Ustaz Ahmad Z. El-Hamdi Ustaz Milenial Tinggal di Sidoarjo

Khusrau dan Syirin (11-Tamat): Akhir Sebuah Perjalanan Cinta yang Tak Terpisahkan

4 min read

Source: https://www.arabamerica.com/12-ways-express-love-arabic/

(Disadur dari Tales from the Land of the Sufis, karya Mojdeh Bayat dan Mohammad Ali Jamnia)

Esoknya, Syirin diarak ke ibu kota kerajaan. Enam orang dayang membantunya untuk mengenakan pakaian dan meriasnya untuk sebuah perkawinan yang mewah. Seluruh warga ibukota diundang untuk menyaksikan momen persatuan luar biasa saat Syirin dan Khusrau duduk berlutut di hadapan pendeta agung. Mereka dipersatukan dalam sebuah pernikahan. Pernikahan itu dirayakan secara meriah selama berhari-hari oleh seluruh rakyat Kerajaan.

Syirin menyerahkan tahta Kerajaan Armenia kepada sahabatnya, Syapur. Ia sendiri mendampingi Khusru menjalankan roda pemerintahan sebagai penasehat yang paling bijak. Semua orang dipersilahkan mengadukan persoalannya dan mendapatkan hak-haknya secara adil. Syirin memberikan saran-saran yang paling bijak kepada suaminya. Belum pernah Kerajaan Persia menyaksikan masa kejayaan dan kemakmuran seperti itu.

Sayangnya, kebahagiaan itu bukanlah akhir dari kisah ini. Tak semua orang ikut merasa bahagian saat engkau bahagia. Bahkan, keluarga yang paling dekat dengan dirimu seringkali adalah musuhmu yang paling berbahaya.

Jika kebahagiaan Khusrau dan Syirin adalah sebuah lazuardi, awan hitam yang menyaput kebiruannya adalah Syirvieh. Syirvieh adalah putra Khusrau dari perkawinannya dengan Maria.

Sejak Syirvieh masih bocah, Khusrau telah mengkhawatirkannya karena kenakalan-kenakalannya yang tidak wajar. Karena itu, Khusrau tidak menobatkannya sebagai ahli waris kerajaannya.

Syirvieh dibakar kemarahan melihat ayahnya hidup bahagia dengan istri barunya. Sudah lama dia menaruh prasangka bahwa ayahnya sengaja membunuh ibunya. Di mata Syirvieh, kematian ibunya diakibatkan kelalaian ayahnya. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, pemuda yang dipenuhi oleh nafsu yang menggelegak ini diam-diam mengagumi kecantikan ibu tirinya dan berharap suatu saat bisa mengawininya.

Dua perasaan ini, kemarahan terhadap ayahnya dan nafsu menggelegak terhadap ibu tirinya, adalah kombinasi yang sangat menakutkan. Hanya butuh sejentikan kuku kombinasi ini akan melahirkan malapetaka.

Diam-diam Syirvieh membangun kekuatan di istana. Dia menyuap beberapa penjabat istana untuk bersekutu dengan dengannya. Para pejabat ini diberi janji kekayaan dan kekuasaan jika kelak dia menjadi raja.

Entah dari mana dia belajar politik hingga tindakan-tindakannya persis yang dilakukan para politisi dalam mendapatkan dukungan rakyat. Dia turun ke masyarakat menemui orang-orang.

Baca Juga  Rahasia Agar Do'a Cepat Terkabulkan

Dia bahkan rela jagongan dengan rakyat biasa untuk memberi kesan bahwa dia adalah calon pemimpin yang merakyat. Sebuah tindakan yang nyaris tidak pernah dilakukannya selama ini.

Syirvieh yang hidupnya hanya berfoya-foya sama sekali tidak tahu apa kesulitan-kesulitan yang dialami rakyat. Bahkan dia tidak mau tahu masalah rakyat. Tapi dia harus membangun reputasi yang baik di depan rakyat. Pencitraanlah pokoknya. Di depan rakyat dia mengatakan bahwa dialah yang selama ini membela kepentingan rakyat di istana.

