Evi Fatimatur Rusydiyah Wakil Dekan I Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Ampel Surabaya; Founder KKN Literasi; Konsultan Partnership Inovasi Australia-Indonesia pada bidang Literasi.

Peran Orang Tua dalam Menumbuhkan Gemar Membaca Anak Indonesia di Tengah Pandemi Covid-19

2 min read

https://pijarpsikologi.org/membaca-buku-bersama-alternatif-kegiatan-edukatif-untuk-orang-tua-dan-anak-selama-pandemi/

Hasil PISA (Programme for International Student Assessment) menunjukan bahwa prestasi Indonesia dalam membaca semakin menurun. Lembaga survey tersebut dibentuk oleh OEDC (Organization for Economic Co-operation and Developmet). Mereka me-release hasil survey dalam kurun waktu 3 tahunan. PISA memiliki asumsi bahwa tiga tahun merupakan masa perkembangan anak yang dapat diukur kemampuannya. Demikian juga evaluasi program, dapat dilakukan pasca 3 tahun berjalan.

Indonesia mulai mengikuti survey PISA pada tahun 2000. Selama kurun waktu 2000-2018 Indonesia mengalami pasang surut, naik-turun. Survey yang dilakukan pada tahun 2000, Indonesia berada di peringkat 39 dari 41 negara. Pada tahun 2003, Indonesia naik ke peringkat 29 dari 41 negara. Tahun 2009  Indonesia terjun ke urutan 57 dari 67 negara. Kemudian pada tahun 2012, Indonesia semakin terjungkal ke urutan 65 dari 67 negara. Pada tahun 2015 Indonesia berada pada urutan ke 66 dari 77 negara. Dan pada tahun 2018 Indonesia kembali bertengger di papan bawah di urutan 74 dari 79 negara.

Indonesia tidak diam dalam menerima potret PISA tersebut. Perubahan Kurikulum Nasional menjadi Kurikulum 2013 merupakan bukti kongkrit Negara Indonesia berupaya keras menaikkan prestasinya. Indonesia tidak hanya punya kepentingan dalam mengejar digit angka PISA, namun yang lebih penting adalah human develop index masyarakat Indonesia. Dengan membaca, masyarakat Indonesia dapat meningkatkan human develop index-nya. Perang dalam melawan buta huruf digalakkan. Dengan melek huruf, masyarakat Indonesia dapat membaca. Dengan membaca, mereka dapat membuka jendela dunia. Dengan demikian Indonesia akan menjadi masyarakat yang well-educated dan masyarakat yang beradab.

Kebijakan kurikurulum 2013 tersebut juga disertai kebijakan-kebijakan yang lain. Diantaranya, kebijakan  presiden melalui Perpres No. 87 tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan karakter. Dalam perpres tersebut terdapat 18 karakter, yaitu nilai-nilai religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggung jawab.

Baca Juga  Saat Kenangan Lebih Penting dari Keselamatan Bangsa: Catatan Penutupan McD Sarinah

Gemar membaca menjadi pesan dalam perpres tersebut. Hal ini bermakna bahwa Indonesia sangat sadar bahwa pembentukan karakter Indonesia dapat dilakukan dengan budaya baca melalui masyarakat yang gemar membaca. Upaya-upaya penumbuhan karakter tersebut tidak hanya dilakukan melalui pendidikan formal tetapi juga non fomal dan informal.

Dalam konteks Pendidikan informal, penumbuhan karakter gemar membaca dapat dilakukan dalam keluarga dan lingkungan. Keluarga memiliki peran yang cukup besar dalam menumbuhkan karakter anak. Terutama pada saat pandemi Covid-19 ini. Melalui kerja di rumah, belajar di rumah, dan beribadah di rumah, keluarga memiliki peran sentral dalam menumbuhkan karakter sebagaimana yang dipesankan oleh Perpres tersebut.

Melalui budaya keluarga, anak memiliki role model dalam bertindak dan berprilaku.  Karena saat ini, keluarga menjadi satu-satunya kelas untuk belajar. Meskipun dalam Covid-19 pelajar masih memiliki kelas daring, namun kelas daring yang mereka ikuti tersebut dalam posisi bersama keluarga sebagai pendamping.

Demikian juga budaya membaca. Saat pandemi Covid-19 ini, keluarga seyogyanya menggalakkan gemar membaca dalam internal keluarga mereka. Problem kelurga Indonesia saat ini adalah orang tua sering  “tergopoh-gopoh” jika melihat anaknya yang kurang mampu membaca. Akhirnya mereka mendatangkan guru les privat atau minta tambahan jam pelajaran kepada gurunya. Hal tersebut sesungguhnya baik, namun sayangnya mereka belum sadar setelah anak-anak mereka telah mampu membaca para orang tua tidak membawa kemampuan anak-anaknya sampai kepada pemahaman membaca, namun hanya sampai pada kemampuan mekanik.

Orang tua merasa puas setelah melihat anak-anaknya dapat membaca dengan lancar (mekanik) tanpa mengecek sampai pada level comprehension. Hal ini penting karena survey PISA dalam literasi adalah kemampuan baca dalam hal comprehension (kemampuan memahami bacaan).

Baca Juga  Mendamaikan Agama dan Sains: Belajar dari Pandemi “Maut Hitam”

Kemampuan membaca secara komprehensif sesungguhnya telah disiratkan dalam surah al-‘Alaq ayat 1-5. Ayat tersebut adalah ayat yang pertama kali turun sebagai wahyu dari Allah kepada Nabi Muhammad.

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ

اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَم

الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ

عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَالَمْ يَعْلَمْ

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan (1) Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah (2) Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah (3) yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam (4) Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (5)”. (QS. Al-‘Alaq [ 96 ] : 1-5)

Ayat tersebut menyiratkan bahwa kemampuan membaca tidak hanya pada konteks mekanik, namun juga pada konteks pemahaman. Ayat kelima sangat jelas menyiratkan bahwa dengan membaca, Allah akan memahamkan manusia yang belum memahami.

Dengan demikian, di musim pandemi Covid-19 ini perlu menciptakan quality time (F-Time) bersama keluarga dalam menumbuhkan karakter anak, terutama karakter membaca. Orang tua perlu meningkatkan kesadaran bahwa kemampuan membaca tidak hanya bersifat mekanik (cepat dan lancar), namun juga membaca secara komperehensif (membaca pemahaman). Dengan semangat ini, kita akan bersama-sama meningkatkan human development index masyarakat Indonesia melalui keluarga, dan secara otomatis akan meningkatkan prestasi PISA untuk Indonesia pada tahun 2021 mendatang. Bismillah, Insya Allah.. [FYI]

Evi Fatimatur Rusydiyah Wakil Dekan I Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Ampel Surabaya; Founder KKN Literasi; Konsultan Partnership Inovasi Australia-Indonesia pada bidang Literasi.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *