KH. Imam Jazuli, Lc., M.A Pengasuh PP Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat RMI; PBNU Periode 2010-2015; Alumnus Universitas Al-Azhar Mesir; UKM Malaysia; Universiti Malaya.

Gus Awis: Mutiara Terpendam dan Teladan Generasi NU Milenial

4 min read

Gus Awis dengan KH. Miftachul Akhyar (Rais ‘Aam PBNU 2018-2020)

Peneliti kitab kuning asal Belanda Martin van Bruinessen pada tahun 1990-an, berpendapat, bahwa Ulama Nusantara, khususnya yang berasal dari Indonesia pernah menjadi kiblat keilmuan Islam di negeri Arab (Hijaz) sekitar abad 18 sampai akhir abad 19.

Reputasi itu didapatkan, karena karya-karya mereka yang berbahasa Arab menjadi rujukan ulama dunia. Beberapa diantaranya adalah Syaikh Imam Nawawi Al-Bantani, Syaikh Khatib Minangkabawi, Syaikh Mahfud At-Tarmasi, Syaikh Junaid Al-Batawi, Syaikh Hasyim Asy’ari Al-Jawi dan lain sebagaianya.

Bahkan Christiaan Snouck Hurgronje, seorang orientalis terkemuka asal Belanda, menulis Mecca in the Latter Part of 19th Century dan mencatat, bahwa ulama-ulama Nusantara kerap menjadi Imam besar dan Mufti Masjidil Haram.

Tradisi menulis dalam bahasa Arab tidak berakhir sampai awal abad ke-20, atau era perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, namun terus berlanjut, tetapi dari segi kuantitasnya amat sedikit.

Karena belakangan, pengaruh dari kalangan ulama modernis atau reformis begitu masif, sehingga kiai-kiai lebih senang menulis dalam bahasa Indonesia, dan sebagian masih mempertahanknya dengan menggunakan Arab pegon, dan yang sedikit itu, DR. KH. M. Afifudin Dimyathi, LC, MA, atau biasa dipanggil Gus Awis, termasuk yang mempertahankan tradisi ulama Nusantara, menulis dengan bahasa Arab di era melenial ini.

Beliau lahir di Jombang, Jawa Timur 7 Mei 1979. Nasabnya dari jalur ayah, Gus Awis adalah putra Kiai Dimyati bin Kiai Romli At-Tamimi. Kiai Romli At-Tamim adalah seorang Mursyid (Guru) Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah, yang jalur kememursyidannya sampai ke Sulton Auliya’ Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani hingga Nabi Muhammad Saw., sementara dari jalur ibu, Gus Awis merupakan cucu dari Kiai Ahmad Marzuki Zahid Langitan yang nasabnya sampai ke Sunan Bonang, Tuban.

Gus Awis, Kiai-Muda yang santun ini menyelesaikan pendidikan dasarnya di Madrasah Ibtida’iyah Negeri Rejoso Jombang (lulus tahun 1991); Kemudian Madrasah Tsanawiyah Progam Khusus Darul ‘Ulum Rejoso Peterongan (lulus tahun 1994); Lalu Madrasah Aliyah Keagamaan Negeri (MAKN) Jember (lulus tahun 1997); belajar dan menghafal Al-Qur’an di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran Ngaglik Sleman Yogyakarta yang diasuh oleh K.H Mufid Mas’ud sampai tahun 1998.

Baca Juga  Mengenal Ki Ageng Suryomentaram, Filsuf Tanah Jawa

Setelah lulus dari MAKN, beliau meneruskan Pendidikan S-1 di al Azhar University Mesir, pada Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir dan Ilmu al-Qur’an mulai tahun 1998-2002.

Pada tahun 2002 beliau melanjutkan pendidikan S2 di Khartoum International Institute for Arabic Language di kota Khartoum Sudan dan Lulus tahun 2004 dengan predikat Cum Laude. Berbekal prestasi lulusan S2 terbaik tingkat Asia, pada tahun yang sama beliau meneruskan pendidikan S3 di al Neelain University jurusan Tarbiyah Konsentrasi Kurikulum dan Metodologi Pengajaran Bahasa Arab dan selesai tahun 2007.

Selain itu, sejak tahun 2006 beliau sudah aktif sebagai dosen di Prodi Pendidikan Bahasa Arab, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Ampel Surabaya dengan mengampu mata kuliah kebahasaan dan tafsir.

Mulai tahun 2007, beliau juga turut mengajar di Pascasarjana UIN Sunan Ampel dan UIN Maulana Malik Ibrahim dengan mengampu mata kuliah spesialisasi Linguistik, Sosio-Linguistik, Semantik dan Leksikologi, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab dan Pengembangan Materi Ajar Bahasa Arab.

Beliau juga ikut berpartisipasi sebagai pengajar di Program Pascasarjana di IAIN Tulungagung, IAIN Jember, dan IAI Dalwa Bangil Pasuruan dengan materi bidang kebahasan dan tafsir.

Karya yang pernah ditulis diantaranya adalah Muhādarah fī ‘Ilm al-Lughah al-Ijtimā‘ī (Dār ‘Ulūm al-Lughawīyah, Surabaya, 2010), Sosiolinguistik (UINSA Press, 2013), Mawārid al-Bayān fī ‘Ulūm al Qur’ān (Lisan Arabi, 2014), Safā’ al-Lisān fī I‘rāb al-Qur’ān (Lisan Arabi, 2015), al-Syāmil fī Balāghat al-Qur’ān (3 jilid, 2019), Irsyād al-Dārisīn ilā Ijmā’ al-Mufassirīn, ‘Ilm al-Tafsīr: Usūluh wa Manāhijuh (Lisan Arabi, 2019), dan Jam’ al-‘Abīr fī Kutub al-Tafsīr (2 jilid, Lisan Arabi, 2019).