Usaha yang dilakukan Syirvieh ini lambat laun membuahkan hasil. Rakyat percaya bahwa Syirvieh adalah pemimpin masa depan yang bisa memberi kemakmuran rakyat dan menegakkan keadilan.

Sesudah semuanya tertata rapi, kini saatnya bertindak. Bersama dengan kekuatan yang sudah tergalang rapi, dia menangkap Raja dan permaisuranya yang tak lain adalah ayahnya dan ibu tirinya untuk dijebloskan ke dalam penjara. Kini, Raja Persia adalah Syirvieh.

Betapa mudahnya Syirvieh merebut tahta kerajaan dari Khusrau. Apakah Syirvieh lebih hebat dari Bahram? Sama sekali tidak. Itu karena Khusrau sama sekali tidak berusaha untuk merebut tahtanya kembali. Bersama Syirin, Khusrau hidup bahagia dalam kamar sempit yang membatasi gerak-geriknya.

Melihat kebahagiaan ayah dan ibu tirinya, kemarahan Syirvieh semakin mendidih. Semula dia menduga bahwa Syirin tetap ingin menjadi ratu sehingga Syirin akan datang kepadanya. Namun dugaan ini keliru. Syirin setia dan hidup bahagia bersama ayahnya.

Dibakar oleh nafsunya kepada Syirin, Syirvieh semakin marah kepada ayahnya. Dia tidak rela Syirin berada dalam rangkulan dan pelukan ayahnya. Kemarahan ini tidak mungkin dipuasi kecuali dengan tindakan yang paling jauh.

Saat itu tengah malam. Seluruh penghuni istana tidur di peraduannya masing-masing kecuali penjaga di pintu gerbang luar. Purnama di luar semakin membuat malam itu terasa senyap.

Sambil mengendap-endap, Syirvieh mendatangi penjara di mana Khusrau dan Syirin disekap. Melihat ayah dan ibu tirinya tidur besisihan dalam kebahagiaan dan kedamaian, ia tidak tahan. Ia pandangi wajah ayahnya beberapa saat. Ia tidak bisa melukiskan apa sebetulnya yang ada di balik kedamaian wajah itu.

Baca Juga  Ingin Disayangi Banyak Orang, Berikut Doa dari Nabi Khidir AS

Dengan kemarahan yang dingin, ia menghunus belatinya dan menancapkan tepat di ulu hati ayahnya. Ia segera berlari meninggalkan ruangan itu.

Khusrau terbangun tak berdaya dan merasakan sakit yang luar biasa di ulu hatinya. Ia tahu ia sedang sekarat. Sekuat tenaga dia tidak bergerak dan bersuara. Dia khawatir membangunkan istrinya yang tertidur pulas di sampingnya.

Syirin baru terbangun ketika kulit tubuhnya merasakan basah. Itu adalah aliran darah yang mengalir deras dari dada suaminya. Ia menoleh ke arah suaminya, ia tahu bahwa suaminya, kekasihnya, telah tiada.

Di luar, mendung pekat tiba-tiba menutup purnama. Hembusan angin terasa begitu dingin memasuki celah-celah dinding penjara. Alam terasa begitu sunyi. Syirin terjatuh ke dalam sumur gelap yang tak berdasar. Gelap, sunyi, sepi, tak bertepi.

Tidak sulit bagi Syirin untuk tahu siapa pembunuh kekasihnya. Tapi dia diam saja. Dia tidak mengatakan apapun kepada siapapun. Dia tidak berbicara apapun kecuali mengikuti kehendak sang Raja Syirvieh.

Di mata umum, Syirin tampak tenang dan pasrah terhadap apa yang telah menimpa suaminya. Bahkan lamaran Syirvieh pun tidak ditolaknya. Penghuni istana dan masyarakat umum melihat bahwa Syirin pada dasarnya ingin tetap menjadi seorang ratu.

