Israel, “Etno-Demokrasi,” dan Paradoks Modernitas (3)
Simpati pendukung Palestina dipicu oleh hal sederhana: hipokrisi Israel dalam perlakuannya yang diskriminatif terhadap warga Palestina di Israel sendiri.
Simpati pendukung Palestina dipicu oleh hal sederhana: hipokrisi Israel dalam perlakuannya yang diskriminatif terhadap warga Palestina di Israel sendiri.

Sebelumnya: Israel, “Etno-Demokrasi,” … (1) Dalam sebuah debat yang berlangsung di Oxford Union yang berlangsung pada 28 November 2005, Alan Dershowitz, seorang profesor hukum di Universitas Harvard dan pembela gigih Israel (untuk ini ia menulis buku “A Case for Israel”), membela Israel dengah penuh semangat. Bunyi pembelaan Dershowitz kira-kira demikian: “Israel adalah satu-satunya negeri yang […]

Di hadapan Israel, Palestina saat ini adalah “cicak super kecil” di hadapan buaya raksasa.

Untuk menjadi Jawa, tidak perlu rasis. Untuk menjadi muslim, tidak usah fasis. Biasa saja. Urip mung sakmadyo!

Dalam kesadaran bahwa tidak mudik di masa pandemi adalah pilihan yang sulit. Seperti kita semua tahu, memang, di dunia ini kita tidak hanya dihadapkan kepada pilihan-pilihan yang mudah

Menjadi sangat penting artinya untuk mencari pemikiran-pemikiran baru tentang penyelesaian sengketa Israel – Palestina.

Dalam narasi pertahanan diri, ada kesalahan cara berpikir yang fatal yaitu ekualisasi atau penyamaan kekerasan.

Kenapa para antropolog ini marah? Alasannya jelas: ekualisasi, menyamakan antara dua tindakan kekerasan yang secara kategoris berbeda.

Hati nurani perlu diasah agar mampu menjadikan seseorang menjadi individu yang menjunjung tinggi nilai moral. Salah satu caranya ialah dengan mendengarkan nilai-nilai kebajikan baik yang bersumber dari agama atau budaya setempat.

Fatmawati, ibu negara pertama yang juga dikenal sebagai penjahit bendera Sang Saka Merah Putih, pada jari dan sentuhan tangannya yang lembut itu pertama kali bendera merah-putih berkibar gagah. Seorang perempuan cantik putri seorang aktifis Muhammadiyah dari Bengkulu.