Selain diterbitan oleh Lisanul Arabi di Indonesia, buku-buku tersebut juga diterbitkan di Mesir oleh Penerbit Dār al-Sālih dan Darun Nibros, serta beberapa artikel di jurnal-jurnal berbahasa Arab di Indonesia, di antaranya Jurnal el Jadid dan Jurnal Lingua UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Baca Juga  Mengulas Tahafut al-Falasifah Karya al-Ghazali  

Pada beberapa kesempatan beliau menyampaikan, bahwa motivasi terbesarnya dalam menulis adalah perjuangan para ulama terdahulu dalam mengabadikan ilmu.

Sebuah ilmu adalah amanah yang harus disampaikan kepada umat dan salah satu caranya adalah dengan menulis. Sebagai penulis yang produktif, beliau mengatakan bahwa ide adalah sebuah amanah dari Allah. Maka dari itu setiap mendapat ide tulisan, beliau akan mencatatnya dan berniat untuk menuangkan ide-ide tersebut dalam bentuk kitab.

Beliau menganggap bahwa hal ini adalah bukti bahwa setiap buku ada pembacanya, setiap buku pasti ada pencarinya.

Dua bukunya yang fenomenal adalah al-Syāmil fī Balāghat al-Qur’ān dan Jam’ al-‘Abīr fī Kutub al-Tafsīr. Karya ini dibaca oleh Mahasiswa yang sedang belajar di Al-Azhar Mesir.

Buku al-Syāmil membahas nilai kesusastraan Alquran lengkap mulai dari al-Fātihah hingga al-Nās, dan mengungkapkan beberapa faktor yang membuat Alquran lebih istimewa dibanding kitab suci lainnya. Faktor-faktor tersebut, terangkum dalam uslūb balāghah di kitab tiga jilid yang ia tulis. Pertama, isti’ārah yang berarti keserasian makna. Alquran jika diperhatikan menggunakan pemilihan kata yang unik sehingga berbeda dengan bahasa buku atau kitab suci lain.

Selanjutnya, tartīb yakni ketertiban urutan kalimat yang disusun dalam Alquran.

Susunan yang rinci dan rapi ini membuat ayat Alquran mudah dicerna. Hal terakhir yang ia sebutkan ialah i’jāz yang berhubungan dengan pemaknaan.

Dalam Alquran, walau lafalnya singkat, pemaknaannya bisa sangat luas. Tentu masih banyak uslūb balāghah lainnya. Untuk mendapatkan makna Alquran baik tersirat mauput tersurat, tidak bisa tidak, maka pintu masuk pemahaman awalnya di antaranya adalah dengan membaca kandungan balaghahnya. Buku ini dengan amat rinci menjelaskannya kata perkata, kalimat perkalimat dan ayat perayat.

Baca Juga  Obituari: Habib Ja’far Ali Baharun, Sang Teladan Karismatik

Sementara kitab Jam’ al-‘Abīr fī Kutub al-Tafsīr menjelaskan metode penulisan lebih dari 440 kitab tafsir sepanjang sejarah Islam, secara berurutan mulai mufassir zaman sahabat sampai mufassir abad 15 hijriah.

Kitab ini juga mengkaji sejumlah kitab tafsir berbagai aliran yakni Ahlussunnah, Syiah, Muktazilah, Khawarij, bahkan sufi dan batiniyah. Dalam Jam’ al-‘Abīr fī Kutub al-Tafsīr, kitab-kitab tafsir dunia juga diurutkan sesuai tahun meninggalnya mufassir.

Ini sangat membantu dalam rangka mengetahui perkembangan studi tafsir sepanjang sejarah Islam.

Dari 440 kitab tafsir yang dibahas, sebagian besar mengenalkan tafsir-tafsir karya ulama Nusantara, dan Asia Tenggara ke dunia Islam.

Tentu saja ini sangat menarik, karena dengan mambaca karya ini, harapannya agar pakar-pakar tafsir di Timur Tengah kontemporer setelah membaca kitab ini bisa mengenal Syekh Abdur Rauf al-Sinkili, Kiai Shalih Darat, Kiai Bisri Musthofa, Kiai Misbah Musthofa, Syekh Muhammad Said bin Umar al Malaysia, KH Ahmad Sanusi, Syekh Ahmad Shonhaji as-Singapuri dan nama lain, serta mengetahui tafsir yang mereka persembahkan untuk umat Islam di Asia Tenggara.

Kelebihan lain ini juga menampilkan berbagai kitab tafsir dari berbagai bahasa di dunia. Dari mulai Arab, Inggris, Prancis, Urdu, Parsi, Melayu, Indonesia, Jawa, Sunda dan sebagainya.

Dengan karyanya yang begitu banyak, bahkan dicetak di Mesir, negeri yang dikenal dengan menara ilmu Islam dan digunakan di almameternya, termasuk di Universitas al-Azhar dan Universitas Khartoum, Sudan, maka beliau layak dianggap penerus ulama Nusantara di Hijaz (Jazirah Arab).

Maka tidaklah berlebihan bila penulis mengatakan “Gus Awis termasuk mutiara NU yang terpendam”, patut dibanggakan dan layak dijadikan teladan generasi NU milenial. [MZ]

Artikel ini pertama kali terbit di tribunnews.com

KH. Imam Jazuli, Lc., M.A Pengasuh PP Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat RMI; PBNU Periode 2010-2015; Alumnus Universitas Al-Azhar Mesir; UKM Malaysia; Universiti Malaya.