Puasa yang Mentransformasi
Berpuasa di bulan Ramadan hakekatnya melakukan perjalanan/pendakian menuju pertemuan spiritual dengan sang Khaliq (farhatun inda liqai rabbih). Amaliah Ramadan yang dilakukan adalah bagian dari anak tangga menuju puncak.
Berpuasa di bulan Ramadan hakekatnya melakukan perjalanan/pendakian menuju pertemuan spiritual dengan sang Khaliq (farhatun inda liqai rabbih). Amaliah Ramadan yang dilakukan adalah bagian dari anak tangga menuju puncak.


Suatu hari ada seorang Arab Badui (pedalaman) yang datang menghadap Al-Mu’tashim. Arab badui tersebut selalu berada dekat dengannya hingga Al-Mu’tashim menjadikannya sebagai sahabat dekatnya. Dia dapat masuk ke dalam istana Al Mu’tashim dengan leluasa, tanpa harus meminta ijin. Al Mu’tashim mempunyai seorang menteri yang memiliki sifat dengki. Menteri itu ingin sekali membuat tipu daya pada […]


Kesatuan dengan sang Kekasih adalah keindahan cinta yang layak diperjuangkan dengan air mata darah. Seorang pecinta tahu bahwa tangisan hati dan pengalaman kematian dirilah yang membuatnya dapat bertemu Kekasih


Cinta tak pernah bersatu jika para pecinta tidak bisa keluar dari ego masing-masing. Cinta itu serakah. Cinta tidak akan memberikan apapun kepadamu jika kamu tidak memberikan segala yang kamu miliki, bahkan dirimu, egomu.


Di atas pahatan wajah kekasihnya, Farhad menghembuskan nafas terakhirnya. “Kulepaskan diriku dari nalar, lalu kumulai kegilaan cinta ini dengan ratap dan tangis untuk bersatu”.


Setiap orang pasti dapat berada sedekat mungkin dengan Tuhan, karena sesungguhnya setiap manusia memiliki potensi untuk mencari dan menempuh jalan menuju perjumpaan dengan Tuhan.


Aksi prank saat ini umumnya dianggap menjadi hal yang negatif karena sikap yang keterlaluan dan berlebihan tanpa mempertimbangkan sejauh mana reaksi si korban.


"Dengan cinta si lemah dikuatkan, dengan cinta pula si kuat dibuat tak berdaya” .


Cinta memang tak pernah bisa ditundukkan oleh akal. Cinta memiliki aturannya sendiri. Sekali cinta mengatakan ‘ya’, seribu kali akal mengatakan ‘tidak’, cinta tidak pernah memedulikannya.


"Saat kautemui kekasihmu, akankah kauciumi bajunya?" Apakah kita menemui bajunya, jepit rambutnya, sepatunya, dan aksesori-aksesorinya? Tentu saja tidak, kan? Sebab kita sedang menemui yang terbungkus di dalamnya, si pemakai baju.