Syirvieh memang telah melamarnya bahkan ketika jasad ayahnya belum juga dimakamkan. Saat  menerima lamaran Syirvieh, Syirin tidak meminta apapun kecuali diberi waktu sendiri saat upacara pemakan Khusrau.

Diam-diam Syirin menyedekahkan seluruh harta benda yang dimilikinya kepada orang-orang miskin. Bahkan seluruh pakaiannya disedekahkan kepada perempuan-perempuan fakir yang membutuhkan. Dia kini tidak memiliki apapun kecuali satu stel pakaian terbaik dan berlian yang akan dikenakannya untuk upacara pemakaman suaminya.

Di hari saat ia bergabung dengan rombongan wanita mengiringi jasad Khusrau yang diarak menuju ke tempat pemakaman, dia mengenakan pakaian terindahnya dan berliannya itu. Semua mata terkesima akan kecantikannya.

Syirin memang cantik, tapi tak pernah ia tampak semolek ini. Tak pernah ia berdandan dengan kemewahan dan kecantikan yang begitu mencolok mata. Orang-orang terpesona sekaligus mencibir karena tak sepatutnya seorang janda mengiringi jenazah suaminya yang hendak dikuburkan dengan dandanan seperti itu.

Baca Juga  Manusia, Mahluk yang Suka Tergesa-gesa Ketika Berdoa (Tafsir Surah Al-Isra: 11)

Apalagi, sepanjang perjalanan menuju makam, Syirin tampak riang dan menari. Semua orang menebak-nebak di dalam hati, mungkin dia sudah gila. Tapi mungkin juga dia sedang bahagia. Toh tidak sedikit perempuan yang bahagia ditinggal mati suaminya. Apalagi dia setelah ini tetap menjadi ratu karena sudah dipersunting Syirvieh.

Ketika jasad Khusrau sudah sampai di ruang pemakaman dan seluruh prosesi sudah dilakukan, Syirin meminta ijin untuk diberi waktu sendiri agar bisa leluasa memberi hormat dan mengucapkan selamat tinggal untuk terakhir kalinya kepada suaminya. Semua orang keluar, tinggal Syirin seorang diri. Tidak ada yang berani membantah karena itulah permintaan Syirin saat ia mengatakan ‘ya’ pada lamaran Syirvieh.

Ketika semua orang sudah meninggalkan ruang pemakaman, tinggal Syirin dan jasad Khusrau yang membujur kaku. Ditatapnya lekat-lekat mata kekasihnya yang tertutup. Ia berdiri dengan tenang dan khidmat di sisi jasad kekasihnya. Dengan pelan ia membungkuk dan mencium bibir kekasihnya yang membeku.

Dengan perlahan pula dia berdiri kembali. Kembali dia menatap wajah kekasihnya dengan ketenangan yang senyap. Matahari di langit seakan berhenti bergeser. Entah ke mana suara burung-burung. Alam seakan berhenti, menunggu momen agung yang mungkin akan segera terjadi.

Dengan ketenangan yang luar biasa, Syirin mengambil sesuatu dari balik gaunnya. Dengan mata tertutup, tanpa ada keraguan sedikit pun, Syirin menusukkan belati tepat di jantungnya. Tubuhnya ambruk di atas jasad kekasihnya.

Darahnya membasahi jasad Khusrau yang seakan penuh suka cita berada dalam baluran darah istrinya. Saat sakaratul maut, Syirin meletakkan kepalanya di dada kekasihnya.

Ia mati dengan seulas senyum yang tersungging di bibirnya. Keagungan apa yang diharapkan oleh setiap pecinta selain melabuhkan diri dalam dekapan kekasih?

Kesatuan dengan sang Kekasih adalah keindahan cinta yang layak diperjuangkan dengan air mata darah. Seorang pecinta tahu bahwa tangisan hati dan pengalaman kematian dirilah yang membuatnya dapat bertemu Kekasih

TAMAT...

Ustaz Ahmad Z. El-Hamdi Ustaz Milenial Tinggal di Sidoarjo

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *