Moh Syaiful Bahri Mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Pelan-Pelan Asal Selamat dalam Menjalani Kehidupan

2 min read

Di antara mudik lebaran kemarin, ada seberkas semangat serta oleh-oleh kangen dari kota pada kampung halaman. Bagi sebagian orang, kampung halaman bukan sebatas tempat, ruang dan bangunan masa kecil. Di sana ada cinta dan rindu tumbuh tidak seperti biasanya.

Jarak bukan satu-satunya alasan untuk tidak kembali pada potongan-potongan cinta masa kecil. Lebaran, lebih tepatnya adalah pertukaran kasih sayang antara satu dengan lainnya. Momentum semacam ini cukup langka bagi perantau. Anak rantau tidak hanya disuguhi beranekaragam dinamika yang ada di desa. Lebih dari itu, ia akan diteror berbagai macam pertanyaan tentang dinamika hidup di tanah rantau.

Lebih-lebih, akan dinilai sukses bilamana mampu mengendarai mobil keren dan seperangkat materi lain yang tidak kalah mewah. Bisa membangun rumah orang tua, misal. Hal-hal semacam ini bukan keliru, apalagi salah total. Tidak. Hanya saja, tidak semua perantau berada di posisi sama. Sukses secara materi. Jadi, berilah ruang bagi orang-orang untuk memaknai sukses dengan caranya endiri. Tidak semua disamakan. Itu adil bukan?

Pasca lebaran, di kampung saya ramai dengan acara halal bi halal. Yang konon tradisi ini lumrah dilaksanakan di Indonesia sejak dulu. Belakangan istilah halal bi halal dikenal dengan open house, di mana sebuah rumah atau instansi mengundang orang untuk bersilaturrahim. Pada acara halal bi halal inilah orang-orang kampung mempererat tali kekeluargaan dan mempertajam hubungan sesama manusia.

Sampai di sini, saya ingat betul perkataan guru ngaji di kampung. Tempo hari ia berkata, “pelan-pelan asal selamat, nak!” Sepertinya kata-kata ini tidak serta merta jatuh dari langit. Tetapi ada dinamika hidup yang panjang sebagai perenungan orang desa. Lebih-lebih yang sudah merasakan asam manis hidup di sebuah pedesaan. Apalagi hari ini sudah tipis perbedaan antara orang kota dan desa. Untuk tidak mengatakan tak ada bedanya: orang kota sudah meniru hidup orang desa, sebaliknya orang desa menyulap diri menjadi orang kota.

Baca Juga  Tradisi Beragama dalam Peradaban Planetari

Kembali pada topik di awal, bagaimana orang desa memaknai hidup, lebih-lebih kehidupan masyarakat di desa saya. Nilai-nilai dan norma di tengah-tengah masyarakat mulai bergeser sedikit demi sedikit. Mulai dari budaya gotong royong yang mulai retak, individualisme hampir ditempatkan pada posisi pertama sampai pada model keberagamaan yang pragmatis. Poin terakhir inilah yang akan saya bicarakan di sini.

Pertama,  Halal bi halal atau open house harus melahirkan spirit kepedulian kepada orang lain. Sisa-sisa ibadah puasa wajib dilanjutkan pada bulan-bulan setelahnya. Seperti kepekaan sosial dan rasa kemanusiaan dijunjung tinggi. Pantang pamer kekayaan semacam keluarga pejabat yang viral beberapa pekan lalu. Orang desa lebih mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan, kekeluargaan dan transaksi kebaikan ini diperlihara dengan membantu satu sama lain. Jika tidak, ada semacam dosa kemanusiaan yang sebenarnya tidak diperbolehkan dalam Islam.

Islam cukup serius menaruh perhatian pada dimensi kemanusiaan. Lihat saja misalnya, sedekah bagi yang berada, membayar zakat mal dan berbagi bukan perkara harta benda “materi” saja, bisa juga berbagi lewat ide, gagasan dan kebaikan lain. Guyub rukun semacam ini bagian dari kedalaman beragama orang-orang desa yang sudah lama berjalan. Ini penting dipupuk dan dijaga sebagai warisan kehidupan yang harmonis. Terlebih sikap beragama kita harus dewasa. Kedewasaan beragama lahir dari pemaknaan atas agama yang dalam.

Kedua, halal bi halal adalah kebersamaan untuk membangun pribadi yang cerdas dan peka pada kondisi sosial. Tidak cukup hanya berhenti pada kepedulian, di dalamnya perlu kebersamaan untuk saling memikul satu sama lain. Semacam kasus di atas, ketika individu atau kelompok memiliki kekayaan lebih tidak hanya dinikmati sendiri, melainkan diberikan pada yang lain. Memberikan ruang untuk kebangkitan kelompok lain adalah jalan menuju keselamatan.

Baca Juga  Komodifikasi Agama: Menavigasi Tantangan Komodifikasi Islam

Sebagaimana klausa “pelan-pelan asal selamat”, jalani hidup dengan pelan, bukan lambat. Pelan di sini artinya jeda untuk berpikir, mengkaji ulang dan berhati-hati setiap gerak langkah kita. Buru-buru memang kurang baik untuk kesehatan mental dan keselamatan, baik di dunia lebih-lebih kelak di akhirat.

 

Moh Syaiful Bahri Mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta