ma’asyiral Muslimin menjadi tradisi yang dikumandangkan oleh bilal sebelum khatib naik mimbar pada khutbah Jum’at dan khutbah Hari Raya. Tetapi menurut pandangan KH. Abdul Hamid Sulaiman, bilal tidak perlu mengumandangkan “Ma’asyiral Muslimin”. Maka terjadilah perselisihan yang berbuntut panjang setiap kali pelaksanaan salat Jum’at di Masjid Agung Al-Huda Tembilahan. Hingga sekarang, di masjid ini tidak lagi berkumandang “Ma’asyiral Muslimin” sebelum khutbah.

Baca Juga  Gus Awis: Mutiara Terpendam dan Teladan Generasi NU Milenial

Menurut sumber lain, pernah juga terjadi ikhtilaf (perselisihan paham) tentang hukum memakan Kepiting Bakau yang bercangkang hijau dan bercapit besar, hewan yang banyak diburu nelayan dan dikonsumsi masyarakat di Indragiri Hilir. Menurut pandangan ulama tradisional, hukumnya haram, sebab hidup di dua alam: air dan daratan. Pandangan ini disangkal oleh KH. Abdul Hamid Sulaiman melalui tindakannya membeli kepiting bakau dari para penjual kepiting di Tembilahan untuk ia konsumsi. Tentu saja tindakan ini menjadi polemik dan seakan memicu timbulnya kelompok yang menghalalkan.

Meski banyak berpolemik, KH. Abdul Hamid Sulaiman sangat terkenal dari sudut bidang keilmuan, kegigihan, dan kekonsistenanya. KH. Abdul Hamid Sulaiman pernah dipercaya menjadi Dekan Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Riau (UIR) di Bangkinang Kampar tahun 1958. Ia pernah pula menjabat sebagai Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Sultan Syarif Kasim Riau Pekanbaru pada tahun 1964 dan Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN cabang Tembilahan tahun 1972.

Abdul Hamid Sulaiman juga termasuk salah seorang yang pernah menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Riau. Pada bidang pemerintahan, KH. Abdul Hamid Sulaiman pernah menjabat sebagai Anggota DPRD Daerah Tinggat II Indragiri di Rengat. Kiprahnya ini menunjukkan bahwa KH. Abdul Hamid Sulaiman bukan hanya sebagai seorang ulama, tetapi juga akademisi pendidikan dan politikus.

Selain itu, karena berasal dari suku Banjar, KH. Abdul Hamid Sulaiman dianggap sebagai penerus perjuangan Tuan Guru Sapat Syekh Abdurrahman Siddiq al-Banjari (1967-1939). Pernyataan ini cukup beralasan, sebab KH. Abdul Hamid Sulaiman memang pernah belajar dan menjadi murid Tuan Guru Sapat. Paling tidak ketika ia kembali dari tanah suci Mekah tahun 1934 ketika itu usianya telah berusia 17 tahun, dan masih memungkinkan bertemu dengan Tuan Guru Sapat sekitar 5 tahun.

Baca Juga  KH. Muhammad Tidjani Djauhari: Ulama “Langit” yang “Membumi”

Abdul Hamid Sulaiman menghembuskan nafas terakhir di rumah kediamannya Jl. H. Said Tembilahan, berdekatan dengan Sekolah Sa’adah el-Islamiyah, pada hari Kamis pukul 17.30 Wib bertepatan pada tanggal 20 Rabiul Akhir 1419 H/ 13 Agustus 1998 dalam usia 81 tahun. Beliau meninggalkan 16 orang anak, 60 orang cucu, dan 20 orang cicit.

Pada tahun 2019, dalam rangka hari ulang tahun Kabupaten Indragiri Hilir yang ke-54, Bupati H.M. Wardan MP menganugerahi Lencana Gemilang Award kepada almarhum KH. Abdul Hamid Sulaiman sebagai tokoh di bidang keagamaan. Penganugerahan ini sebagai bukti pengakuan sekaligus penghargaan pemerintah terhadap jasa dan perjuangan KH. Abdul Hamid Sulaiman selama beliau masih hidup. []

Arivaie Rahman
Arivaie Rahman Pegiat Tafsir dan Khazanah Nusantara; Alumnus Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta