Pluralisme Gus Dur dan Urgensinya Terhadap Hubungan Antar Agama di Indonesia (1)
Dalam kaca mata Gus Dur, pluralisme merupakan sebuah pandangan yang menghargai dan mengakui adanya keragaman identitas, seperti suku, agama, ras dan lainnya.
Dalam kaca mata Gus Dur, pluralisme merupakan sebuah pandangan yang menghargai dan mengakui adanya keragaman identitas, seperti suku, agama, ras dan lainnya.

Upaya pribumisasi Islam harus dilakukan oleh seluruh komponen masyarakat, agar proses arabisasi tidak semakin massif dan menimbulkan keresahan

Pemahaman Nash tekstualis cenderung melahirkan sikap ekslusif dan ekstremis, dan melahirkan kaum beragama yang primitif.

Saripati dari pemikiran kebangsaan Gus Dur terkait paham kebangsaan NU adalah warisan pemikiran ini bersumber pada ajaran Islam.

Penunjukan bung Karno oleh Kyai Hasyim Asy’ari itu merupakan bukti profesionalitas Nahdlatul Ulama’, yang dinahkodai oleh Kyai Hasyim tersebut tidak memikirkan kepentingan NU lebih dari kepentingan bangsa.

Pribumisasi sebagai perspektif berarti memandang kehadiran (agama) Islam dengan praktik kebudayaan masyarakat sebagai sesuatu yang kontekstual dan sama-sama memiliki arti penting.

pemikiran pribumisasi Gus Dur memandang Islam sebagai jalan hidup (syariat) yang bisa saling belajar dari berbagai ideologi agama-agama lain, termasuk juga ideologi non-agama seperti praktik kebudayaan.

Menurut Najjar ada dua bahasan khusus mengenai humanisme. Pertama penghargaan terhadap manusia. Kedua mengenai pemeliharaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Bagi Gus Dur Islam tidak seharusnya menolak humanisme secara mutlak namun juga tidak menelan mentah-mentah

Setahu saya, yang mengangkatnya sebagai "Imam Besar Umat Islam" hanya organisasi yang dia pimpin saja. Tidak lebih dan tidak kurang. Jumlah anggotanya pun sama sekali tidak merepresentasikan ratusan juta umat Islam dalam naungan puluhan organisasi keislaman
